setelah enam belas tahun merawat simakdialog, kelompok musik yang didirikannya pada 1993 demi keinginan untuk tetap bisa bermain jazz, baru belakangan inilah riza arshad merasa sudah berada di zona nyaman. tapi bukan berarti lalu dia akan menarik napas panjang dan menikmati apa yang sudah dicapainya.
“ini comfort zone yang justru membuka lebih banyak peluang,” katanya suatu siang di sebuah kedai kopi di plaza senayan, jakarta. “perlu kerja lebih keras untuk memanfaatkannya.”
mengenakan kaus oblong berwarna hijau tua dan celana kargo sewarna, pemain keyboard dan komposer berusia 36 tahun itu terlihat santai. sesekali dia membalas pesan pendek atau telepon yang masuk.
dari banyak alasan yang mungkin menopang suasana hatinya hari itu, tak berlebihan bila dibilang satu di antaranya adalah album kelima simakdialog.
dirilis pada oktober 2008, album berjudul demi masa itu bukan saja merupakan etalase yang solid bagi apa yang diangankannya sejak awal, melainkan juga bakal dirilis oleh moonjune records untuk pasar internasional. moonjune records adalah label independen dari amerika serikat yang digagas promotor leonardo pavkovic untuk “mendukung musik… di dalam kontinum musik evolusioner yang menempatkan jazz di satu ujung dan progressive rock di ujung yang lain”.
sebenarnya, album itu bukan yang pertama milik simakdialog yang dirilis oleh moonjune. pada 2007, moonjune merilis patahan, album yang merupakan rekaman pertunjukan simakdialog di goethe haus, jakarta, pada april 2005. dalam ulasannya di all about jazz, john kelman menulis, tentang album ini: “(inilah) salvo pertama yang brilian ke audiens yang jauh dari pinggiran pasifik.”
namun demi masa lebih dari sekadar lanjutan pendahulunya itu. jika patahan merupakan kemasan dari kejelian memilih susunan repertoar dari karya-karya yang sudah ada, sebagaimana album live pada umumnya, demi masa adalah sesuatu yang dimulai dari nol. ia ibarat temuan arkeologi setelah proses penggalian panjang. secara konsep, ia lebih otentik dan matang.
menurut riza, album terbaru itu merupakan penegasan identitas simakdialog dan ekspose sepenuhnya kendang, khususnya kendang sunda. mengapa kendang? “ini instrumen dahsyat,” katanya.
riza, yang mengaku akrab dengan musik sunda sejak kecil, membuktikan keyakinannya setelah total memilih instrumen itu –ketimbang drum –untuk simakdialog. dia melihat lebih banyak kemungkinan setelah meninggalkan drum.
bagi para peminat dan penggemar, sebenarnya yang memikat adalah bagaimana idiom kendang sunda bisa melebur begitu alami dengan elemen dan idiom jazz. dan riza benar: tak ada yang hilang, justru sentuhannya lain. hal ini terasa di rekaman maupun di panggung, seperti di teater salihara, jakarta, pertengahan bulan lalu. pukulan kendang yang ritmis, sesekali menikung ke sentakan-sentakan pencak, yang bagai sinkopasi drum, terdengar bagai pendarasan mantera yang bisa menimbulkan efek trance.
dan seperti hal itu belum cukup, masuk pula blok-blok solo gitar ala pat metheny/john scofield/adrian belew yang bagai dari “dunia lain” dan kaya efek dan terkadang agresif; serta lapisan-lapisan aneka bebunyian (soundscape) yang memperkaya tekstur musik secara keseluruhan.
tak satu pun dari semua itu yang absen di enam komposisi yang ada di dalam album. pada setiap komposisi, melodi yang menjadi tema atau motif bisa dimulai dengan chord voicing pada tuts piano akustik atau elektrik (rhodes), atau kombinasi antara piano akustik/elektrik dan gitar, atau unison seluruh instrumen. hampir di semua komposisi selalu terdapat bagian chorus yang mengesankan klimaks dari sebuah gerakan teratur yang terus-menerus.
“semua itu melalui proses yang membuat saya jadi seperti baru bisa main musik,” kata riza, tentang perjalanan menuju pencapaian mutakhir simakdialog itu.
menurut dia, simakdialog –kini terdiri atas riza (piano akustik, rhodes, soundscape), tohpati (gitar elektrik dan akustik, soundscape), aditya pratama (bas), endang ramdan (kendang sunda), erlan suwardana (kendang sunda, toys), cucu kurnia (toys), dan dave lumenta (synthesizer, soundscapes) –adalah kelompok yang “sangat laboratorium”. maksudnya: mereka banyak berdiskusi, melakukan brainstorming dan percobaan.
riza, yang pernah berguru kepada indra lesmana, memulai cikal-bakal simakdialog pada 1990. “mula-mula iseng, karena saya ingin tetap main jazz. kebetulan ada acara di tvri,” katanya, mengenang masa ketika banyak teman main band-nya yang meninggalkan jazz. waktu itu, dengan memakai nama dialogue, dia antara lain didukung oleh budjana, yang kini merupakan pendiri dan gitaris gigi.
budjana tak lama bergabung. riza sempat berpikir hendak membubarkan grupnya. tapi pada 1993 dia bertemu dengan tohpati. indro hardjodikoro (bas), dan arie ayunir (drum) lalu bergabung. untuk menghindari duplikasi nama dengan grup lain dari luar negeri, riza lalu memodifikasi nama grupnya menjadi simakdialog. dia membubuhkan kata “simak”, yang berarti mendengar dengan seksama, setelah menemukannya di kamus dan menyukainya.
mereka merilis album debut lukisan pada 1995, lalu menyusulnya dengan baur pada 1999. banyak yang mengendus pengaruh pat metheny group di kedua album ini. menurut riza, selama tujuh tahun pertama mereka memang banyak berkompromi dari sisi artistik. padahal riza membayangkan sejak awal simakdialog bisa menemukan identitas yang khas. “seperti yes, misalnya, yang musiknya ya hanya yes yang bisa memainkan,” katanya.
perubahan mulai terasa pada trance/mission, album ketiga. dirilis pada 2002, kendang mulai memperoleh porsi besar. jalu pratidina berperan di situ. judulnya memang sengaja dipilih begitu untuk menunjukkan adanya transisi. di album ini pula indro digantikan oleh aditya pratama. mereka berkesempatan tampil antara lain kathmandu jazz festival pada 2004.
perubahan lebih drastis ada di patahan. posisi jalu digantikan oleh endang ramdan. seorang penabuh kendang lagi melengkapi formasi, yakni emy tata. drum sudah sepenuhnya ditinggalkan. album dengan bintang tamu nyak ina raseuki –yang menyanyi di dua lagu –inilah yang memulai keberadaan simakdialog di daftar artis moonjune.
riza pertama kali mengenal pavkovic pada tahun 2000, saat ikut membantu discus, grup progressive rock yang dipimpin oleh iwan hasan, berkeliling amerika serikat. mereka berdua bertemu lagi di singapura tujuh tahun kemudian; waktu itu pavkovic mengundang riza menonton konser gitaris legendaris allan holdsworth. di sanalah pembicaraan mengenai kerja sama berlangsung.
“leonardo menaruh minat besar pada kekayaan musik tradisional indonesia,” kata riza.
berkat leonardo pula album terbaru simakdialog kini sedang mengantre untuk dirilis di pasar internasional. sementara proses untuk itu berlangsung, riza, bersama-sama personel simakdialog lainnya, terus melakukan konsolidasi –sambil mencari kesempatan yang pas untuk bermain di hadapan penggemarnya di mana pun. bagi mereka, bagaimanapun, horison memang masih terbentang jauh di depan.
[appeared in u-mag, march 2009]
wah, dahsyat.
dimana ya aku dapat membeli album patahan dan demi masa? trims
beberapa kali saya masih sempat lihat ‘demi masa’ di aquarius pondok indah. yang patahan memang sudah susah dicari. tapi coba saja. siapa tahu.