saya selalu merasa ada di antara kami, sesama penggemar musik yang keras, heavy, dan upbeat, selalu timbul perasaan untuk selalu menyatakan bahwa tidak ada musik yang paling cocok untuk dirinya selain, ya, yang terdengar keras dan mendidihkan adrenalin. melodi boleh penting, seperti halnya yang lazim dalam hard rock atau cabang metal yang melodik. tapi jika hal itu tidak ditaruh di atas platform yang berdetak kencang, tetap saja musiknya masuk ke dalam kategori, menurut istilah seorang kenalan, “kecimpringan”.
untuk mudahnya, biar bisa dibayangkan, contoh yang masuk kategori kecimpringan itu di antaranya u2, bruce springsteen, crosby, still, nash and young, the doors, dan yang lain-lain yang sejenislah. paham? kalau dari yang saya tangkap, ya, walaupun sebagian dari contoh-contoh itu diakui sebagai kelompok rock, tidak terdengar suara gitar yang diproses dengan efek distorsi. mungkin juga vokalnya “tidak gagah, tidak macho“. aransemen lagu-lagunya, sebagian besar, tentu tidak menderu-deru.
belakangan saya banyak mendengarkan metal, dari kelompok dengan musik yang oleh seorang kenalan dilukiskan sebagai “sama saja dari satu lagu ke lagu yang lain” hingga ke kelompok dengan musik yang kencang tapi melodik. saya tahu perasaan mereka yang selalu senang mendengarkan musik yang keras. saya ingat waktu masih remaja: deep purple, led zeppelin, black sabbath, grand funk railroad… dan sederet yang lain lagi yang seolah tahu ada perasaan marah, ada dorongan untuk memberontak, ada keinginan untuk bebaaaas di dalam diri saya. their music, their lyrics spoke to me at a personal level.
tetapi saya sadar juga bahwa ada sisi musikal yang lain dalam diri saya –yang sebenarnya saya percaya ada di dalam diri setiap orang, disangkal keberadaannya maupun tidak. ada saatnya ketika saya memerlukan kelembutan, suasana yang memainkan mood, melodi yang membuat gravitasi seolah lenyap, musik yang jauh dari pretensi tapi semata-mata indah.
saya menemukan itu, misalnya, pada kolaborasi robert plant dan alison krauss. mereka adalah bakat-bakat dari dua dunia yang bertolak belakang, dua kutub yang berseberangan. plant, siapa pun penggemar rock 1970-an pasti tahu, adalah front man grup legendaris led zeppelin, yang di masa jayanya bisa meniti nada-nada dalam rentang empat oktaf (konon). adapun krauss, dia bintang bersinar dari cabang musik bluegrass, yang bersuara lembut. sulit dibayangkan mereka bisa menyatu. tapi begitulah.
di bawah produser t-bone burnett, mereka mengkonstruksi musik yang terasa baru, tapi tetap memikat. tidak ada teriakan. tidak ada distorsi. tidak ada gitar yang meraung-raung. vokal seperti dibubuhkan di atas adonan yang didominasi drum dan bebunyian perkusif, sementara instrumen lain terdengar seperti latar belakang saja. plant, o… tanpa tahu-menahu sebelumnya, jangan coba menebak suara siapa yang terdengar; dia menyanyi begitu subtil, sulit dikenali. dan krauss, dia benar-benar dewi.
tidak ada sejumput pun adrenalin yang bergolak, memang. tapi saya mendengarkan album itu berkali-kali dan merasa menemukan dunia yang menyenangkan. lebih dari sekadar terhibur. pengalaman yang sama juga kerap saya dapatkan dari musik-musik kecimpringan lainnya. biar saja.
Musik adalah keindahan yang nampak dari segala sudut. Kemarin-kemarin
betul –betapapun relatifnya keindahan itu. bahkan dengan bebunyian yang bagaimanapun, ia tetap saja merupakan keindahan.