tak banyak orang yang bisa melupakan begitu saja sukses yang pernah mereka capai. robert plant termasuk di antara sedikit orang itu. dan dia termasuk istimewa: dia bahkan membuat sukses lain yang boleh dibilang di jalur yang sama sekali berbeda.
siapa bisa membantah fakta betapa led zeppelin merupakan band yang pernah sangat dihormati berkat prestasi artistik, sukses komersial, dan pengaruhnya yang luas. pada masa mereka berjaya, di tahun-tahun 1970-an, mereka bahkan ke sana-sini untuk tur dengan menggunakan pesawat pribadi (yang dinamai the starship). dan mereka pun, kini, bersama deep purple dan black sabbath, dianggap punya pengaruh besar terhadap perkembangan musik rock –(heavy) metal, khususnya.
tetapi ketika drummer john bonham meninggal pada september 1980 dan led zeppelin memutuskan untuk membubarkan diri, bagi plant, ya memang begitulah adanya. dia bukan tak berduka. tapi memang dia melihat tak ada alasan yang kuat untuk melanjutkan keberadaan band; dia setiap pada pendirian ini.
plant lalu memutuskan untuk melanjutkan kariernya sebagai solo artist. dia sempat ikut reuni, untuk keperluan pengumpulan dana kemanusiaan (live aid pada 1985) dan konser perayaan 40 tahun atlantic records (1988). dia juga sempat merilis dua album bersama gitaris jimmy page (no quarter: jimmy page and robert plant unledded dan walking into clarksdale). meski begitu, semuanya boleh dibilang bagaikan passing note saja.
dan plant tetap konsisten dengan jalur solonya (dia selalu menegaskan tak ingin dikenang selamanya sebagai “mantan vokalis led zeppelin”. dan menyimak katalognya selama itu harus diakui dia terhitung berhasil: dia perlahan-lahan terus berubah. belakangan dia bahkan meleburkan elemen world music dan eksplorasi mistik dalam karyanya (simak, misalnya, mighty rearranger, album yang dirilis pada 2005 bersama band-nya, the strange sensation).
maka, ketika dia merilis album yang merupakan kolaborasinya dengan alison krauss, seorang bintang bluegrass (!), wajar bila sebagian orang yang mengikuti kariernya sama sekali tak terkejut. bagi mereka, duet yang di atas kertas bisa tampak ganjil atau mustahil itu sesungguhnya merupakan kelanjutan yang logis saja dari titian perjalanan kreativitas plant.
seorang bernama bill flanagan-lah yang menyarankan plant untuk bernyanyi dengan krauss. plant tak pernah berpikir akan melangkahkan kaki ke tujuan itu. tapi, kata plant, “dia terus-menerus bilang kepada saya: ‘kau tahu, dengan suaramu, pernahkah kau berpikir untuk bernyanyi dengan alison krauss? aku yakin suara kalian bakal luar biasa.’”
perlu sejumlah liku-liku sebelum akhirnya plant memutuskan untuk melakukannya. singkat kata, duet itu diwujudkan, dengan bantuan produser t-bone burnett. dan mengenai hasilnya, sebuah album berjudul raising sand, plant sangat bersuka-cita. “saya sudah berkeliling blok, tapi saya belum pernah di blok itu. tempat itu merupakan tujuan yang menyenangkan,” katanya.
lima piala grammy tahun ini, yang dimenangkannya bersama krauss (dan tentu saja para produser, engineer, dan siapa saja yang terlibat dalam proses rekaman), awal pekan ini membuktikan betapa hal yang menyenangkan bagi plant dan para pembeli albumnya pun sama menyenangkannya bagi para juri.
bagi plant, jelas, sukses bisa saja dicapai tanpa harus bertahan dengan nama besar led zeppelin.