mulanya saya hanya mau memberitahu seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai luthier –ahli bikin gitar. pagi itu saya melihat iklan kolom di sebuah koran yang isinya penawaran gitar ibanez versi akustik elektrik yang harganya, alamak, unbelivable. saya kirim kabar lewat sms. balasannya adalah pemberitahuan bahwa penawaran-penawaran seperti itulah yang menjadi saingan berat orang-orang seperti dia, yang melayani pembuatan gitar berdasarkan pesanan (custom shop). katanya, gitar bermerek kondang tapi murah itu bisa merupakan barang “colongan”, bisa pula kualitas bahannya tidak bagus.
manggut-manggut saya baca sms panjangnya. dia menyarankan saya untuk melihat langsung. tapi saya bilang buat apa, karena saya sudah punya gitar seperti itu –yang dulu saya beli juga dengan harga diskon. kalaupun saya berminat membeli gitar lagi, saya hanya mau gitar elektrik. itu pun, kata saya, pasti akan saya order langsung dari dia.
“sok atuh bikin desainnya. nanti aku bikinkan,” katanya. “tapi mohon maaf, hardware-nya harap dicari sendiri….”
punya gitar elektrik sendiri adalah impian sejak lama. saya tak pernah bisa mewujudkannya karena model idaman saya sungguh tak sopan harganya. kalau mesti memilih antara membeli laptop dan gitar elektrik, pasti saya mendahulukan laptop –dan itulah yang memang saya lakukan. tentu, prioritas itu semata karena pekerjaan saya. mungkin kalau saya bekerja di bidang musik, pastilah gitar elektrik yang saya dahulukan.
apa model idaman saya? inilah pertanyaan yang mesti saya jawab ketika teman saya itu meminta saya membuat desain yang saya inginkan. baru saat itu saya sadar bahwa saya tak bisa seketika menemukannya.
sebenarnya banyak model dari berbagai merek yang saya tahu. sebagian dari majalah guitar world. yang lain dari sumber-sumber di luar itu –termasuk dari berbagai dvd konser yang selama ini sempat saya tonton. dan selama ini saya merasa fender stratocaster-lah yang “saya banget”. maklum, para pahlawan gitar saya banyak yang menggunakan model yang mulai diproduksi pada 1954 ini sebagai “senjata” andalan. ternyata setelah saya harus benar-benar memastikan gitar pilihan saya, bukan ini jatuhnya. berbagai model berkelebatan, yang signature series atau custom made maupun yang bukan. untung teman saya itu sangat membantu.
lewat pertukaran sms yang seru dan percakapan telepon yang banyak hahahihi saya sampai pada prs paul allender model. ini gitar yang dibuat oleh paul reed smith untuk gitaris cradle of filth, grup metal asal inggris. penampilannya sama sekali tak mengindikasikan sebuah gitar milik awal band metal. bagian atas body-nya adalah kayu jenis maple yang vinishing-nya (warna unggu tua) menampilkan corak yang mirip loreng macan. kesannya justru elegan. satu-satunya tanda yang membuat orang percaya bahwa ini gitar seorang pemusik metal adalah inlay pada fretboard-nya yang berupa kelelawar.
tetapi rupanya teman itu bisa menaksir keinginan saya di luar penampilan fisik. dia menyinggung soal sound –suara yang bakal dihasilkan oleh gitar saya. pertukaran sms kembali terjadi. dan pada akhirnya saya tahu persis apa yang saya inginkan: sebuah gitar semi-hollow, yang menghasilkan sound mirip gibson hollow body, tapi tetap menggunakan model prs yang double cutaway. saya memilih maple untuk bagian atas dari body-nya. di atas kertas memang elok.
“jadi, sudah beli pickup-nya?” teman saya bertanya ketika saya mengirimkan sms untuk berkonsultasi soal merek pickup yang bagus.
“belum. uangnya yang belum ada.”
betul. ada uang, tapi penggunaannya masih berkompetisi antara kebutuhan yang satu dan yang lain. dari browsing ke sana-sini di toko online, saya tahu betul harga seluruh peralatan untuk mewujudkan gitar saya itu memang mahal. tampaknya proyek gitar impian saya bakal panjang masanya.
[...] hardware yang diperlukan untuk membuat gitar pesanan saya. saya berniat membeli pickup untuk gitar elektrik impian saya, dan saya pikir syukur-syukur saya bisa mendapatkan pula bridge dan tuning machine kalau [...]