selera adalah alasan yang selalu disebut jika seseorang gagal menjelaskan kenapa dia sulit sekali menikmati sesuatu jenis musik –atau apa pun karya seni yang lain. maksudnya seleranya memang belum atau tidak sampai. dengan menyebut kata itu seketika berakhirlah diskusi atau ikhtiar untuk mencari penjelasan yang lebih masuk akal.
tapi adakah yang masuk akal dalam urusan yang berkaitan dengan rasa itu? atau, benarkah ia semata-mata hanya soal rasa; tidak mungkinkah di situ berperan pula daya intelektual dan, ya, kesediaan untuk membuka diri?
dan apa sebenarnya selera? benarkah ia satu-satunya pemberhentian yang paling masuk akal bagi sebuah perjalanan gagal untuk mencapai wilayah tertentu dari suatu karya seni atau produk budaya?
dalam bahasa inggris selera biasanya dipadankan dengan taste (atau preference) –walau taste bisa pula berarti istilah yang lazim digunakan untuk merujuk satu dari lima indera pencerap “klasik”, yaitu pencecapan (yang lain adalah penglihatan, sentuhan, pendengaran, dan penciuman). secara sosiologi, selera adalah konsep yang erat kaitannya dengan teori perbandingan estetika –yaitu pandangan filosofis bahwa penilaian terhadap keindahan sangat tergantung siapa orangnya, kulturnya, periode waktu dan konteksnya, dan bahwa tidak ada kriteria universal untuk keindahan. selera selalu bersifat personal dan tergantung tekanan sosial, dan selera tertentu bisa dikategorikan sebagai “bagus” dan “buruk”.
menurut sejarahnya, konsep selera yang berlaku dewasa ini bermula dari mannerisme, gaya seni italia dari abad ke-16 yang mengutamakan maniera atau manner (sopan santun) untuk mengemas karya seni. sampai zaman pencerahan, selera masih berlaku universal, dan orang bisa mengidentifikasinya lewat apa yang bisa memuaskan setiap “kepekaan kultural”. perspektif mulai berubah pada zaman romantisisme, ketika mulai timbul pemikiran bahwa “keindahan terletak di mata yang memandang” dan bisa ditafsirkan secara individual.
makna selera berkembang setelah terjadi pergeseran dari sifatnya yang lebih mengutamakan fisik menjadi tafsiran kualitas intelektual. orang mulai menggunakannya dalam makna metafora untuk merujuk derajat kompetensi tertentu yang berkaitan dengan pemahaman praktek-praktek kebudayaan. selera bisa juga menciptakan diskriminasi, sebab jika didasarkan atas pengalaman-pengalaman material, ia bisa menetapkan perbedaan antara berselera dan tak berselera atau punya selera bagus atau berselera buruk; ini pada gilirannya menciptakan kategori pembagian sosial dan hierarki budaya.
sosiolog prancis pierre bourdieu punya pendapat lain, berdasarkan klaim bahwa selera dan preferensi individu adalah produk sosial. menurut dia, selera individu ditempa oleh aspek-aspek tertentu dari praktek-praktek sosial dan posisi dalam masyarakat. orang, katanya, cenderung beraspirasi kepada format budaya yang “tinggi” dan dari situlah identitas dirinya muncul –dengan kata lain, dia ingin dikelompokkan dengan mereka yang secara intelektual dan artistik dipandang lebih maju dan karenanya cenderung mengkonsumsi produk-produk kultural terkait.
dalam pengertian itu, tampak betapa selera berkaitan erat dengan konsumsi dan konsumerisme: pemirsa atau pembaca mengkonsumsi bermacam produk dan kemudian menafsirkannya melalui kritik yang didasarkan atas gagasan tentang selera.
ruwet? hmmm… mungkin. tapi sederhananya begini: selera, untuk mengutip ralph waldo emerson, penyair amerika dari awal abad ke-19, “adalah kecintaan pada keindahan”. tapi bisa dikatakan pula bahwa: (1) selera itu mirip indera pencerap “klasik”, hanya obyeknya adalah produk kebudayaan, (2) selera terkadang berkolaborasi dengan daya intelektual, tapi tidak selalu ke arah yang sama, (3) dalam batas tertentu, selera adalah produk sosial, dan (4) karena itu, selera sebenarnya bisa berubah selama ada kesediaan untuk membuka diri.
identifikasi itu menunjukkan bahwa, sebenarnya, tidak ada misteri dalam urusan selera. selalu ada penjelasannya mengapa seseorang bisa menyukai atau tidak menyukai sesuatu karya seni. misalnya, dalam kuliner ada masakan-masakan yang dikategorikan sebagai acquired taste (betul, seperti judul salah satu album gentle giant), yaitu yang umumnya sulit dinikmati sebelum seseorang terbiasa lebih dulu. membiasakan diri adalah mengekspose diri dalam jangka waktu tertentu. mereka yang lahir dan besar di jepang akan dengan gampang mengkonsumsi sushi. tapi mereka yang berasal dari luar mungkin perlu waktu, walau bukan jaminan mereka akan menyukainya.
namun menyukai atau tidak menyukai, sesungguhnya ini sudah soal pilihan. karena itu, saya setuju bahwa “beauty is in the eye of the beholder“, tapi, seperti kata françois de la rochefoucauld, penulis prancis pada abad ke-17, “taste may change, but inclination never.”
Mas KunangKunangKu …
Masalah selera sangat erat kaitannya dengan latar belakang mas, memang. Lha kolo selera musik kan pasti mas, kalo dari kecil dicekoki oleh musik tertentu, ya pasti gedenya begitu juga seleranya. Pengalaman masa lalu berpengaruh dalam pilihan selera.
Dalam hal makanan juga begitu. Kalo memang seseorang dibesarkan dengan lingkungan yang selalu makan soto, mungkin dia akan menyukai soto. Yang jadi sulit adalah bila ia bilang: soto jauh lebih enak dari rawon. Dan ini dia generalisir … kojur tenan to?
Yang jelas, kalau ada orang ada yang gak suka dengan 4 album pertama Marillion, pasti mengalami kgangguan atau kesalahan genetika … ha ha ha ha ha ….
Salam,
G
hahaha… jelas!
—–
Yang jelas, kalau ada orang ada yang gak suka dengan 4 album pertama Marillion, pasti mengalami kgangguan atau kesalahan genetika … ha ha ha ha ha ….
apa nggak sebaliknya mas? lha kalau terus-terus dicekoki biasanya malah neg, dan terus dilepeh … tapi suatu saat bisa saja muncul keinginan untuk mencoba menikmatinya …
tahun 80′an saya nggak tertarik dengerin synth pop, soalnya hampir setiap hari semua radio muter musik kayak gitu … begitu juga waktu jamannya hair band … tapi sekitar satu dekade kemudian saya jadi kepengen dengerin musik2 synth pop yg dulu saya lepeh … awalnya sih cuma sekedar pengen bernostalgia, tapi kok lama2 enak juga … baru sadar kalau ternyata banyak musik bagus yg saya lewatkan … kalau hair band sih emang nggak …
mas haris,
sebenarnya saya percaya ada satu hal lain yang ikut menentukan apakah kita bisa menikmati satu jenis musik atau tidak, yaitu mood. entah bagaimana menjelaskannya (misterikah? hehehe…).
saya juga punya pengalaman buruk dengan tahun 1980-an. boleh dibilang saya praktis berhenti membeli kaset secara reguler. saya merasa nggak ada yang menarik, setidaknya nggak ada yang bisa klop dengan mood saya. dari new comer yang benar-benar membuat saya kepincut waktu itu, ya, marillion. hair band? sama sekali nggak ada yang kenal. saya menyimak van halen juga karena harus bantu teman ngeband (karena satu lagu yang mau dibawakan punya van halen).
sekarang beberapa dari grup-grup mainstream 1980-an bisa saya nikmati.