dia gitaris kelas satu, yang kerap muncul di daftar hasil polling majalah gitar bergengsi. namanya jeffrey phillip wiedlandt.
mungkin tak banyak yang mendengar bel berdering di kepala masing-masing membaca nama itu. tapi pasti lain halnya kalau nama beken ini yang disodorkan: zakk wylde. betul, dialah gitaris berewokan, bertongkrongan sangar, dan lebih sering menggunakan gitar signature-nya, gibson les paul dengan grafis yang desainnya mirip lingkaran sasaran bidikan dalam permainan dart (orang sono menyebutnya bull’s eye atau “mata banteng”).
mulai belajar bermain gitar pada usia 15 tahun, kelahiran bayonne, new jersey, amerika serikat, 41 tahun lalu, itu melejit ke posisi terhormat –dari tak dikenal sama sekali –di antara para pahlawan gitar setelah bergabung memperkuat ozzy ozbourne. menurut ceritanya, seperti ketika melihat randy rhoads di awal kariernya di luar black sabbath, ozzy langsung tahun bahwa zakk adalah pilihan yang tepat untuk mendampinginya menempuh jalan yang telah dia rintis bersama randy dan jake e. lee (pengganti randy). dan dia memang benar.
belakangan, di samping setia bermain untuk ozzy (“dia itu ibarat seekor singa,” demikian zakk menyebut ozzy), zakk punya grup lain, yang tak kalah suksesnya –black label society. dua tahun lalu, untuk “meresmikan” nama besarnya, hollywood rock hall of fame di 7425 sunset boulevard, los angeles, menyediakan tempat bagi zakk untuk mengabadikan jejak tangannya, juga tanda tangannya. hollywood hall of fame, yang dikelola oleh hollywood historic trust, hingga kini telah memuat jejak 2.000-an selebritas –baik yang nyata maupun karakter fiktif.
saya tak mengenal zakk sepenuhnya. saya justru lebih banyak membaca tentang dirinya, terutama di majalah guitar world yang rutin saya beli, ketimbang mendengar musiknya. yang saya tahu, penggemar bir yang juga menyukai album favorit saya, friday night in san francisco (trio al di meola-john mclaughlin-paco de lucia), itu termasuk orang yang tak suka berbasa-basi. salah satu hal yang saya cenderung setuju dengannya adalah tentang encore. ini adalah babak tambahan dalam suatu konser, yang biasa (dulunya) dimainkan berdasarkan permintaan penonton begitu pertunjukan berakhir. dalam bahasa prancis, encore berarti lagi.
zakk termasuk artis yang tak pernah memberikan encore dalam konsernya. dia punya alasan. sebuah konser, menurut dia, ibarat film: ketika selesai, berakhir pula pertunjukannya; tidak ada yang namanya encore. “maksud saya, apa yang akan terjadi saat (film) jaws usai? hiu sialan itu ‘kan tak bakal hidup lagi sekalipun kalian bertepuk tangan cukup kencang?” katanya.
mungkin zakk berlebihan. tapi saya bisa memahaminya. alih-alih merupakan sesuatu yang bersifat spontan (walaupun bisa saja encore direncanakan di muka, dan pelaksanaannya tergantung respons penonton setelah pertunjukan berakhir), encore cenderung bersifat arfifisial. siapa pun tahu, di hampir setiap konser, sang artis pasti muncul lagi dan memainkan lagu-lagu tambahan setelah meninggalkan panggung dalam rentang waktu pertunjukan yang normal. itu tadi, karena mereka telah menyiapkan materi untuk babak tambahan.
mungkin ada yang berpendapat bahwa konser tanpa encore bukanlah pertunjukan yang sempurna. tapi mereka yang mendukung total pendapat ini mesti melihat konser peter gabriel. dalam growing up live, misalnya, mantan vokalis grup legendaris genesis ini menyusun lagu-lagu (setlist) yang dibawakannya sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang pas. dia membuka pertunjukan yang terasa sangat filmis dengan here comes the flood dalam aransemen yang kalem dan tenang, hanya dia mainkan dengan keyboard, dan menutup juga dengan nomor beraransemen serupa (father, son). begitu selesai dengan setlist-nya, dia mengakhiri pula pertunjukannya. toh tak ada perasaan kurang.
sebenarnya ada juga surprise dalam konser dengan encore –entah sudah dirancang lebih dulu atau belum. the flower kings, saat tampil di tilburg 013, belanda, misalnya, memainkan encore hingga dua kali! pada encore yang terakhir mereka memang tak membawakan stardust we are secara lengkap. tapi kesan artifisial sama sekali tak muncul. barangkali mereka juga tak menduga respons penonton yang begitu meluap; mereka tak juga beranjak setelah encore pertama usai.
namun saya yakin yang seperti itu tak bakal terjadi dalam setiap konser. saya kira, artis yang mana pun perlu merenungkan pendapat zakk.