saya selalu merasa bahwa radio adalah bagian yang menyenangkan untuk memulai hari. dan, tentu saja, saya setuju dengan rush, trio dari kanada itu, yang menyanyikan spirit of radio dengan riang: began the day/with a friendly voice…
dulu, sebelum saya mempunyai sendiri pesawat radio, saya terus membayangkannya ada di meja kamar saya; saya mengangankannya sejak saya melihat seorang teman menaruh satu unit di kamarnya. radio sebenarnya bukan barang mewah. tapi untuk membelinya sendiri, saya merasa tak mampu, bahkan dengan menabung uang jajan sekalipun. (maklum, saya ‘kan juga harus membeli kaset.) ketika akhirnya saya mendapatkannya dari orang tua saya, lama sesudahnya, sejak itu radio hampir tak pernah absen dari hari-hari saya.
zaman itu, tentu saja, yang menarik adalah siaran lagu-lagu. rasanya sih hampir di setiap program yang menonjol, ya, pemutaran lagu-lagu. namanya saja boleh berganti-ganti. isinya bisa tangga lagu-lagu, bisa juga pilihan pendengar. saya ingat di salah satu stasiun di kota saya ada program yang namanya varia diskotika. belum ada program tentang news and talk seperti sekarang ini.
tetapi bahkan dengan materi siaran yang sarat lagu-lagu itu, ada saja yang tak bisa sepenuhnya puas. alasannya, ya, apa lagi kalau bukan selera yang tak terakomodasi. mereka inilah — saya termasuk di antaranya –yang lalu menghidupkan siaran-siaran “gelap”. saya punya teman yang hobi bermain radio amatir. dengan dialah suatu kali saya pernah menghabiskan semalaman di ruang kerja tetangganya, sesama penggemar utak-atik radio, untuk siaran semacam itu –dengan jantung dagdigdug karena sedang musim razia.
siaran-siaran semacam itu benar-benar memanjakan mereka yang cenderung tak cocok dengan apa yang ada di stasiun-stasiun radio resmi. bahkan biarpun mereka sebenarnya bisa memutarnya sendiri di rumah. (sebab, bukankah mendengarkan radio akan berbeda rasanya, setidaknya karena unsur kejutannya? mungkin juga, katakanlah, karena delivery-nya: peran karakter penyiarnya dan nuansa suara yang terdengar) dari radio-radio tak resmi itu saya mengenal banyak lagu rock yang sebagian di antaranya kemudian menjadi my all time favorite songs, seperti seafull milik trapeze.
wajar, karena itu, jika saya merasa radio punya peran signifikan dalam membentuk preferensi musikal saya, lebih daripada sekadar teman. tak berlebihan pula jika saya selalu menginginkan ada radio resmi yang isi siarannya –materi lagu-lagunya, terutama –seperti radio-radio “gelap” di masa lalu itu. ini bagai menggantang asap. tapi menjelang akhir 1990-an saya menemukannya di jakarta. sangat telat, sebab radio itu sudah ada sejak pertengahan 1990-an. tidak apa-apa juga. lebih baik terlambat daripada tidak ada sama sekali, ‘kan?
penemuan itu terjadi pada saat yang tepat: saya kebetulan mulai mendengarkan musik lagi, mengulang semua yang pernah saya dengar, mengeksplorasi apa yang dulu luput, juga mengikuti perkembangan mutakhir. dan stasiun radio itu mengambil peran yang dulu diisi oleh radio-radio gelap yang saya pantau. banyak yang saya peroleh –musik dan teman.
kesenangan itu berakhir pada september 2005. radio itu kehabisan napas. alasan pemiliknya: programnya terlalu segmented sehingga tidak banyak iklan yang masuk. dia memutuskan untuk menjual sahamnya. radio itu beralih menyiarkan lagu-lagu dangdut.
kini boleh dibilang tak ada satu pun radio, terutama di jakarta, yang khusus menyiarkan lagu-lagu rock, apalagi classic rock yang “jadul”. setelah kematian yang tak terelakkan itu, yang ada hanyalah siaran-siaran yang mengambil waktu tertentu. sejumlah stasiun radio melakukannya, seminggu sekali. ini semacam gerilyalah. tapi bagus. daripada tak ada sama sekali, ‘kan?
sejak hari menyedihkan itu, saya tak antusias lagi mendengarkan radio setiap hari. saya memang mengeset perangkat stereo di kamar saya untuk otomatis menyalakan radio setiap pagi. Tapi fungsi utamanya lebih sering hanya menjadi alarm kedua yang membangunkan saya dari tidur (alarm pertama berdering saat subuh datang; biasanya saya tidur lagi sesudah itu).
sedikit banyak radio memang membentuk selera saya dalam mendengarkan musik … dulu di kota kecil tempat saya tinggal ada sebuah radio yang menu2 utamanya lagu-lagu barat … meskipun campur aduk antara pop dan rock, tapi ternyata lagu-lagu mengena di kuping … yang pasti lumayan lah daripada mendengarkan lagu2 pop indonesia atau dangdut … kemudian muncul sebuah radio baru yang memutar lagu barat juga, tapi lebih modern dan mengikuti trend … waktu trend-nya rock mereka ikut mainin musik rock, waktu metal begitu juga … cuma belakangan karena dangdut lebih laku radio ini ikut-ikutan pindah jalur … dua-duanya stasiun radio AM … setelah urbanisasi, tiap kali pulang kampung saya nggak pernah dengerin 2 radio ini lagi … apalagi kalau nggak salah dua-duanya masih radio AM … biasanya saya lebih milih dengerin radio FM dari kota lain, atau dengerin koleksi sendiri dari walkman …
dulu pertama denger waktu masih ngekost … semenjak married mulai jarang dengerin, terutama karena setelah married pindah tempat tinggal di pinggiran jakarta yang penerimaan siarannya kurang bagus … kadang2 masih dibela-belain untuk dengerin meskipun kemresek … setelah radio ini tutup buku ganti manteng radio sodaranya yang oldies …
kalau sedang di jalan pulang kampung, saya malah lebih sering menghidupkan radio. justru bukan musik rock, atau musik kesukaan saya, yang saya cari. tapi siaran khas daerah.
banyak radio daerah yang memang berkarakter masyarakat setempat. bosan juga menyimak radio di daerah yang kedengarannya seperti radio jakarta. misalnya setelah keluar dari bandung (biasanya di kota ini saya memanteng gelombang klcbs, radio jazz itu), banyak siaran dalam bahasa sunda. ini bisa sampai banjar, walaupun stasiunnya berganti-ganti.
kalau di jakarta, sekarang ini saya lebih sering mendengarkan radio utan kayu, elshinta, cnj, dan am 900 (khusus malam, juga kalau ingat dan kalau sedang siaran).
Saya juga hobi tuh dengan musik rock, sayang di SBY juga udah jarang yang menyiarkan lagu2 rock terutama yang jadul.
Saat ke daerah jabar paling suka dengerin degung. Sekarang lagi cari web buat download MP3 degung.
memang radio rock, apalagi yang jadul, sudah susah dicari. di jakarta, saat ini yang ada paling ya acara mingguan. ada yang sepanjang hari, setiap sabtu. tapi sebagian besar slotnya tak lebih dari dua jam.
saya dulu juga pendengar siaran radio terutama musik/tangga lagu2 terbaru sejak smp (1966) sampai berakhir nya era radio amatir (lupa tahun nya, kala itu radio amatir sedang menjamur berlomba menyiarkan lagu2 hit terbaru). Walau sekarang banyak media untuk mendengarkan musik/berita lain saya rasa radio tetap bisa eksis kalau program siaran atau penyiar nya bagus, malah ada pendengar radio yg jatuh cinta sama suara penyiarnya sekalipun belum pernah bertemu dan dipisahkan jarak yg sangat jauh. Ada juga orang yg cari radio kuno sebagai koleksi/pajangan (lebih diinginkan yg masih berfungsi) untuk mengenang tempo doeloe…mungkinkah masa jaya radio kembali lagi!