saya percaya ada jodoh dalam urusan preferensi musik, seperti halnya jodoh dalam urusan –apalagi kalau bukan –cinta.
saya tak akan bicara soal cinta. saya bukan ahlinya. lagipula sudah banyak yang menyanyikannya, dari yang klise liriknya sampai yang metaforis, dan rasanya sih tak akan ada akhirnya. (mana ada penyanyi atau band baru yang tak menjadikannya sebagai jualan? ada juga, sih, tapi ini hanya ada di lanskap indie, atau malah underground.)
maksud saya, bagaimana seseorang bisa menyukai sesuatu jenis musik, bukanlah semata karena dia terbiasa mendengarnya –sejak kecil, misalnya –tapi juga karena ada semacam chemistry, yaitu daya tarik mutual antara musik (juga pemusik) tertentu dan pendengarnya. mungkin semacam pertemuan gelombang yang sama, begitu. kalau semata bergantung pada kebiasaan, mana mungkin seseorang yang tak pernah mengenal sama sekali sesuatu jenis musik bisa tiba-tiba menyukainya?
misalnya saya punya teman, sebutlah si a, yang dari usianya mestinya lebih cocok berada di kelompok orang yang menyukai musik (jenis apa pun) yang populer pada 1980-an. gampangnya: jamak adanya orang cenderung terikat dengan apa saja dari masa dia mengalami pendewasaan (formative years). tapi kenyataannya dia justru kepincut pada blues rock, varian blues yang mulai berkembang pada akhir 1960-an –tahun-tahun ketika dia bahkan belum lahir. dia bukannya tak mengikuti perkembangan musik terkini secara umum. tapi di genre “jadul” itulah preferensinya.
saya tak punya pengalaman persis seperti itu. tapi mungkin dalam soal jodoh saya juga mengalaminya.
saya mulai terbiasa dengan musik baru setelah orang tua saya membeli perangkat stereo, sebuah cassette player yang tergolong canggih pada masanya. kebetulan ekonomi orang tua saya mulai membaik. ekonomi nasional juga perlahan sudah pulih dari sakit yang ditinggalkan orde lama. waktu itu saya masih smp; saya masih harus bergulat menyepadankan diri dengan teman-teman sekelas yang termasuk terbaik di sekolah (sedangkan saya merasa paling tolol dan “salah kamar”).
pada pertengahan 1970-an itu, setidaknya di kota kami, musik rock bukan tak ada. tapi di mana-mana orang lebih gampang bisa mendengar koes plus (tentu saja, juga the mercy’s, panbers, dan lain-lain), yang disebut-sebut memainkan “musik tiga jurus”. saya beruntung orang tua saya justru mengoleksi musik-musik oldies dan jazz. saya banyak mendengarkan skeeter davis, percy sledge, connie francis, salena jones, bob james, dan lain-lain. tidak ada yang sulit masuk telinga. tapi ketika akhirnya saya punya uang saku dan bisa membeli sendiri, preferensi utama saya bukan di sana. dan entah kenapa saya terpikat pada musik rock. saya mulai dari pink floyd (album wish you were here) dan deep purple (made in japan).
selebihnya adalah… sejarah. (lebih tepatnya, saya tak akan menceritakannya sekarang.)
begitulah. dibandingkan si a, rute saya berbeda; saya cenderung mengikuti apa yang ada dan saya kenal pada masa saya. tapi pada dasarnya satu hal sama: jodoh.
kebetulan lahir dan tinggal di kota kecil – malah lebih tepatnya di pedesaan, sebelum akhirnya berurbanisasi ke jakarta setelah lulus SMA … satu-satunya hiburan waktu itu ya cuma radio 3 band, itupun yg masih pake batere karena listrik belum masuk … seingat saya listrik baru masuk di desa kelahiran saya sesudah pemilu 1992, setelah partai terbesar waktu itu berhasil memperoleh suara terbanyak — soalnya di beberapa pemilu sebelumnya cuma jadi nomor dua …
kebetulan satu-satunya radio di kota terdekat malah lebih banyak memutar lagu-lagu barat, mungkin sedikit banyak ini mempengaruhi selera saya yg akhirnya lebih condong mendengarkan lagu-lagu barat terutama rock … selain dari radio lokal, kadang juga ikut mendengarkan radio luar negeri seperti ABC, BBC, dan VOA … koleksi kaset dream express dan kompilasi rilisan majalah top chords punya kakak sedikit banyak juga ikut mempengaruhi pilihan ke musik ini …
radio-radio asing itu juga dulu teman saya hampir tiap hari. yang paling sering saya dengarkan abc. penyiar yang saya paling suka, waktu itu, nuim khayat. di mana beliau sekarang, ya? dulu sempat beberapa kali baca kolomnya… lupa di mana.
beberapa tahun lalu kalau Minggu pagi Delta FM suka menyiarkan siarannya Nuim Khayat, tapi sepertinya rekaman bukan langsung … gayanya masih seperti waktu siaran di ABC, tapi kalau di Delta ini yg selalu jadi topik adalah soal dana BLBI …
entah apakah sekarang masih suka diputar atau nggak, soalnya sudah lama tidak lagi mendengarkan Delta FM …
oh, ya… delta. sudah lama juga saya juga nggak mendengarkan delta. jarang manteng siaran radio, kecuali acara-acara rock yang kebetulan sudah tahu atau pas pagi radio otomatis menyala ke siaran utan kayu. itu pun kalau memang lagi di jakarta.