gitaris nuno bettencourt duduk di kursi bersebelahan dengan vokalis gary cherone. gitar akustik elektrik berada di pangkuannya. keringat membuat badannya berkilat disiram cahaya lampu panggung. gedung tennis indoor, gelora bung karno, jakarta, senin malam itu memang terasa panas.
“saya rasa kalian sudah tahu apa lagu selanjutnya,” katanya.
gitar dia bunyikan. dan cherone pun berdiri, mengangkat mikrofon. “you will remember when this is blown over/and everything’s all by the way….”
penonton spontan menyambar: “when i grow older/i will be there by your side/to remind you how I still love you….”
lagu love of my life milik queen itu tak sampai selesai. bettencourt berhenti memainkan gitarnya. sejenak. dia sambung lagi dengan intro yang siapa pun di dalam gedung itu pasti teringat pada satu lagu, milik led zeppelin: stairway to heaven. tapi dia juga segera berhenti. “bukan ini,” katanya.
sejurus kemudian petikan gitarnya bergema, dan kali ini penonton benar-benar meledak. intro perkusifnya tak salah lagi. setelah menggetarkan gedung dengan lagu-lagu bertempo cepat, dan hanya sedikit berbasa-basi (“selamat malam, jakarta” dan “terima kasih,”), bettencourt dan cherone singgah di titik yang mereka tahu pasti ditunggu-tunggu: more than words. inilah balada yang pada 1991 mendaratkan nama extreme, band mereka, di puncak tangga lagu-lagu versi billboard 100 di amerika serikat.
cherone praktis tak perlu bersusah payah menyanyikan seluruh lirik lagu itu. penonton dengan sukarela menggantikannya.
trik jitu membuat lagu yang sudah sangat akrab di telinga orang menjadi bagai punya daya tarik baru itu merupakan bagian dari penampilan extreme pertama kali di jakarta. grup musik asal malden, massachusetts, yang populer pada 1990-an dan pernah 13 tahun tak menghasilkan apa-apa ini menyajikan repertoar yang ketat dan rapi, berupa lagu-lagu dari lima album mereka sepanjang 1989-2008 –dengan kejutan di sana-sini, yang menunjukkan kepada siapa mereka menaruh hormat sebagai musisi. mereka juga terlihat lepas, mengerahkan stok aksi panggung yang tak ada habisnya.
“song list-nya pas banget dan spontanitas mereka bikin kita terhibur,” kata iman ismar, basis dan komposer imanissimo, yang mengaku sering membawakan lagu-lagu extreme saat bermain band di sekolah menengah atas.
konser yang diselenggarakan oleh original production itu, bagian dari rangkaian tur keliling dunia take us alive, dimulai sekitar pukul 20.15. di tengah kegelapan, para personel extreme –selain bettencourt dan cherone, ada pat badger (bas) dan kevin figueiredo (drum) –naik ke panggung dan membuka penampilan dengan decadence dance. nomor yang diambil dari album pornograffitti (1990) ini, dengan ramuan hard rock, funk, dan metal-nya, begitulah musik extreme, adalah pembuka yang pas. sebagian dari sekitar 2.000 penonton, mereka yang berada kelas berdiri, bergerak menggila.
di panggung, cherone, yang berkemeja lengan pendek hitam dengan rompi yang dibuka kancingnya, seperti punya energi tanpa batas. lagu berganti lagu, dia tanpa henti meliuk-liuk dan bergerak ke sana-sini, tiba-tiba di sudut kanan, tiba-tiba di sudut kiri, atau malah sudah di depan perangkat drum; dia juga berkali-kali memutar-mutar tubuhnya bagai penari darwis. saat lagu play with me, dia bahkan memanjat tumpukan pengeras suara. tata cahaya nan menawan membubuhkan efek mewah berlipat-lipat dan memperkuat suasana setiap lagu.
namun cherone tak sendirian aktif dan atraktif di panggung. bettencourt dan badger tak kalah. mereka berdua terkadang bertukar tempat, di sudut kiri dan kanan panggung, melompat-lompat, atau tiba-tiba berbarengan mundur dan duduk di depan perangkat drum.
dan bettencourt, harus diakui, adalah magnet dari pertunjukan itu bagi sebagian penonton. dia bukan gitaris kebanyakan. dengan washburn-nya, jari-jarinya seperti pembalap formula satu di papan nada. dia meniti not-not bagaikan michael schumacher menaklukkan tikungan-tikungan sulit. tapi dia pun sanggup menghasilkan motif (riff) yang liat, melodi yang aksentuatif, dan sinkopasi yang seksi. pada gitar akustik sama saja. dia memperlihatkannya ketika memainkan instrumental midnight express, sebelum berduet dengan cherone menyanyikan more than words.
bonusnya: dia juga senang bergurau. suasana jadi akrab. saat hendak memainkan midnight express, pada hampir pertengahan konser, misalnya. ketika badger sudah memainkan basnya, sebagai pengiring, tiba-tiba bettencourt memberi tanda “potong leher”. musik berhenti. “i’m not sure you wanna hear this,” katanya. penonton tak sependapat. “kalian yakin mau mendengarkannya?” dia bertanya. penonton kompak dengan koornya: “ya.” musik hidup kembali.
bukan tak ada keluhan, sebenarnya. “akustik gedung tennis indoor sangat tidak layak untuk pertunjukan musik. gedung ini (memang) untuk pertandingan olahraga,” kata iman.
sepanjang konser, memang itulah sisi lemahnya: gaung suara yang keluar dari pengeras suara terasa hampir di setiap sudut. bukan salah extreme.
toh penonton tak peduli. dan mereka tak beranjak ketika bettencourt dan kawan-kawan berpamitan seusai membawakan lagu ke-15, get the funk out. teriakan “we want more” bersahut-sahutan di dalam gedung. extreme memang tampil lagi, dengan am i ever gonna change dan hole hearted. ini pun tak cukup. tapi tampaknya bettencourt dan kawan-kawan juga tak ingin segera meninggalkan panggung. “ini penampilan terakhir kami dalam tur kali ini,” kata bettencourt. “and jakarta, you are amazing,” kata cherone. “kami akan bawakan sesuatu yang spesial.”
sesuatu yang spesial: satu medley yang terdiri atas i want to break free, fat bottomed girl, dan tie your mother down. akhir konser menjadi bukan saja hadiah untuk penonton, melainkan juga tribute untuk queen.
[published in koran tempo, december 18, 2008]
emang Cherone lebih baik tetap di Extreme, daripada jadi pecundang di van halen….betul mas ?
setuju. memang lebih pas di extreme, mas.