saya ingat benar malam-malam yang selalu kami lalui di kota kami yang sepi itu. kebanyakan berlangsung saat malam minggu. malam-malam yang riuh, tapi sebenarnya sepi.
ke sana kemari seperti sibuk dengan urusan penting, mencari si fulan, menemui si badu, kami sesungguhnya selalu tak punya tujuan pasti. keluyuran saja, sebenarnya. pada akhirnya toh kami cuma menumpang bergerombol di sudut hotel m –hotel terbaik di kota –sampai malam larut dan kantuk membuat kami letih.
sebagian dari kami, persisnya. sebab, sebagian yang lain, termasuk saya, setelah ‘jemaah’ bercerai-berai dengan tertib, punya babak kegiatan lanjutan.
biasanya kami makan di warung-warung yang lazim buka sampai subuh, semacam supper-lah (‘kan sudah lewat tengah malam?), atau paling ringan ya mencari kopi. (kadang-kadang saya heran, apa gunanya kopi jika tak lama sesudah itu toh kami perlu tidur juga.)
salah satu langganan kami adalah warung di seberang rumah sakit pemerintah daerah. kawasan ini memang tak pernah benar-benar sepi sekalipun waktu sudah lewat tengah malam. kegiatan berjalan sepanjang waktu, meskipun pelakunya berganti-ganti.
entah apa tempat itu bisa disebut warung. mungkin lapak saja. soalnya si pemilik, seorang lelaki yang sudah tua, yang sudah kelihatan sulit bergerak gesit, hanya ‘buka praktek’ malam hari dengan menaruh meja yang cukup untuk menampung sebagian dagangannya dan bangku panjang di halaman sebuah apotek; tak ada sepotong pun tenda. dengan kata lain, dia membuka usaha warung di tempat terbuka. persis kedai-kedai di kaki lima di kota-kota besar eropa –setidaknya kelihatannya.
lapak bapak tua itu melayani siapa saja yang membutuhkan segelas (betul, segelas, besar pula) kopi atau teh, juga jajanan ala kadarnya. saya tak suka minum kopi, waktu itu. jadi, setiap kali kami datang, saya memesan teh. adukan bapak tua itu kental, gulanya juga pas.
tidak ada kegiatan penting yang kami lakukan di situ. sama halnya dengan di tempat sebelumnya. kami hanya mengobrol, bercanda. tapi di situlah saya mendengar untuk pertama kali in the air tonight ketika, suatu malam, seorang teman membawa pemutar kaset miliknya. ini memang pemutar kaset portable, yang bisa ditenteng ke mana-mana.
saya sebenarnya sudah tahu phil collins, drummer genesis itu, baru saja merilis album solonya yang pertama. tapi terakhir kali saya ke toko kaset, pada 1981 itu, saya belum melihatnya. pasti teman saya, yang saya tahu tak begitu intensif mengikuti perkembangan musik, ke toko pada hari-hari setelah kunjungan saya yang terakhir. saya traktir dia segelas kopi dini hari itu.
album itu sudah seketika menundukkan saya dari lagu pertamanya, in the air tonight itu. intronya, berupa pukulan sayup-sayup hasil programming drum elektronik (belakangan saya tahu roland mereknya), dengan tata suara yang atmosferik, lalu masuk gitar elektrik memainkan akor-akor yang terdengar cemas. begitu masuk vokal, suara phil collins pun terdengar merupakan hasil berasal proses efek (vocoder):
i can feel it coming in the air tonight, oh lord
i’ve been waiting for this moment, all my life, oh lord
can you feel it coming in the air tonight, oh lord, oh lord
suasana yang terasa adalah si penyanyi seperti menahan amarah, sampai masuk bagian chorus, yang ramai dengan gebukan drum yang oleh stuart maconie, disc jockey, presenter televisi, dan wartawan dari inggris, disebut telah menjadi “cetak biru bagi lagu-lagu (yang menonjolkan) drum sepanjang 1980-an”. ledakan drum ini melepas kendali atas akumulasi ketegangan yang terbangun sejak awal.
sejak albumnya dirilis, permainan drum itu selalu diasosiasikan dengan collins. karena elemen inilah, ada yang menyebut in the air tonight sebagai “stairway to heaven dari (periode) 1980-an”; kemungkinan besar hal ini merujuk fakta bahwa seperti halnya para penggemar led zeppelin yang selalu menirukan solo gitar jimmy page setiap kali mendengarkan stairway to heaven, para penggemar collins pun hampir selalu menirukan permainan drum collins yang eksplosif manakala mereka mendengarkan in the air tonight.
tak kalah dari fakta itu adalah beredarnya aneka cerita mengenai latar belakang penciptaannya. konon, lirik lagu itu ditulis berdasarkan peristiwa tragis yang disaksikan collins, biasanya tentang seseorang yang sedang tenggelam; ada orang lain yang seharusnya bisa menolong si korban, tapi dia tak melakukannya. salah satu variasinya, collins mengundang orang mestinya bisa menolong itu ke pertunjukannya dan menyanyikan in the air tonight, kerap dengan lampu panggung menyoroti orang itu. sesudahnya, orang itu ditangkap atau, dalam versi lain, merasa bersalah dan bunuh diri.
namun tak ada satu versi pun yang benar. dalam wawancara dengan bbc world service, collins mengatakan saat menulis lagu itu dia sedang menghadapi perceraian. “satu-satunya yang bisa saya katakan tentang hal [lagu] ini adalah…. sisi kemarahan, atau sisi pahit dari perpisahan,” katanya.
tentu saja, saat itu saya tidak sedang menghadapi masalah yang sama dengan collins. tapi marah dan perpisahan, mungkin saja pengaruhnya berlaku dalam diri saya sehingga saya bisa seketika… connected. marah kepada siapa? ini sulit diidentifikasi. saya hanya tahu, dan sadar, bahwa masa remaja saya harus melalui rute yang berat; jalanan bergelombang dan berlubang di sana-sini, rintangan bertebaran di mana-mana. perjalanan menjadi sulit. ada saatnya saya terbawa arus, sedangkan saya tak punya kemampuan untuk melawannya.
saat sedang membongkar-bongkar berkas di komputer saya di kantor kemarin, saya teringat masa-masa itu, sebab ada folder yang menyimpan face value, album yang memuat in the air tonight. kepada seorang teman yang hadir di lapak teh itu, saya mengirimkan pesan singkat, “lama saya tak mendengarkan in the air tonight. ini memang lagu yang luar biasa.”
dia membalas, dalam bahasa jawa, yang kira-kira terjemahannya begini: “ingat-ingat di rumah sakit…. saat perut lapar di tengah malam. i can feel it coming in the air tonight.”
saya tak pernah tahu apakah dia punya pengalaman batin yang sama dengan saya mengenai lagu itu. saya rasa begitu pula sebaliknya.
Berbilang tahun comment ini baru tiba ya
Top ! satu dari beberapa blog music yang selalu saya simak,the best malah (versi Indonesia). Menarik – flashback masa remajanya,bukan Phil collins nya ! – rata2 remaja sepertinya melalui masa2 seperti yang sampeyan deskripsikan ,dengan gelombang,lubang dan rintangan yang beda2 tentunya.Ngalor ngidul,ngegrombal grombol,tempat nongkrong favorit,kekonyolan2, coba2 ‘ sesuatu’ demi rasa ingin tahu,dengan ilustrasi musik rock baik yang prog maupun yang standard – kalo sampeyan punya inthe air tonight,saya punya lagu lain – sepertinya sudah jadi pola baku ya.
In the air tonight….. lagu yang bagus dengan gedombrangan pukulan drumnya,ledakan kegelisahan sepertinya ya….Phil collins nya sendiri ,saya gak terlalu ikutin sejak Genesis yang klasik hilang.
Tetap semangat menulis,
salam
trims komentarnya, ya.
ini memang salah satu lagu yang erat banget dengan masa-masa ketika saya banyak keluyuran.
aduh, ingin juga sebenarnya bisa lebih rutin nulis. tapi belakangan kok kerjaan bertubi-tubi datangnya. sedih juga.
ketika denger lagu ini pertama kali, jantung saya langsung mau copot….edaaannn lagu opo iki rek…waktu itu saya denger dari sound system yang digeber kenceng di halaman sekolah
hahahaha….dari lagu lagu ngedisko gaya ABBA langsung belok berusaha mencari siapa phil Collins ini…
Tahun 84 itu mas…kelas 1 SMA, maklum di kampung saya di Blitar jarang denger lagu gedubrakan…pengaruh ngerock dari malang telat masuknya. Waktu itu langsung nyari kaset “the member of Genesis” kalo gak salah…bentar..bentar saya cari dulu…kasetnya masih saya simpan kok…yup ! produksi aquarius…
hehehehe jadi inget masa lalu…