musik tanpa nyanyian. betapa banyak orang yang sulit bisa menikmatinya. tapi mengapa ada saja musisi yang sengaja memilih jalur itu dan konsisten, atau ada yang memilihnya sebagai statement personalnya sebagai musisi?
mungkin jawaban yang tepat adalah pertanyaan yang senada tentang, misalnya, mengapa orang suka aliran musik tertentu. atau, barangkali lebih pas lagi: mengapa tidak?
tetapi, dalam sejarahnya, tepatnya sejarah musik pop dan rock, musik instrumental memang ibarat hidangan sampingan saja di sebuah restoran. ada, hanya tidak banyak –secukupnya saja.
tidak terkecuali instrumental gitar. dulu, pada pertengahan 1950-an hingga pertengahan 1960-an, muncul the ventures dan the shadows, yang terinspirasi oleh the fireballs. gitaris hank marvin dari the shadows bahkan menjadi hero bagi banyak gitaris, di antaranya pete townshend (the who), mark knopfler (dire straits), dan bahkan frank zappa. kini, dengan barisan yang diperkuat antara lain oleh joe satriani, steve vai, eric johnson, dan marty friedman –mereka adalah penerus para virtuoso seperti jeff beck, al di meola, dan steve morse (dixie dregs, steve morse band) –instrumental gitar ya segitu-segitu saja. tidak berarti buruk.
yang jelas, saya salut terhadap mereka yang gigih menapaki jalur itu. mungkin malah bisa dibilang merawatnya. apalagi bila itu dilakukan oleh musisi lokal. yang saya tahu, rasanya juga tidak ada yang lain, budjana dan tohpati-lah yang menekuninya. mereka bisa saja punya kesibukan lain –budjana ngeband dengan gigi, sedangkan tohpati menggarap musik untuk artis lain. toh, di luar itu, produktivitas mereka untuk menambah katalog album-album instrumental tergolong tinggi. dan bagusnya pula, ini dia: mereka sukses menggelar konser, bareng-bareng maupun sendiri-sendiri.
saya menonton konser tohpati tadi malam di graha bhakti budaya taman ismail marzuki. gedung berkapasitas 500-an kursi itu penuh oleh penonton. pertunjukan yang sama sekali tidak mengecewakan. sangat menawan. performa yang tanpa cela, dengan aransemen musik yang tergarap rapi –melibatkan sepasukan penggesek biola dan cello (namanya gee string!) yang bermain kompak, didukung oleh tata suara yang bulat dan sungguh stereo. di luar permainan gitarnya yang elok, tohpati pun bisa lepas berkomunikasi dengan penonton; beberapa kali dia mengundang gelak tawa penonton.
melihat animo dan antusiasme penonton, rasanya tak berlebihan bila dikatakan bahwa ada ceruk di jalur itu –yang dimanfaatkan dengan baik oleh promotor. hal ini barangkali karena, kebetulan, musik tohpati adalah paduan antara jazz dan pop, yang lebih gampang menerobos telinga penikmat musik. ini jelas berbeda dengan musik, katakanlah, joe satriani atau marty friedman, atau –apalagi –steve vai. atau, bisa jadi pula karena tohpati yang sebelumnya dikenal lewat bandnya yang sempat populer, halmahera. tapi apa pun, pertunjukan serupa mestinya bisa lebih banyak lagi. paling tidak agar ada muka-muka baru yang mau menempuh arah yang sama.