the serpent
still remains
roadrunner, 2007
bayangkan ada kelompok musisi yang memadukan unsur-unsur nu metal, metalcore, dan power metal. mereka mungkin akan menghasilkan aliran metal yang bisa terdengar melodik, tapi di bawah permukaannya tetap terasa ada pola progresi akor (riff) yang berat dan kelam. di samping itu, tema lirik-liriknya pun akan cenderung pada soal “kita lawan mereka ” atau “usaha memahami hidup”, bukan tentang “gemerlap hura-hura dan perempuan”.
album studio kedua still remains ini boleh dimasukkan ke dalam kemungkinan itu. dengan formasi seorang vokalis, seorang pemain bas, seorang drummer, seorang pemain keyboard, dan dua gitaris, band dari michigan ini memang membuka peluang lebih luas untuk bereksplorasi dan menghasilkan bebunyian –ketimbang band-band metal lainnya. hasilnya, ya, begitulah: mereka seperti berayun-ayun dari nu metal dan metalcore (simak pola progresi akornya yang downtuned dan begitu lentur, juga geraman vokalnya yang agresif) ke power metal (perhatikan duet gitar yang harmonis ala iron maiden-nya dan melodi pada lagu-lagunya).
formula itu –direpresentasikan dengan baik oleh lagu pembuka, satu instrumental yang menjadi judul album –bukan hal yang buruk, tentu saja. memang, kadang-kadang sangat terasa betapa lembeknya suatu bagian dalam lagu; mungkin kita bisa tiba-tiba ingat linkin park, misalnya. tapi kesan dan kesimpulan ini hanya benar bila kita semata-mata memakai kacamata atau berekspektasi sebagai pendengar dan penggemar metal dari sisi yang ekstrem. dibandingkan linkin park, yang berat ke sisi radio-friendly, still remains condong lebih banyak ke metal yang sesungguhnya, dan (kabar gembira buat mereka yang tak suka) tanpa rapping.
buat mereka yang mencoba suka pada metal ekstrem tapi merasa tak sanggup, juga mereka yang ingin “naik kelas” dari linkin park dan yang sejenis, atau mereka yang jangkauan minatnya luas, album ini sayang dilewatkan. sebelas lagu di dalamnya adalah suguhan yang sama sekali tidak menyiksa telinga.
(published in koran tempo, february 17, 2006)
Naik kelas dari linkin park & sejenisnya? Hahaha.
hehehe…
begitulah. tapi kayaknya bakal ndak mudah tuh menjaga formula yang ngepop tidak tapi seratus persen ekstrem juga tidak. kalau ndak hati-hati, bisa nyebur ke jalur linkin park dan kawan-kawan, atau malah ke jalur metalcore (yang memang banyak band-band amerikanya).
linkin park bukannya jelek. tapi their music is definitely not my cup of tea.
Gara2 mas KunangKunangku … aku beli CD ini .. untung enak .. kalo ndak … tak satru tenan!
mestinya ndak usah beli dulu, mas. bisa copy dulu dari saya. soalnya kadang-kadang frekuensi kita ndak sama.
tapi joni ndak beli, ‘kan? saya yakin 100 persen sampeyan pasti bosan.