Feeds:
Posts
Comments

>>tesla manaf, tesla manaf (moonjune records, 2015)

di lanskap musik yang sudah telanjur menjadi tempat berkerumun aneka hal yang biasa-biasa saja, jika bukan monoton, perbedaan selalu datang dari mereka yang mau menyebal, berani menghadapi risiko. keluar dari barisan, menempuh jalur berbeda, sebenarnya ada sisi untung-untungannya. tapi tesla manaf, yang tergolong di antara sedikit musikus yang seolah-olah tanpa beban dalam berkreasi, boleh dibilang bernasib baik.

bukan berarti tesla sepenuhnya menyerahkan hasil petualangannya kepada apa pun kondisi jalan yang dia pilih, seperti layaknya penjudi amatir. diakui atau tidak, gitaris kelahiran jakarta 27 tahun lalu ini berhitung juga. dan, menariknya, bagian terbesar dari kalkulasi yang dilakukannya itu justru terkandung dalam karyanya, yang dia sajikan dalam album pertamanya yang dirilis secara internasional ini.

berdurasi 79 menit, substansi album ini berkarakter serupa dengan artwork-nya yang digarap komikus sweta kartika: ruang yang padat dan cenderung pelik, menimbulkan kesan sebagai sesuatu yang teperinci dalam perencanaannya dan ketepatan tingkat tinggi dalam eksekusinya, tapi secara keseluruhan seperti main-main yang menyenangkan.

penggambaran itu menunjukkan betapa album ini bukan kumpulan komposisi musik yang “normal”. khusus untuk setengah bagian dari seluruh sajiannya, yang berupa satu suite berjudul a man’s relationship with his fragile area, tesla secara tak langsung menyadarkan audiensnya bahwa musik yang bagus–menyenangkan saat didengarkan, betapapun harus memutarnya berulang-ulang dulu, dan menimbulkan perasaan tercerahkan–bisa digubah dengan komponen yang tak biasa dan cara tak linear, seperti pada umumnya.

hal paling menonjol dari suite yang terdiri atas delapan bagian itu adalah formula yang, dalam beberapa kesempatan, oleh tesla disebut sebagai “mengkonversikan kata-kata yang diucapkan menjadi rangkaian not”. secara “harafiah”, formula ini dicontohkan melalui nomor pembuka yang kebetulan bertitel sama dengan judul suite-nya. selama 44 detik, lewat petikan mengalir pada dawai gitarnya, tesla mentranskrip frasa dan irama dari ucapan narator yang, antara lain, menyapa dengan genit, “halo. selamat siang, pendengar. saya mau cerita sedikit, boleh ya.”

mereka yang akrab dengan musik kontemporer pasti tak akan merasa asing dengan pendekatan itu. bedanya, barangkali, tesla tak membawa musiknya ke arah yang abstrak; sebagian besar momen di setiap bagian dari suite itu tetap menyodorkan harmoni yang lazim dalam musik mainstream, walaupun komponennya bisa terasa ganjil–terutama karena tesla tak sepenuhnya memanfaatkan not, birama, dan tempo yang “normal”, malah di banyak kesempatan dia sebenarnya bermain-main saja dengan bunyi.

format band yang memainkan a man’s relationship memang hanya setingkat di atas minimal, sebuah kuartet yang sangat lazim dalam jazz. tapi, dalam hal produksi bunyi, mereka seperti punya kemampuan menggandakan diri: dengan instrumen yang sama–terdiri atas gitar, double bass (dimainkan oleh rudy zulkarnaen), drum (desal sembada), dan klarinet/tarompet pencak/suling (hadis “hulhul” hendarisman)–mereka menghasilkan lapisan-lapisan melodi yang saling terpisah meski tetap bergerak di arah yang sama. simak, misalnya, bagian yang berjudul counting miles and smiles, chin up, dan the sweetest horn.

dalam pengantarnya di kemasan album ini, dan burke menyebut musik tesla “secara ekstrem orisinal, baru, dan mengilhami”. pendapat ini tak berlebihan. sekadar untuk memastikan, setengah bagian yang lain dari album ini, sebuah suite berjudul it’s all yours, bisa jadi bahan perbandingan. sangat mudah diidentifikasi betapa konstruksi karya yang diambil dari album tesla terdahulu ini mengikuti desain yang tak terlalu baru. jika itu bisa dianggap sebagai zona nyaman, a man’s relationship adalah langkah yang membawa tesla keluar jauh–satu pencapaian yang bakal tak mudah ditandingi, meski tak mustahil.

[appeared in koran tempo, february 2, 2015]

di kalangan kenalannya, dia dijuluki ensiklopedia berjalan–mengalahkan google, dia bisa seketika menyebutkan apa saja yang berkaitan dengan musik, termasuk lagu yang kebetulan menyerupai lagu yang lebih dulu ada. tapi, sebenarnya, pengetahuan dan ingatannya yang tiada duanya itu hanya sebagian saja dari apa yang bakal ikut lesap bersamaan dengan kepergiannya menghadap tuhannya.

hamdan syukrie, lebih dikenal sebagai denny sakrie, meninggal pada sabtu dua pekan lalu karena serangan jantung. kejadian ini terasa tiba-tiba, setidaknya bagi kenalan dan temannya. “kami baru mengobrol beberapa hari lalu. saya malah mau menyuratinya. tapi lalu saya dapat berita duka,” kata leonardo pavkovic, pemilik moonjune records di new york, amerika serikat, yang belakangan rajin menerbitkan album-album musikus progresif indonesia. kepada denny, yang dikenalnya sejak 2003, leonardo sering bertanya perihal apa dan siapa dalam musik indonesia, dan mereka malah sedang merencanakan beberapa proyek bersama.

proyek-proyek itu merupakan bagian dari apa yang sedang denny kerjakan. semuanya bertumpu pada pengetahuan serta ketekunannya mengikuti dan mencatat hal ihwal musik, terutama musik Indonesia. dia, misalnya, diketahui baru merampungkan buku ambisius tapi bakal sangat berharga, 100 tahun musik indonesia (1905-2005). sebagai penulis yang produktif, secara estetika dan gaya dia mungkin tak semengesankan john savage atau seblak-blakan lester bang–dua “model” penulis musik fenomenal. meski demikian, tulisan-tulisannya di sejumlah media, juga di blognya yang selalu diperbaruinya dengan sepenuh hati, memuat harta karun data dan informasi yang melimpah.

lahir di maluku pada 14 juli 1963, denny mengenal musik sejak masih kecil. dia mengawali kariernya sebagai penyiar di radio madama, makassar, pada 1988. memutuskan hijrah ke jakarta pada 1991, dia kemudian bergabung dengan radio suara irama indah. pada 1995 dia menjadi penyiar di m97 fm, radio khusus musik classic rock, dan mengasuh acara collector’s time. format acara ini, waktu itu, tergolong lain: ulasan musik–classic rock, tentunya–secara mendetail lengkap dengan telaah diskografi serta proses kreatifnya.

melalui collector’s time, denny bukan saja menjadi jembatan antara subyek acara dan pendengarnya. tapi, “dia juga tokoh sentralnya karena pengetahuan dan kemampuannya sebagai pengarsip. dengan itu dia menghidupkan acara,” kata ella su’ud, program director m97 di masa itu.

menurut ella, acara tiga jam setiap rabu malam itu dianggap sesuai dengan target pemasaran m97. pendengar menyukainya karena informasinya lengkap dan musikus yang diundang pun tampil sebagai teman diskusi yang setara. “kalau mau disebutkan, ukuran suksesnya adalah, pertama, orang jadi ingat denny sakrie dan, kedua, kopi siarannya, dalam format kaset, sampai beredar di jalan surabaya,” kata ella. jalan surabaya di jakarta pusat adalah lokasi penjualan barang-barang bekas, termasuk kaset, cd, dan piringan hitam.

m97 banting stir menjadi radio dangdut pada september 2005. denny meninggalkan radio itu jauh sebelumnya. dia masih sempat bertahan di dunia siaran, yang menurut dia memungkinkan orang dihargai karena pengetahuannya, bukan tampangnya. tapi kegiatannya sebagai pengarsip justru makin intensif. koleksinya bertambah–kaset, cd, piringan hitam, majalah, buku, bahkan aneka foto.

semua itu tak dia simpan untuk dirinya sendiri. selain tulisan di blog dan artikel yang berserakan di berbagai media, atau posting di facebook dan cuitan di twitter, dia membagikan pengetahuannya dengan menulis buku. yang sudah diterbitkan, di antaranya, musisiku (bersama komunitas pencinta musik indonesia) dan chrisye masterpiece (audio book yang diterbitkan pt musica studio’s).

kegiatan yang belakangan juga memenuhi hari-harinya adalah menjadi narasumber acara televisi dan diskusi atau juri kompetisi musik. sejak 2010, dia bahkan tak pernah absen menyeleksi dan mengusulkan album-album musik untuk keperluan liputan khusus tahunan tokoh seni majalah tempo. dengan aneka kesibukan ini dia sebenarnya telah melampaui apa yang sempat dicapainya dengan semata berada di studio siaran.

sepeninggal denny sekurang-kurangnya ada dua “warisan” tugas bagi teman-temannya, atau siapa pun yang peduli pada musik indonesia: bagaimana merawat koleksi pribadinya dan bagaimana melanjutkan apa yang telah dikerjakannya. yang pertama mungkin akan mudah; izin keluarganya sajalah yang dibutuhkan. tugas kedua kelihatan bakal jadi pekerjaan raksasa yang membutuhkan upaya keroyokan, sampai muncul figur yang bisa menggantikannya.

[appeared in tempo magazine, january 18-25, 2015, with a minor edit]

seperti yang sudah-sudah pula, ini bukan daftar album terbaik, melainkan yang buat saya materinya sangat enjoyable, perlahan-lahan maupun segera setelah didengarkan. album-album ini, kebetulan sudah saya beli/dengarkan, hanya sebagian kecil saja dari semua rilisan tahun ini. harap maklum, kapasitas telinga dan sumber daya terbatas. daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan terbaik.

 
steven wilson
the raven that refused to sing (and other stories)

cukup lama porcupine tree tiarap. untunglah, di samping proyek-proyek kolaborasi dengan musikus lain, steven wilson memberi penggemarnya album-album solo yang kian mengukuhkan reputasinya sebagai musikus mumpuni. album solo ketiganya ini menegaskan betapa luas “bacaan” musiknya dan bagaimana secara artistik dia berhasil mengkapitalisasikan semua itu menjadi karya yang pantas berbaris bersama album-album monumental di ranah prog. napas album ini tetap psychedelic rock, dengan tema-tema muram dan depresif.

 
the custodian
necessary wasted time

album debut pendatang baru dari inggris ini memanjakan kuping penggemar prog yang kebetulan menyukai musik-musik dengan unsur instrumen akustik–barangkali juga kaum penikmat jethro tull. mereka memadukan bebunyian gitar akustik dengan synthesizer, dalam struktur lagu-lagu yang melodik, dengan bumbu aksen berupa duel-duel instrumental yang menggairahkan.

 
haken
the mountain

karya ketiga band dari london, inggris, ini menyuguhkan musik prog dengan elemen-elemen metal, jazz, folk, dan bahkan avant-garde. dari yang paling menonjol, mungkin orang bisa mendapat kesan album ini adalah percobaan mengawinkan prog dan metal dengan gaya (paduan vokal) gentle giant. coba nomor berjudul cockroach king.

 
sound of contact
dimensionaut

sebagai karya perdana–dari band yang berbasis di inggris dan didirikan oleh simon collins, putra drummer phil collins, dan david kerzner–album ini terhitung surprising. warna biru laut/langit dan gambar obyek berbentuk tanda infinity/tak berhingga pada sampulnya merupakan indikasi langsung tentang musiknya: sebuah kumpulan lagu, dengan komposisi dan aransemen yang cenderung lembut-damai, bercerita tentang perjalanan lintas dimensi dan galaksi.

 
arabs in aspic
pictures in a dream

musik di album ini bakal cocok buat mereka yang menggemari elemen retro 70-an atau, lebih spesifik, genre space rock/heavy psychedelic rock. dalam karya band dari norwegia ini banyak momen yang menyajikan bebunyian elektrik yang garang, yang sarat riff gitar yang memikat dan melodi synthesizer dan organ yang melayang-layang.

 

—–
album-album berikut ini sebagian besar tak perlu lagi diterang-terangkan. tak ada yang mengejutkan; mereka setia pada formula musik masing-masing–mapan di zona nyamannya. tapi didengarkan dengan seksama tetap saja keterlaluan jika kita sekadar terkesan, karena mestinya lebih dari itu. yang tak termasuk kelompok ini, seperti nomad (bombino), boleh dibilang menarik karena terdengar baru dan menjanjikan.

big big train – english electric pt. 2
black sabbath – 13
bombino – nomad
david bowie – the next day
deep purple – now what?!
dream theater – dream theater
the flower kings – desolation rose
gov’t mule – shout!
riverside – shrine of new generation slaves
the tangent – le sacre du travail
tedeschi trucks band – made up mind
the winery dogs – the winery dogs
—–

seperti yang sudah-sudah, ini bukan daftar album terbaik, meski bisa saja implikasinya begitu. album-album ini–yang kebetulan sudah saya beli/dengarkan, sebagian kecil saja dari semua rilisan tahun ini–termasuk yang paling membekas dalam ingatan, yang meninggalkan impresi kuat. catatan: daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan terbaik.

 

adrian adioetomo
karat & arang

enam tahun lalu, lewat album yang merupakan produk rumahan berjudul delta indonesia, adrian menunjukkan bagaimana delta blues bisa ditarik ke setting indonesia pada 1930-an, di masa kolonial belanda. setia pada tumpuan yang sama, musik blues dalam bentuk awalnya, dia bereksperimen lebih jauh: mengakomodasi idiom-idiom musik tradisional indonesia. formula barunya ini mengena juga. dengan konstruksi yang diniatkan sebagai perlawanan terhadap stereotipe blues itu, dia menyanyikan banyak hal–tentang dirinya, renungan-renungannya, juga peristiwa-peristiwa sosial dan politik di sekelilingnya.

 
budjana
joged kahyangan

mendengarkan album ini seperti membiarkan diri kita mengembara di alam relaksasi. semua komposi yang ada, lagi-lagi peleburan secara subtil antara barat dan tradisional (bali), tak mengajak kita bergegas. mungkin yang terbayang di kepala kita adalah bersantai di salah satu pojok yang jauh dari keriuhan di bali. tapi dalam tempo yang rileks itu perlahan-lahan terbangun klimaks yang selalu melegakan–nyaris merupakan pengalaman spiritual.

 
frau
happy coda

walau terkesan menapaktilasi apa yang sudah dilakukannya tiga tahun lalu lewat starlit carousel, di album keduanya ini frau (nama aslinya leilani hermiasih suyenaga) tetap saja memikat. andalannya: keterampilan bermain piano, kemampuan vokal bergaya kabaret yang memukau, dan aransemen lagu-lagu yang seperti menonjolkan drama. dibandingkan dengan yang sebelumnya, album ini malah terkesan naik kelas.

 
i know you well miss clara
chapter one

album ini rasanya akan cocok buat mereka yang sudah mulai malas mendengarkan jazz. formula musik grup asal yogya yang baru berumur kurang dari tiga tahun ini merupakan peleburan wilayah-wilayah jazz yang pernah dijelajahi, antara lain, oleh miles davis, the mahavishnu orchestra, frank zappa, dan soft machine dengan unsur-unsur musik lain yang pernah menjadi menu harian masing-masing anggotanya. ada identitas rock, progresif, psychedelic, bahkan avant-garde. harus diakui mereka berhasil mengangkat mistar pengukur pencapaian di tempat yang lebih tinggi.

 
imanissimo
happiness and sadness

melalui album ini, imanissimo menegaskan z’s diary sebagai album debut adalah satu titik yang sudah lewat; mereka memilih jalan yang sama sekali baru untuk mencapai titik baru. satu langkah yang berisiko, memang. tapi, dengan tetap mengutamakan soundscape sebagai elemen penting, dalam komposisi dan aransemen lagu-lagunya, mereka sebenarnya tak menyimpang terlalu jauh. buat yang sudah mengenal imanissimo mungkin akan mengira ini band lain. tapi tak perlu waktu lama untuk akhirnya mengakuinya sebagai imanissimo dengan misi baru.

 
simakdialog
the 6th story

musik simakdialog, sebuah peleburan antara elemen-elemen jazz barat dan musik tradisional (khususnya sunda), memeragakan, betapapun subtilnya, barangkali, kait-mengait dan saling kunci di antara unsur-unsur yang membentuknya, terutama melodi dan irama. pada ikatan erat dua hal itulah instrumen-instrumen yang digunakan, terutama instrumen tradisional seperti kendang, mengacu. melalui album ini, simakdialog menegaskan lebih lanjut formula musik yang sudah dimatangkannya sejak patahan, rekaman pertunjukan simakdialog di goethe haus, jakarta, pada 2005.

 

jazz miss clara

sesekali nama bisa mengecoh. seperti nama band dari yogyakarta ini–i know you well miss clara.

anda bisa saja mengira mereka adalah kelompok musik pop manis, mungkin sedikit rock, atau sekurang-kurangnya musik yang mudah akrab di telinga tapi sulit dikategorikan seperti yang dipilih oleh banyak band indie. tapi, sesungguhnya, band yang terdiri atas reza ryan (gitar), adi wijaya (piano), enriko gultom (bas), dan alfiah akbar (drum) ini jauh melampaui semua itu: mereka memainkan jazz, dan bukan sembarang jazz.

seakan hendak menegaskan kebenaran idiom “jangan menilai buku dari sampulnya” itu, mereka memilih wilayah jazz yang sempat dijelajah antara lain oleh miles davis, the mahavishnu orchestra, frank zappa, dan soft machine. nama-nama ini adalah para peletak fondasi, atau setidaknya yang ikut membangun, jazz dengan identitas rock, progresif, psychedelic, bahkan avant garde. reza dan kawan-kawan melebur pengaruh-pengaruh itu, membumbuinya dengan unsur-unsur lain yang mereka dengar dan pelajari, untuk menghasilkan formula musik yang nyaris tiada duanya. jika harus disebut, reza cs meramu dan menyajikan sebuah jazz yang bebas, atau progresif–begitulah jika “progresif” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hasrat kreatif untuk terus menerobos batas-batas suatu genre.

memang tak mudah dibayangkan. lebih sulit lagi jika kita belum pernah berkenalan dengan karya-karya para pioner itu. maka, hanya ada satu cara untuk “mengalami” semua deskripsi yang mungkin dibuat untuk musik i know you well miss clara: cobalah simak album perdana mereka yang berjudul chapter one.

oleh label yang merilisnya pertama kali, moonjune records dari new york, album dengan tujuh lagu ini dipromosikan sebagai karya yang “muram dan mencekam; misterius, menegangkan, dan mengejutkan”. dari lagu pembuka berjudul open the door, see the ground, sepanjang 10-an menit, kepada kita seketika dihamparkan lanskap jazz yang bukan saja kaya variasi akor, melainkan juga seperti penuh tikungan-tikungan perubahan atmosfer, sarat mozaik nada, dan ramai dengan bombardemen peragaan teknis berkelas.

dimulai dengan dentingan piano yang mengalun liris dan cenderung kontemplatif (atau misterius, tergantung kesan siapa), dengan aksen bas yang menggiring asosiasi kita pada pukulan-pukulan gong, open the door, see the ground lalu berayun dengan karakter yang terkesan senapas dengan weather report. tak lama, sebab musik lekas berubah, menjadi lebih trengginas: reza lalu mengoyak kelembutan, “menggila” dengan permainan gitarnya yang beraura sebagaimana dipancarkan john mcLaughlin dalam proyek-proyek the mahavishnu orchestra, tapi kesannya seperti mengangkat kita ke awang-gemawang.

sepanjang durasi lagu, kita akan merasakan bagaimana momen lembut-sunyi saling bertukar, pada saat-saat yang terukur, dengan momen kukuh-riuh. secara struktur, lagu ini bagaikan bangunan cerpen, tapi dengan narasi cerita yang “ajaib”: tak sepenuhnya linear, dengan plot yang terkesan longgar tapi setiap bagian tetap sulit dihilangkan, dan terutama mengandung kejutan-kejutan tanpa henti. yang mungkin bisa membuat senang penggemar lagu-lagu berdurasi panjang adalah bagaimana, dalam aransemennya, ruang yang luas tersedia untuk berimprovisasi.

dalam hal itu peran reza dan adi sangat menonjol, terasa juga di lagu-lagu lainnya. perhatikan, misalnya, bagaimana mereka berdialog begitu subtilnya dalam conversation. atau melakukan semacam pertukaran gagasan yang berefek menghipnotis dalam reverie #2. pada pop sick love carousel, reza bahkan jitu “mencuri” karakter legato allan holdsworth; hal ini muncul lagi pada a dancing girl from planet marsavishnu named after the love.

di setiap lagu itu, mereka membetot apa pun kemungkinan dan imajinasi yang ada, lalu bersenang-senang penuh percaya diri dengan instrumen masing-masing. tentu saja, mereka bisa melakukannya dengan batas-batas ruang yang dijaga demikian baik oleh enriko dan alfiah, duet rhythm section yang kukuh. mereka memang bukan, katakanlah, pasangan ron carter dan tony williams. meski demikian, mereka bekerja sama cerdasnya untuk menghasilkan kerangka irama yang berdaging dan bernyawa.

ada dua lagu lain yang patut disebut khusus: dangerous kitchen dan, sekali lagi, a dancing girl from planet marsavishnu named after the love. di dua lagu ini dukungan nicholas combe dengan permainan saksofonnya yang seksi berperan mengangkat performans band ke tingkat yang lebih tinggi.

sulit untuk tak dibilang album ini merupakan debut yang sangat memukau. andaikan ada kekurangan pun, kita sebenarnya bisa mengatribusikannya pada kenyataan bahwa reza cs–semuanya belajar di sekolah yang sama, institut seni indonesia yogyakarta–belum lama bermain bersama. i know you well miss clara baru aktif pada 2010. tapi yang sulit ditepis adalah, bagi anda yang sudah mulai malas mendengarkan jazz, album ini termasuk di antara karya-karya mutakhir yang bisa membuat anda bergairah kembali menyalakan pemutar cakram audio di rumah dan tekun menyimak jazz sebagaimana seharusnya.

*appeared in koran tempo, november 10, 2013

menonton film konser musik tak pernah bisa semerasuk ini. atau, kalaupun ada yang sudah lebih dulu menggarap film semacam dengan canggih, apa yang disajikan sutradara nimród antal ini, metallica: through the never, adalah cara dia membumbungkan tingkat permainan.

di satu bagian, dengan mata kita seolah-olah menempel di setiap kamera yang dioperasikan di 24 sudut panggung, kita menyaksikan dari dekat secara tiga dimensi adegan ini: sejumlah kru, dengan bantuan derek, menyusun satu demi satu irisan bagian sebuah patung raksasa; begitu figur patung itu berdiri utuh, yang tak lain adalah sang dewi keadilan dalam keadaan “diperkosa”, intro …and justice for all menyeruak seksama dari pengeras suara.

di layar, james hetfield–rambut pirangnya dibiarkan pendek, tato bertebaran di leher dan lengannya–lalu terlihat menyanyi dengan intonasi tegas dan dan aura agresif, sambil memberondongkan riff “maut” dari gitarnya. “halls of justice painted green/ money talking….”

ketika lagu yang mengritik ketidakadilan sosial itu usai, dan patung sang dewi perlahan-lahan runtuh, bagian-bagiannya berserakan di panggung, tak ada hal lain yang bisa kita rasakan kecuali bahwa film sudah memasuki bagian-bagian dengan intensitas yang meninggi, mendekati klimaks. sama intensnya dengan performa hetfield dan kawan-kawan–lars ulrich, kirk hammett, dan robert trujilo; ya, mereka tergabung dalam metallica, band thrash metal paling sukses dalam sejarah musik rock. di setengah bagian film, antal meningkatkan suasana hubar-habir, menumpuk-numpukkan aneka kegaduhan di panggung–ledakan, semburan api, tiang-tiang yang roboh–dan menyengitkan sekuens anarkistis di luar panggung.

adegan-adegan yang disebut terakhir itu melibatkan trip, pemuda yang digambarkan sebagai semacam kurir, yang ditugasi mengambil sebuah tas di satu truk yang rusak. dari saat dia tiba di gedung tempat konser berlangsunglah kamera memulai film ini.

sejak awal apa yang dialami trip, termasuk perjalanannya yang ternyata semacam wisata ke neraka, sengaja dibuat berkelindan dengan apa yang berlangsung di panggung, saat hetfield dan kawan-kawan membombardemen audiens dengan lagu-lagu seperti creeping death, for whom the bell tolls, master of puppets, dan nothing else matters. itulah yang menjadikan film berdurasi 90-an menit ini bukan sekadar rekaman konser. setiap kali kamera berpindah dari dalam gedung pertunjukan ke jalanan, ke tempat trip harus menjumpai bermacam-macam kejadian aneh serta ganjil dan bahkan berusaha menyelamatkan diri dari kematian, pada lagu dengan tema situasi itulah hetfield dan kawan-kawan sedang bermain.

film ini bisa disebut sebagai klip video berformat raksasa dengan durasi yang bersifat epik. seperti kebanyakan klip video, plot cerita mengenai trip yang mengandung banyak ketidakjelasan tak seharusnya mengganggu nalar. justru itulah tampaknya yang diniatkan sejak dari gagasan: metallica adalah band yang menyanyikan sisi-sisi gelap kehidupan. kita bisa memahami semuanya hanya jika kita mengalaminya, dengan satu dan lain cara.

kalaupun hal itu masih meleset dari impresi, selepas menonton film ini, terutama versi yang diputar di teater imax, rasanya kita tetap bakal bisa yakin satu hal: sedekat dan semenarik apa pun posisi kita menyaksikan konser musik, tak ada yang bisa melampaui pengalaman ketika kita bisa mendekati para musisi persis di tempatnya di panggung, dan seakan-akan mengendus napas dan menghirup keringat mereka.

*appeared in tempo magazine, october 7, 2013.

menjadi biasa-biasa saja adalah hal terakhir dalam daftar keinginan imanissimo. aktif sejak 2001 dan sempat melahirkan album z’s diary yang dipuji sebagai karya lokal yang merayakan elemen psychedelic dalam format epik, band dari jakarta ini memilih selalu menerabas kemapanan, menentang risiko, sebagai jalan hidupnya.

banyak band yang berpendirian serupa, tentu saja; dan sikap seperti itu sesungguhnya merupakan keniscayaan dalam berkreasi, agar selalu lebih baik dan menyajikan kebaruan. tapi, dibandingkan dengan yang lain, imanissimo meyakininya mirip sufi dan menjalankannya dengan semangat spartan.

“saya dan teman-teman memang selalu bereksperimen, mencari hal baru. bisa dengan cara apa saja,” kata iman ismar, pemain bas, komposer, dan pendiri imanissimo, di jakarta, selasa dua pekan lalu.

sejak mengeluarkan z’s diary pada 2004, imanissimo dikenal sebagai kelompok progressive rock di tanah air yang mengingatkan orang pada pink floyd, ozric tentacles, atau porcupine tree, dengan musik spacey yang berpadu selaras dengan elemen-elemen heavy metal serta etnis. yang menjadi pengikat adalah permainan bebunyian atau soundscape yang melatari dan menyusupi bangunan musik utamanya. kini, sembilan tahun setelah itu, imanissimo masih menjejakkan kaki di sana. tapi apa yang sudah dicapai dengan z’s diary tak lagi menjadi panduan.

“bisa dibilang kali ini kami memulai hal yang sama sekali baru,” kata iman.

mula-mula yang memungkinkan hal itu adalah formasi yang sudah berganti sejak 2006. “ini formasi yang paling awet,” ujar iman. dengan formasi ini, menurut dia, imanissimo bisa lebih teratur menulis lagu, dan ide-idenya menjadi sama beragamnya dengan selera musik para personelnya. selain iman, band ini menghimpun pula johannes jordan (gitar), raden agung hermawan fitrianto (keyboard), dan putra prayoga (drum). semuanya sehari-hari berprofesi sebagai guru musik.

hal lain yang memastikan kebaruan itu adalah album gres berjudul happiness and sadness. dirilis resmi baru pada 13 Oktober, album yang sudah bisa diperoleh versi digitalnya via itunes store ini menonjolkan dua hal: musik yang lebih bervariasi ketimbang album pendahulunya dan keberanian iman serta kawan-kawan untuk mencoba-coba hal yang bisa jadi luput dibayangkan oleh mereka yang sudah mengenal imanissimo.

silakan simak step into nothingness, lagu kelima–dari seluruhnya sembilan–di album terbaru itu. aransemennya, yang bertumpu pada beat ala house music, dan bangunan yang khas musik elektronik dan tekno pasti terdengar seperti “salah kamar”. tapi, dalam konteks kreasi, formula yang bermula dari keisengan putra–membikin irama disko di bagian akhir lagu–ini tetap bisa dipahami, dan malah memperkaya albumnya.

“sebenarnya ini bukan hal baru. jeff beck sudah melakukannya di akhir 1990-an dan awal 2000-an,” kata iman, menyebut gitaris dari inggris itu sebagai contoh. berbeda dari beck yang khusus merekam tiga album, imanissimo hanya menyisipkan satu lagu itu saja, dengan infus soundscape yang menjadikannya tetap setarikan napas dengan konsep albumnya.

minat pada “lukisan” bebunyian itulah yang menyatukan iman dan agung–keduanya sama-sama alumnus jurusan musik institut kesenian jakarta. mereka sebenarnya perpaduan yang ganjil. “di IKJ, saya belajar gitar klasik, dan baru di imanissimo ini saya bermain musik prog[ressive rock],” kata agung. tapi, waktu kuliah, mereka berdua belajar dari guru yang sama: otto sidharta. komposer kontemporer lulusan belanda ini dikenal berkat karya-karya musik elektronik dan soundscape-nya.

wajar jika kecocokan itu menjadi bagian dari fondasi yang menopang musik imanissimo kali ini. di happiness and sadness, hal ini sudah seketika terasa di lagu pembuka, yang judulnya dipilih sebagai titel album.

ditulis oleh jordan, lagu instrumental berdurasi 5.36 menit itu seperti bab pembuka sebuah buku cerita, bagian yang lazim menjanjikan petualangan, misteri, dan kegembiraan–unsur-unsur yang diharapkan bisa menaklukkan audiens. diawali bunyi paduan suara, kemudian disusul intro musik yang ingar dan diselingi sepotong jeritan keyboard, komposisi lagu ini memuat apa saja yang bakal dijumpai, didengar, di sepanjang album: tekstur bunyi, perubahan tempo, birama ganjil, juga aneka langgam musik, termasuk idiom musik etnis.

soal bebunyian, jordan bahkan menyisipkan efek gitar yang, dalam kata-katanya, “kedengarannya busuk” di bagian kedua dari suite berjudul in prayer, satu dari dua komposisi panjang yang boleh dibilang merupakan sentral dari abumnya. bunyi itu sebenarnya lazim dipakai dalam rekaman-rekaman di akhir 1960-an dan awal 1970-an.

menurut iman, album itu mengeksplorasi tema di sekitar bahagia dan duka, hal-hal yang tak terelakkan dalam kehidupan. berbeda dengan z’s diary yang bercerita, happiness and sadness secara teknis hanyalah kumpulan lagu. tapi, seperti umumnya kelompok musik yang berfokus menghasilkan album, bukan single, imanissimo merancang kumpulan lagu-lagunya ini sebagai satu kesatuan, yang pengalaman puncak dalam menikmatinya hanya bisa dicapai jika disimak secara utuh. mirip jigsaw puzzle, barangkali: kita bisa menganggap setiap keping sebagai gambar terpisah yang berdiri sendiri, tapi ia akan lebih bermakna jika menjadi kesatuan.

dengan prinsip itu, iman dan kawan-kawan toh merasa perlu juga mendistribusikan happiness and sadness via itunes store dan outlet digital lainnya. ini diakui bisa memperluas jangkauan “peredaran”–walau di toko-toko maya orang bisa membeli ketengan per lagu, hal yang justru bertentangan dengan tujuan album. tapi, sebenarnya, “ini lebih untuk gengsi saja,” kata agung, yang bertugas menangani urusan penjualan album baru itu. “keren ‘kan album imanissimo ada di itunes?”

dari sudut pandang lain, bisa juga langkah itu dipahami sebagai bagian dari keberanian untuk selalu mencoba hal baru.

*appeared ini koran tempo, september 29, 2013

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,311 other followers