pertandingan yang berlangsung indah, dan tentu saja seru, selalu saya bayangkan sebagai komposisi musik yang masuk kategori epik. ada banyak judul yang bisa berderet di kepala. wajar karenanya, setiap kali pertemuan antara dua tim berakhir biasa saja, seperti saat inggris melawan paraguay dalam ajang piala dunia 2006, ketika itulah pula saya merindukan terjadinya pertandingan yang menawan, biarpun hasilnya imbang atau bahkan tanpa gol — yang penting bisa disaksikan dengan epik sebagai latar belakang.
epik adalah komposisi yang lazim dalam genre progressive rock, cabang musik rock yang mengakomodasi unsur musik lain seperti klasik, jazz, folk, apa saja. epik selalu menjadi media untuk mengemas tema besar, serius, atau paling tidak yang mustahil disampaikan hanya dalam waktu 4-5 menit seperti lagu-lagu pada umumnya. sebagai contoh bisa disebut supper’s ready (dari genesis, berdurasi 23 menit) yang mengisahkan pergulatan antara yang baik dan yang jahat; atau grendel (marillion, 17 menit) yang terinspirasi buku karya john c. gardner tentang monster dalam legenda kuno anglo-saxon; atau duel with the devil (transatlantic, 26 menit) yang bertema spiritual.
dibandingkan dengan komposisi jenis musik yang lain, epik tidak semata mengandung melodi, harmoni, ritme, dan tempo yang tersusun rapi menurut pola tertentu. epik, di samping durasinya yang selalu berlipat-lipat dari lagu biasa, dan kebanyakan terdiri atas beberapa bagian (movement dalam musik klasik), selalu juga menyajikan inovasi dan kejutan, meliputi struktur, pola gerakan atau ritme, ketukan, tempo, dan bebunyian. umumnya pemusik berkemampuan teknis tinggi saja yang bisa melakukannya.
karena pertandingan adalah pertarungan untuk mencari kemenangan (walau bisa juga berakhir seri pada babak-babak awal), epik yang seketika menyala dalam kepala saya adalah the gates of delirium, yang bertemakan perang. nomor pembuka album yes berjudul relayer (1974) ini terinspirasi novel klasik war and peace karya leo tolstoy.
berdurasi hampir 22 menit, the gates dengan ketat tapi rapi menata vokal yang bagai datang dari dunia lain, instrumentasi yang berlapis-lapis dan terkadang seperti berkonflik satu dengan yang lain, bebunyian yang bisa terasa ajaib, ritme dan tempo yang bagai roller coaster mengaduk-aduk emosi pendengarnya… hampir apa saja. ada suasana agresif yang dibangun perlahan-lahan sepanjang 16 menit pertama. tapi ada bagian akhir yang lembut, yang merepresentasikan suasana hening setelah senapan dan meriam benar-benar berhenti menyalak. mungkin bisa dibilang ada kekacauan yang terorganisasi.
suasana seperti itu sangat terasa –kalaupun tidak, ya, bisa dibayangkanlah –dalam pertandingan pembukaan piala dunia 2006 yang menghadapkan jerman dengan kosta rika. bukan saja jerman, tim unggulan, yang berinisiatif menyerang sejak awal. kosta rika yang pupuk bawang pun seperti datang dari barisan penganut aliran “pertahanan terbaik adalah menyerang”. saling gempur dari kedua tim tidak dilakukan secara ngawur. semuanya tertata, setiap gerakan terukur. ada manuver individu, ada aksi ramai-ramai. pertandingan jadi enak ditonton.
memperagakan permainan seperti itulah seharusnya tantangan yang luar biasa besar bagi tim inggris, yang gagal melangkah ke putaran puncak piala eropa 2008. mengapa? tak bisa dibantah bahwa pioner progressive rock pada akhir 1960-an adalah band-band inggris. selain yes dan genesis, ada king crimson, emerson, lake and palmer, gentle giant, jethro tull, camel, van der graaf generator. mereka ingin bebas dari kemapanan, mau mencoba hal baru. jika sejarah adalah indikasi, gerakan serupa bisa terjadi kapan saja dan di bidang apa saja, termasuk sepakbola. gaya bermain kick and rush, di mana bola sedapat mungkin lekas diumpankan ke daerah pertahanan lawan, betapapun telah menjadi ciri khas tim inggris, tak pernah memberikan ganjaran kejayaan sejak 1966. apa tidak terpikir untuk mencoba yang lain?
peluang untuk itu sangat terbuka. mau secara total, atau perlahan-lahan, sama saja. modal untuk melakukannya ada: deretan pemain hebat. mungkinkan hal ini terjadi di putaran pra-piala dunia berikutnya untuk wilayah eropa?
(the original of this slightly-updated piece was published in koran tempo sometime in 2006)