ibarat sebuah konstruksi, riff dalam musik rock –juga genre musik pada umumnya yang diturunkan dari rock –adalah kerangka utama. di situlah aneka macam bentuk ditumpukan. bentuk-bentuk ini pula yang lalu dipoles dengan beragam warna.
jadi, sebenarnya, riff atau yang dalam musik klasik dikenal sebagai ostinato (yakni motif atau pola ritmis atau bagian dari melodi yang muncul secara ajek dalam suatu lagu) hanyalah sebagian saja dari suatu “bangunan” lagu. sebagian yang lain, yang bisa merupakan “bentuk” dan “warna”, tak lain adalah melodi. umumnya melodi inilah yang menjadi daya tarik pertama suatu lagu –apakah lagu itu masuk ke telinga pendengarnya atau tidak.
selama bertahun-tahun melodi memerankan “fungsi” itu. selama bertahun-tahun pula pencipta lagu bekerja keras untuk “menemukan” melodi yang sanggup memikat penggemar musik.
cerita tentang pertemuan antara musisi legendaris ray charles dan rapper puff diddy berikut ini menunjukkan pentingnya melodi dalam apa yang disebut musik. penuturnya tak lain adalah saul hudson alias slash, mantan gitaris guns n’ roses (yang kini memperkuat formasi velvet revolver). slash mengatakan, “saya kira puff diddy –p-diddy atau apa pun dia dipanggil sekarang ini –yang bertemu ray charles. saya sedang bekerja bareng dengan ray charles waktu itu dan dia memberi tahu saya bagaimana dia bertemu dengan dia [puff diddy] dan mereka berbicara tentang musik rap dan [puff] menjelaskan kepadanya tentang beat dan ray bertanya, ‘jadi di mana melodinya?’ puff menjawab, ‘melodinya memang tidak ada.’ dan ray berkata, ‘bagaimana mungkin kau punya musik tanpa melodi?’”
slash, seperti dia kemukakan kepada majalah classic rock, tergolong musisi yang fanatik pada unsur melodi yang bagus dalam lagu. dan dia merasa gelisah terhadap situasi musik modern dewasa ini. percakapan antara ray charles dan puff diddy itu, menurut dia, dengan tepat menyimpulkan ke arah mana musik bergerak.
sebut saya kuno atau apa saja, tapi saya setuju dengan slash, juga siapa pun yang berada di kubu yang sama. buat saya, tanpa melodi, lagu atau musik rasanya hanyalah kerangka, tulang-tulang, dari rumah yang belum selesai dibangun, dan kita pasti masuk angin bila tinggal di sana.
Diddy hanya mengulang apa yang dilakukan nenek moyangnya dari Afrika sana yang berekspresi dalam bebunyian tanpa melodi ,hanya beat & ritme.
Dan sepertinya itu komunal untuk suatu keperluan tertentu,bukan tipe untuk diresapi secara mendalam kegurihan irama (gak ada melodi ya ?)dan liriknya.
Wallahu’alam.
ya, betul. itu sebagian dari tradisi dari sana.
mungkin memang baru tiba masanya ya tradisi itu muncul dan dieksplorasi.
tapi saya ingat juga ada seorang perempuan tua pemilik kedai minum di mississippi yang mengatakan kepada charles cob jr, dalam artikel di majalah national geographic, bahwa “blues is fading away with young black folks [...] they’ve let the rap take their culture away from them [...]“