Feeds:
Posts
Comments

insurgentes
steven wilson
kscope, 2009

stevenwilson_insurgentessteven wilson adalah nama besar dalam urusan melukis dengan bunyi. dia sudah melakukannya sejak mulai berkarier sebagai musisi, produser, dan sound engineer saat masih belasan tahun, pada awal 1980-an. dan dia lalu mengukuhkan reputasinya antara lain dengan porcupine tree, no-man, dan blackfield –semuanya merupakan band atau proyek kolaborasi dengan karakter yang menunjukkan betapa luasnya minat musikal wilson.

album ini, karya berlabel proyek solo resmi, yang pertama setelah 20-an tahun wilson berkarier, merupakan kelanjutan logis dari apa yang sudah dia lakukan sejauh ini. dia masih mengaduk-aduk elemen ambient, trance, dan psychedelic, dan meramunya dengan melodi yang kuat, seperti yang sudah-sudah. musiknya tetap cenderung muram. bedanya, di sini dia membubuhkan pengaruh post-punk yang gaduh dan shoegaze yang berlatar bebunyian yang diproses berulang-ulang.

mereka yang sudah mengenal wilson, dari proyeknya yang mana pun, pasti seketika bisa merasa klop dengan lagu pembuka, harmony korine. bertempo pelan dan diawali dengan motif arpeggio gitar, lagu ini mengandung melodi yang bisa seketika merasuk ke dalam diri pendengarnya. lagu-lagu selanjutnya membutuhkan beberapa kali dengar, misalnya salvaging, no twilight within the courts of the sun, dan get all you deserve. tapi kesan yang telah dibangun oleh lagu pembuka itu sulit terlupakan. atmosfer tak nyaman, sunyi, dan kasar justru berpadu menghasilkan harmoni yang mentransportasikan pendengar ke lanskap nan gelap, sarat keputusasaan tapi sekaligus perlawanan intelektual.

album ini, terlepas dari begitu mengesankannya deretan musisi yang ikut membantu (antara lain basis tony levin, drummer gavin harrison, juga pemetik koto michiyo yagi), merupakan karya yang begitu percaya diri. tapi hal ini wajar. wilson, harus diakui, memang punya pengalaman untuk membuatnya seperti itu.

[appeared in tempo, may 4, 2009]

horizon baru u2

no line on the horizon
u2
interscope, 2009

u2_nolineonthehorizontelah tiga puluh tahun menjadi salah satu band rock terbesar di dunia, u2 belum kehilangan sentuhan emasnya yang telah menghasilkan seratus juta lebih kopi rekaman. kuartet asal irlandia ini, dalam sembilan tahun terakhir, malah berturut-turut mencetak album-album yang selalu mendarat di posisi teratas daftar album paling laku di dunia. hasil kreasi mutakhir mereka yang dirilis akhir bulan lalu dan langsung nomor satu di inggris dan amerika serikat, no line on the horizon, malah merupakan karya yang boleh dibilang berani dan sangat spekulatif.

dalam album ke-12 yang direkam di maroko, dublin, new york, dan london itu mereka tampaknya berusaha keluar dari jalur “u2 mazhab lama” secara musikal. yang disebut ini adalah istilah untuk identitas yang melekat pada album-album mereka yang napas materinya setarikan dengan the joshua tree (1987), karya mereka yang masuk daftar 500 album terbaik sepanjang masa versi majalah rolling stone.

semangat arah baru itu terasa benar begitu lagu pembuka yang sejudul dengan albumnya terdengar: menderu bagaikan roket yang sedang bertolak meninggalkan bumi. di sini, berlatar pusaran bebunyian synthesizer, irama yang menggelinding kencang, dan denting gitar the edge yang bergema di bagian chorus, bono, sang vokalis, menyanyi dengan suara melengking, kadang-kadang falsetto; dia bicara tentang gadis misterius yang tak kenal kompromi. “she said, ‘time is irrelevant, it’s not linear’,” suaranya seolah melolong.

niat untuk bereksperimen –walau akhirnya terbukti hasilnya tak seekstrem yang sempat dibayangkan –diumumkan pada akhir 2006. dalam wawancara dengan satu radio, bono menyatakan bahwa u2 “akan terus menjadi sebuah band, tapi mungkin rock-nya harus mengalah; mungkin rock-nya mesti lebih keras”. “tapi apa pun itu,” katanya, “musiknya tak akan diam di tempat.”

tak ingin diam di tempat: mereka menghentikan proses rekaman di bawah arahan produser rick rubin, yang meminta mereka untuk “back to basics“, dan memilih kembali berkolaborasi dengan brian eno dan daniel lanois (yang dibantu steve lillywhite). dengan pasangan eno-lanois, selain the joshua tree, mereka sudah menghasilkan the unforgettable fire (1984), achtung baby (1991), dan all that you can’t leave behind (2000). di album how to dismantle an atomic bomb (2004), mereka hanya ikut membantu sebagian.

sebetulnya u2, yang didirikan di dublin pada 25 september 1976, pernah melakukan hal serupa. pertama kali dengan the unforgettable fire, yang menghasilkan hit akbar pride (in the name of love), lalu berturut-turut achtung baby, zooropa (1993), dan pop (1997). tapi yang dianggap berhasil hanyalah the unforgettable fire dan achtung baby. setelah zooropa dan pop yang kikuk, mereka kembali ke “u2 mazhab lama” pada all that you can’t leave behind dan how to dismantle an atomic bomb. dua album sarat tema sosial dan politik ini terjual lebih dari 20 juta kopi dan menghasilkan 15 grammy.

namun, jika eksperimen diibaratkan sebagai trekking yang penuh petualangan, no line on the horizon adalah petualangan yang tak sampai membuat u2 tersesat: mereka tetap sanggup mengenali jalan untuk pulang. coba simak bebunyian gitar yang distortif, bas yang berat, kibor yang renyah, juga loop. semuanya ada pada zooropa dan pop. tapi mereka tak berhenti hanya di situ. mereka menyisipkan, misalnya, stand up comedy, dengan motif gitar yang mengingatkan orang pada come together milik the beatles dan heartbreaker milik led zeppelin. atau, get on your boots yang sebetulnya memanfaatkan apa yang ditinggalkan oleh vertigo (dari how to dismantle an atomic bomb), hanya dengan tikungan yang membuatnya tetap terasa hidup di wilayahnya sendiri.

atau, coba simak breathe. lagu mengentak nan galak berisi ajakan optimistis tentang bagaimana menghadapi dunia dengan tangan terbuka, sekalipun banyak masalah dan kekacauan, ini pantas menjadi nomor klasik.

di luar itu, mereka toh tak melupakan penggemar yang masih nyaman dengan “u2 mazhab lama”. penggemar kategori yang didominasi gitar dengan efek gema dan delay yang ritmis, melodi yang kuat, dan vokal yang ekspresif ini dijamin bakal seketika klop dengan magnificent yang megah dan moment of surrender yang bernapaskan gospel.

melalui album barunya, harus diakui, bono, the edge, adam clayton, dan larry mullen, jr. tidak menawarkan gelombang baru revolusi musik. tapi sulit dibantah bahwa mereka telah mempersembahkan lanjutan yang pas dan sangat memuaskan bagi usaha terus-menerus mereka untuk menjadi semakin baik. album ini lebih merupakan ikhtiar menggali lebih dalam, dengan menambahkan nuansa dan barangkali merumuskan kembali apa yang sudah mereka capai sejauh ini, ketimbang heroisme menciptakan hal baru.

[appeared in tempo, march 30, 2009]

already free
the derek trucks band
victor, 2009

already_freemelebur rock, gospel, blues, jazz, dan bahkan kemudian elemen musik india sejak 12 tahun lalu, the derek trucks band boleh dibilang telah menatah karakter yang unik. musik mereka, dengan porsi slide guitar yang melimpah, selalu merupakan wujud ekspresi yang menggairahkan, penuh improvisasi, dan inspiratif –kelengkapan kombinasi yang langka. tapi mereka tak beruntung memperoleh perhatian yang pantas.

album baru ini –yang keenam untuk rekaman studio –barangkali juga tak bakal mengubah banyak keadaan itu, walau sebenarnya makin mengukuhkan apa yang sudah mereka capai selama ini. coba simak lagu pembuka, sebuah cover dari karya bob dylan, down in the flood. betapa terasa soulful, tulus, dan penuh vibrasi.

dibandingkan dengan album-album sebelumnya, terutama songlines (2006), album ini mestinya lebih mudah akrab di telinga. di sini bukan saja derek trucks, slide guitarist dan pendiri band, cenderung menurunkan porsi permainannya (yang toh tetap menawan) dan memberi kesempatan lebih banyak kepada rekan-rekannya. lebih dari itu, dengan bintang-bintang tamu seperti susan tedeschi (istri trucks, gitaris dan penyanyi blues) dan doyle bramhall ii (gitaris yang sudah membantu antara lain eric clapton), bobot blues dan r&b-nya lebih menonjol –dan karenanya secara keseluruhan album ini terasa lebih mudah di telinga.

dengan forumula itu, karakter vokal mike mattison, yang mungkin mengingatkan orang pada joe cocker, sungguh membubuhkan dimensi yang terasa berlapis-lapis. selain pada down in the flood, simak something to make you happy, don’t miss me, get what you deserve, dan days is almost gone. atau, perhatikan pula duetnya dengan tedeschi pada sweet inspiration, yang kental elemen gospelnya.

sangat terasa album ini digarap dengan penuh ketelitian, dengan fokus pada efek akhirnya terhadap perasaan pendengar. materinya terpilih. begitu pula susunannya (bagaimana, misalnya, nomor balada yang sangat meluluhkan seperti back where i started diletakkan menjelang akhir dan toh tetap sulit untuk lewat begitu saja) ini bukan hal mudah, dan tak banyak album belakangan ini yang menjalani proses serupa.

dengan album ini, the derek trucks band bukan saja telah memperpanjang katalognya. mereka pun sebenarnya telah menambah daftar album yang tak lekang oleh zaman.

[appeared in koran tempo, march 14, 2009]

setelah enam belas tahun merawat simakdialog, kelompok musik yang didirikannya pada 1993 demi keinginan untuk tetap bisa bermain jazz, baru belakangan inilah riza arshad merasa sudah berada di zona nyaman. tapi bukan berarti lalu dia akan menarik napas panjang dan menikmati apa yang sudah dicapainya.

“ini comfort zone yang justru membuka lebih banyak peluang,” katanya suatu siang di sebuah kedai kopi di plaza senayan, jakarta. “perlu kerja lebih keras untuk memanfaatkannya.”

mengenakan kaus oblong berwarna hijau tua dan celana kargo sewarna, pemain keyboard dan komposer berusia 36 tahun itu terlihat santai. sesekali dia membalas pesan pendek atau telepon yang masuk.

dari banyak alasan yang mungkin menopang suasana hatinya hari itu, tak berlebihan bila dibilang satu di antaranya adalah album kelima simakdialog.

dirilis pada oktober 2008, album berjudul demi masa itu bukan saja merupakan etalase yang solid bagi apa yang diangankannya sejak awal, melainkan juga bakal dirilis oleh moonjune records untuk pasar internasional. moonjune records adalah label independen dari amerika serikat yang digagas promotor leonardo pavkovic untuk “mendukung musik… di dalam kontinum musik evolusioner yang menempatkan jazz di satu ujung dan progressive rock di ujung yang lain”.

sebenarnya, album itu bukan yang pertama milik simakdialog yang dirilis oleh moonjune. pada 2007, moonjune merilis patahan, album yang merupakan rekaman pertunjukan simakdialog di goethe haus, jakarta, pada april 2005. dalam ulasannya di all about jazz, john kelman menulis, tentang album ini: “(inilah) salvo pertama yang brilian ke audiens yang jauh dari pinggiran pasifik.”

namun demi masa lebih dari sekadar lanjutan pendahulunya itu. jika patahan merupakan kemasan dari kejelian memilih susunan repertoar dari karya-karya yang sudah ada, sebagaimana album live pada umumnya, demi masa adalah sesuatu yang dimulai dari nol. ia ibarat temuan arkeologi setelah proses penggalian panjang. secara konsep, ia lebih otentik dan matang.

menurut riza, album terbaru itu merupakan penegasan identitas simakdialog dan ekspose sepenuhnya kendang, khususnya kendang sunda. mengapa kendang? “ini instrumen dahsyat,” katanya.

riza, yang mengaku akrab dengan musik sunda sejak kecil, membuktikan keyakinannya setelah total memilih instrumen itu –ketimbang drum –untuk simakdialog. dia melihat lebih banyak kemungkinan setelah meninggalkan drum.

bagi para peminat dan penggemar, sebenarnya yang memikat adalah bagaimana idiom kendang sunda bisa melebur begitu alami dengan elemen dan idiom jazz. dan riza benar: tak ada yang hilang, justru sentuhannya lain. hal ini terasa di rekaman maupun di panggung, seperti di teater salihara, jakarta, pertengahan bulan lalu. pukulan kendang yang ritmis, sesekali menikung ke sentakan-sentakan pencak, yang bagai sinkopasi drum, terdengar bagai pendarasan mantera yang bisa menimbulkan efek trance.

dan seperti hal itu belum cukup, masuk pula blok-blok solo gitar ala pat metheny/john scofield/adrian belew yang bagai dari “dunia lain” dan kaya efek dan terkadang agresif; serta lapisan-lapisan aneka bebunyian (soundscape) yang memperkaya tekstur musik secara keseluruhan.

tak satu pun dari semua itu yang absen di enam komposisi yang ada di dalam album. pada setiap komposisi, melodi yang menjadi tema atau motif bisa dimulai dengan chord voicing pada tuts piano akustik atau elektrik (rhodes), atau kombinasi antara piano akustik/elektrik dan gitar, atau unison seluruh instrumen. hampir di semua komposisi selalu terdapat bagian chorus yang mengesankan klimaks dari sebuah gerakan teratur yang terus-menerus.

“semua itu melalui proses yang membuat saya jadi seperti baru bisa main musik,” kata riza, tentang perjalanan menuju pencapaian mutakhir simakdialog itu.

menurut dia, simakdialog –kini terdiri atas riza (piano akustik, rhodes, soundscape), tohpati (gitar elektrik dan akustik, soundscape), aditya pratama (bas), endang ramdan (kendang sunda), erlan suwardana (kendang sunda, toys), cucu kurnia (toys), dan dave lumenta (synthesizer, soundscapes) –adalah kelompok yang “sangat laboratorium”. maksudnya: mereka banyak berdiskusi, melakukan brainstorming dan percobaan.

riza, yang pernah berguru kepada indra lesmana, memulai cikal-bakal simakdialog pada 1990. “mula-mula iseng, karena saya ingin tetap main jazz. kebetulan ada acara di tvri,” katanya, mengenang masa ketika banyak teman main band-nya yang meninggalkan jazz. waktu itu, dengan memakai nama dialogue, dia antara lain didukung oleh budjana, yang kini merupakan pendiri dan gitaris gigi.

budjana tak lama bergabung. riza sempat berpikir hendak membubarkan grupnya. tapi pada 1993 dia bertemu dengan tohpati. indro hardjodikoro (bas), dan arie ayunir (drum) lalu bergabung. untuk menghindari duplikasi nama dengan grup lain dari luar negeri, riza lalu memodifikasi nama grupnya menjadi simakdialog. dia membubuhkan kata “simak”, yang berarti mendengar dengan seksama, setelah menemukannya di kamus dan menyukainya.

mereka merilis album debut lukisan pada 1995, lalu menyusulnya dengan baur pada 1999. banyak yang mengendus pengaruh pat metheny group di kedua album ini. menurut riza, selama tujuh tahun pertama mereka memang banyak berkompromi dari sisi artistik. padahal riza membayangkan sejak awal simakdialog bisa menemukan identitas yang khas. “seperti yes, misalnya, yang musiknya ya hanya yes yang bisa memainkan,” katanya.

perubahan mulai terasa pada trance/mission, album ketiga. dirilis pada 2002, kendang mulai memperoleh porsi besar. jalu pratidina berperan di situ. judulnya memang sengaja dipilih begitu untuk menunjukkan adanya transisi. di album ini pula indro digantikan oleh aditya pratama. mereka berkesempatan tampil antara lain kathmandu jazz festival pada 2004.

perubahan lebih drastis ada di patahan. posisi jalu digantikan oleh endang ramdan. seorang penabuh kendang lagi melengkapi formasi, yakni emy tata. drum sudah sepenuhnya ditinggalkan. album dengan bintang tamu nyak ina raseuki –yang menyanyi di dua lagu –inilah yang memulai keberadaan simakdialog di daftar artis moonjune.

riza pertama kali mengenal pavkovic pada tahun 2000, saat ikut membantu discus, grup progressive rock yang dipimpin oleh iwan hasan, berkeliling amerika serikat. mereka berdua bertemu lagi di singapura tujuh tahun kemudian; waktu itu pavkovic mengundang riza menonton konser gitaris legendaris allan holdsworth. di sanalah pembicaraan mengenai kerja sama berlangsung.

“leonardo menaruh minat besar pada kekayaan musik tradisional indonesia,” kata riza.

berkat leonardo pula album terbaru simakdialog kini sedang mengantre untuk dirilis di pasar internasional. sementara proses untuk itu berlangsung, riza, bersama-sama personel simakdialog lainnya, terus melakukan konsolidasi –sambil mencari kesempatan yang pas untuk bermain di hadapan penggemarnya di mana pun. bagi mereka, bagaimanapun, horison memang masih terbentang jauh di depan.

[appeared in u-mag, march 2009]

« Newer Posts - Older Posts »