saya takjub mengetahui betapa eric clapton bisa sangat fasih menuturkan kisah hidupnya dalam clapton: the autobiography. saya jadi semakin merindukan tibanya masa ketika ada musisi kita yang memutuskan untuk melompat ke gerbong yang sama.
apa yang telah dilakukan clapton sungguh berbeda dengan jawabannya manakala dia diminta menjelaskan makna musiknya bagi dirinya sendiri. musisi blues asal ripley, sebuah desa di surrey, inggris, ini, misalnya, menjawab: “sangat sulit berbicara tentang lagu-lagu ini secara mendalam, namanya juga lagu.”
di buku yang terbit pertama kali tahun lalu –melengkapi album kompilasi lagu-lagu pilihan dari 30 tahun lebih masa kariernya –itu, dia memang tak menulis dengan bobot literer ala memoar. tapi dia jujur dan apa adanya, sama sekali tak berusaha memoles citra. dia juga seperti berkata-kata dengan rileks di hadapan pembaca. barangkali di luar dugaannya sendiri, boleh dibilang dia telah menjadikan bukunya sebagai tandingan bagi otobiografi atau memoar mana pun yang cenderung pretensius.
saya setuju jika ada yang mengatakan bahwa kejujuran memang kunci yang membuka jalan bagi tugas utama penulisan buku itu, atau buku serupa. di bukunya, clapton dengan utuh mendeskripsikan bagaimana dia menjadi semacam harry potter dalam sejarah rock’n'roll: bagaimana dia bisa bertahan hidup melewati berbagai episode “terjun bebas” dan tragedi. sejak mengetahui bahwa suami istri yang dia kira orang tuanya ternyata adalah neneknya dan kakek tirinya, sampai suatu masa hidupnya memang bergerak bagai roller-coaster berskala raksasa.
nama clapton melambung dengan kecepatan meteor, dari the yardbirds pada pertengahan 1960-an ke cream, blind faith, dan derek and the dominos pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. tapi popularitas tak pernah menghapuskan perasaannya sebagai anak buangan –dia lahir dari percintaan singkat ibunya dengan seorang prajurit kanada yang sudah beristri. dia menemukan sahabat pada heroin dan alkohol, di samping blues (terutama pada robert johnson nan mistis). dua substansi yang menyebabkan kecanduan itulah yang beberapa kali mengempaskannya, yang terparah pada 1981, 15 tahun setelah seseorang menorehkan grafiti “clapton is god” di sebuah tembok di london.
dia menulis, tentang hari saat dia ditemukan di gudang rumahnya hanya berbaju dalam hijau yang membuatnya mirip kermit the frog, kodok dalam the muppet show, setelah semalaman berbaring di sana karena mabuk: “pattie bisa dimengerti marah besar. dia membawa saya ke lantai atas dan membaringkan saya di ranjang. ‘kau tinggal di sini sampai setiap orang pergi,’ katanya kepada saya. ‘kami akan merayakan Natal tanpamu,’ dan dia meninggalkan kamar, mengunci pintu.”
dengan bantuan manajernya, dia kemudian mendaftar untuk menjalani pengobatan di hazelden, yang waktu itu disebut-sebut sebagai tempat terbaik di dunia bagi para pecandu alkohol. ketika tiba di sana, dia menjadi paham kenapa “ketika mereka berusaha membawa elvis ke sana, dia tampaknya hanya melihatnya sekali dan menolak untuk keluar dari limonya”.
***
clapton hanya satu di antara musisi-musisi kelas dunia yang menulis otobiografi memukau yang kebetulan saya baca. sebelumnya ada sting. buku bekas vokalis dan pembetot bas the police ini, broken music (2005), memang hanya berisi riwayat keluarganya, masa kecilnya, dan kehidupan remajanya –membosankan buat mereka yang mengharapkan kisah-kisah di sekitar the police dan solo kariernya. tapi dia toh menulis dengan cerdas, sebagaimana lirik dalam lagu-lagunya. dan barangkali inilah otobiografi bintang rock pertama yang mengutip novelis p.g. wodehouse dan band progressive rock era 1970-an gong.
sting, yang bernama asli gordon sumner, menggunakan banyak metafora. dia sengaja melakukannya untuk “menjadikan prosa hidup saya yang membosankan sebagai semacam puisi transenden”. dia, misalnya, menggambarkan hubungannya dengan atasannya semasa bekerja di kantor pajak, sebelum menjadi bintang rock, sebagai “bergerak bersama-sama tanpa susah payah seperti perenang (nomor) sinkronisasi di lautan rindu”.
tentang pacar pertamanya, dia antara lain menulis: “kami mengeksplorasi keintiman kami seperti anak-anak yang membuat janji dengan darah di kegelapan, berusaha mengamankan kargo masa depan yang tak pasti dalam pinggul dan tangan kami yang saling sentuh dengan kikuk dan dalam diam”.
dia pun blak-blakan mengakui bahwa panggilan hatinya sesungguhnya adalah musik pop, bukan reggae-punk ala the police. saat pertama kali membentuk band, katanya, “saya menyanyikan lagu-lagu cinta yang lembut.” tapi, “saya juga menyadari bahwa ada peluang dari keadaan kacau, dan bahwa saya sangat bisa bermetamorfosa, menyesuaikan diri dengan iklim yang ada….”
tak lama setelah sting saya membaca buku nick mason. selain jujur dan menuangkan detail yang berwarna-warni, jauh lebih kaya ketimbang yang terdapat dalam buku clapton dan sting, drummer pink floyd ini bahkan melengkapi bukunya, inside out: a personal history of pink floyd (2005), dengan riset mendalam dan wawancara dengan sejumlah sejawatnya di masa lalu. dan lebih dari itu, dia pun membumbuinya dengan humor yang gurih.
misalnya tentang kesulitannya untuk mengisi bagian drum saat rekaman album baru setelah bertahun-tahun tak melakukannya. dia menulis: “dengan tekanan waktu, saya menyerahkan sejumlah bagian kepada beberapa pemain pocokan terbaik di los angeles… satu perasaan yang ganjil, seperti menyerahkan mobilmu kepada michael schumacher. ini bukan sikap seorang pecundang, tapi maksud saya, saya lalu harus mempelajari bagian drum terkutuk itu agar bisa memainkannya dalam konser (pengalaman yang tersimpan dalam kategori ‘tidak lagi’).”
atau ketika mereka memperoleh kesempatan bertemu dengan vaclav havel, sastrawan yang menjadi presiden republik cek, dalam rangkaian tur pada 1994: “beberapa di antara kami telah menyelesaikan pekerjaan rumah dengan membaca sejumlah bukunya dalam perjalanan untuk menunjukkan sedikit pengetahuan mengenai karya-karyanya –dan menduga-duga apakah vaclav begadang semalaman dengan koleksi cd-nya. beberapa menterinya ternyata pernah menjadi kritikus rock. saya sempat bertanya-tanya apakah polisi rahasia rezim baru itu kini mengulas album (musik).”
***
sebenarnya, walau skala popularitasnya bersifat lokal, banyak musisi kita yang perjalanan hidupnya tak kalah menarik. paling tidak ada bagian-bagian yang bisa menjadi teladan atau pelajaran. apalagi musisi rock. seperti halnya clapton, tak sedikit dari mereka yang pernah kecanduan tapi lalu berhasil menyembuhkan diri dan terus melanjutkan karier –walau ada pula yang memilih pindah jalur dan sepenuhnya menjauhi musik, setidaknya yang komersial; atau ada yang malah masih berkubang di lumpur yang sama dan tanpa berkarya sama sekali.
namun sejauh ini tak ada satu pun yang membagikan pengalamannya dengan menulis buku. harus diakui, menulis buku memang bukan salah satu terminal yang disinggahi musisi kita. buku-buku yang ada, yang sempat ditulis tentang musisi kita, merupakan karya orang lain. dan andaikan ada yang melakukannya sendiri, belum tentu ada penerbit yang berminat.
namun, di masa ketika prinsip do-it-yourself sudah merasuki banyak bidang seperti dewasa ini, ketika merilis album musik juga sudah tak perlu perusahaan rekaman, penerbit mestinya bukanlah rintangan yang serius. yang dibutuhkan adalah kemauan, dedikasi, dan… ya, ibarat belajar berenang, nyebur saja, seperti dilakukan oleh clapton, sting, dan mason. “get it down now,” kata clapton. mason malah punya siasat yang jitu: dia menganggapnya sebagai proyek solo albumnya.
saya yakin ada banyak cara untuk mewujudkannya. barangkali termasuk memanfaatkan jasa ghost writer, penulis bayangan. yang penting, seperti kata clapton, “sebelum ingatan benar-benar hilang.” ya, sebelum lupa akhirnya mengerangkeng niat untuk melakukan hal baik apa saja, selamanya.
[published in koran tempo, july 27 2008]
Mas Kunangkunangku … ulasan ini top banget! Saya baca di edisi cetaknya KT Minggu, Ruang Baca.
Menginspirasi saya buat membahas Genesis “chapter & verse” .. buat Ruang Baca yad. Insya Allah disetujui Koran Tempo …
Salam,
G
sip, mas. kami tunggu.