Feeds:
Posts
Comments

2011′s favorite

keliru besar menyimpulkan 2011 sebagai tahun yang membosankan untuk musik. kecuali “radar” memang diatur hanya untuk memantau wilayah mainstream, masih banyak karya bagus yang layak disimak. hanya mereka yang malas saja yang tak menemukan apa-apa.

seperti sebelumnya, karena satu dan lain hal, tak semua rilisan tahun ini bisa saya dapatkan. dari yang masuk ke “meja redaksi”, memilih 10 album favorit juga jadi urusan sulit, karena bagus-bagus. tapi, setelah kembali menyimak secara maraton di hari-hari terakhir tahun ini, beginilah daftar saya. [catatan: kecuali disebutkan, ini tidak berdasarkan nomor urut.]

 

opeth – heritage

banyak penggemar opeth yang kecewa pada album ini (barangkali karena kurang atau malah tak terasa sama sekali death metal-nya, sebab tanpa cookie monster vocal style alias growl). tapi, maaf ya, inilah album yang saya taruh di posisi teratas dari album-album favorit saya tahun ini. sebenarnya, dengan kecenderungan opeth sejak blackwater park, ketika mereka mulai menggandeng steven wilson sebagai produser dan menggeser gaya musik, album ini harus dipandang sebagai salah satu, kalau bukan satu-satunya, arah yang logis. buat mereka yang menyukai vintage sound (i.e. mellotron, rhodes, hammond, etc.) dan sentuhan idiom jazz rock, album ini merupakan sajian yang menggairahkan hingga not terakhir: sarat selingan instrumental dan perubahan nada dasar dan akor yang rumit, serta peralihan birama yang memikat.

 

the tangent – comm

smart, witty. boleh dibilang album ini merupakan pernyataan intelektual andy tillison dan kawan-kawan: mereka mengobservasi ironi dunia komunikasi, tentang bagaimana komunikasi dipahami di masa lalu dan bagaimana prakteknya sekarang. tentu, ada cerita dalam lirik-liriknya. tapi yang tak kalah penting, dan karenanya album ini jadi bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, adalah bagaimana cerita itu melebur utuh dengan musiknya.

 

steve wilson – grace for drowning

pendiri dan penggerak utama porcupine tree ini boleh dibilang tak pernah sengaja membikin musik yang riang. di luar band utamanya itu, proyeknya banyak. semuanya, ya, begitulah: trip ke wilayah-wilayah sedih, muram. begitu pula album solo keduanya ini. mereka yang menyukai progressive rock ala king crimson, juga canterbury scene, dijamin sulit melewatkan album bertemakan kehilangan orang tercinta yang kental bebunyian vintage ini. kelam, muram, tapi juga menohok.

 

agents of mercy – the black forest

buat mereka yang, untuk sementara, kehilangan the flower kings, album ini bisa jadi obat kangen. atmosfer musiknya tak secerah the flower kings, tapi untuk mereka yang sudah akrab dengan roine stolt, terutama gaya permainan gitarnya yang sedikit banyak mengingatkan pada frank zappa, ada porsi yang cukup untuk bisa mengalami orgasme musikal.

 

steve hackett – beyond the shrouded horizon

boleh dibilang hackett adalah eks-personel genesis yang paling produktif. sejak memulai rekaman solo pada 1975, dia sudah menghasilkan lebih dari 20 album. karya mutakhirnya ini menunjukkan betapa dia tak sekadar masih menyimpan gairah meluap untuk terus bermain musik, melainkan juga perhatian pada segi artistik yang terus terjaga. album ini kaya elemen dan idiom aneka musik, barangkali karena hackett menaruh minat dan menyimak beragam musik di dunia ini.

 

warren haynes – man in motion

di sini, gitaris-penyanyi yang memperkuat gov’t mule dan the allman brothers band ini cenderung menahan permainan gitarnya dan lebih berfokus pada bagaimana menggubah lagu dan menyanyikannya. dan menariknya: album ini bukan hanya tentang blues, melainkan juga soul, balada, dan bahkan gospel. sesuatu yang berbeda ketimbang yang sudah dia lakukan, tapi dengan sentuhan terukur dan eksekusi memikat.

 

tedeschi trucks band – revelator

pasangan suami-istri derek trucks dan susan tedeschi-lah yang mula-mula menarik minat saya di proyek yang menghimpun musisi dalam jumlah yang cukup untuk menjadi satu kesebelasan ini. saya menyukai mereka berdua –tedeschi dengan solonya sebagai blues singer-songwriter, dan trucks dengan the derek trucks band-nya yang condong ke jamming band. lebih dari sekadar satu kolaborasi yang (sudah seharusnya) bagus, yang saya dapatkan adalah bonus: album ini adalah hidangan musikal yang soulful dan mengenyangkan.

 

radiohead – the king of limbs

dengan album ini, radiohead menunjukkan bahwa mereka ada dalam posisi yang bisa melakukan apa saja dengan musiknya, dalam wujud yang sama sekali berbeda. jarang, kalaupun tak bisa dibilang nihil, band yang berani mengambil risiko untuk melakukannya. album ini mungkin saja dinilai sebagai upaya semacam itu yang tak sepenuhnya berhasil. tapi andaikata itu pun benar, daya tarik album ini tak menjadi berkurang, sebab band-band lain yang berada di tataran yang sama tak ada yang bernyali untuk melakukannya.

 

adele – 21

dengan debutnya, 19, adele sesungguhnya sudah pantas memperoleh penghargaan tertinggi musik sedunia –andaikata ada. album keduanya ini makin mengukuhkan apa yang sudah dicapainya itu: menegaskan modal kemampuan vokalnya yang seperti datang dari entah daerah mana di pedalaman mississippi atau kawasan lain di selatan amerika serikat, dengan wahana lagu-lagu yang lebih matang dan aransemen yang lebih kaya.

 

tori amos – night of hunters

ide-idenya selalu segar. kali ini dia memetik aneka tema dari karya-karya klasik di masa lalu, memperkayanya dengan gagasan-gagasannya sendiri hingga menjadi lagu-lagu utuh yang disesuaikan dengan konsep albumnya –tentang seorang perempuan yang melakukan time travel untuk “menemukan” dirinya. bonus bagi penggemar amos sejak awal: di album ini dia kembali mengandalkan piano, di samping instrumen-instrumen akustik yang lazim dalam musik klasik.

 

 

—–

 

:: yang juga asyik (urut abjad):

aka – hard beat

arena – the seventh degree of separation

bjork – biophilia

blackfield – welcome to my dna

beth hart & joe bonamassa – don’t explain

chris cornell – songbook

discipline – to shatter all accord

dream theater – a dramatic turn of events

sean filkins – war and peace & other short stories

peter gabriel – new blood

neal morse – testimony 2

slivovitz – bani ahead

symphony x – iconoclast

andy tillison diskdrive – murk

wolverine – communication lost

 

 

::artis indonesia:

tohpati bertiga – riot <<the best

luky annash – 180 derajat

gugun blues shelter – satu untuk berbagi

raksasa – raksasa

dialog dini hari – beranda taman hati

dewa budjana – dawai in paradise

angsa & serigala – angsa & serigala

morfem – indonesia

llw – love, live, wisdom

 

barangkali benar bila di negeri ini ada yang mengatakan berlebihan mengharap konser musik rock progresif bisa sold out. wishful thinking –tak bakal, bahkan di venue berkapasitas kecil sekalipun, demikian kata-kata yang biasa kita dengar.

pesimisme seperti itu bukan tak beralasan, sebenarnya. pengalaman memang menunjukkannya, malah hampir setiap kali ada event. tapi konser iii symphony di teater kecil taman ismail marzuki, jakarta, jumat lalu, justru berlawanan dengan yang sudah-sudah. teater berkapasitas sekitar 250 kursi (betul, 250 saja) itu penuh. tiket telah habis sejak beberapa waktu sebelumnya.

saya beruntung sudah memesan tiket jauh-jauh hari. dan, rupanya, keberuntungan saya berlanjut hingga konser yang diselenggarakan ninotz enterprize itu berlangsung. acara dimulai dua setengah jam setelah saya tiba di tim –agak terlalu malam, tapi, hei, ini ‘kan hari jumat. konser, yang menampilkan montecristo, imanissimo, dan kadri jimmo the prinzes of rhythm, sungguh melampaui ekspektasi.

tiga band itu, bagaimanapun, memang selayaknya mengundang minat dan rasa penasaran penggemar atau setidaknya peminat rock progresif (atau musik yang, ya, tak lurus-lurus saja, begitu). dan tentu harapannya besar. montecristo memang pendatang baru, juga kadri jimmo the prinzes of rhythm yang baru sekitar tiga tahun. tapi di dua band ini ada orang-orang yang sudah lama bergelut dalam rock progresif: fadhil indra (keyboard), kadri (vokal), hayunaji (drum), dan rifki (gitar). nama fadhil ada antara lain di discus dan makara, kadri pernah berduet dengan harry mukti di makara pada 1980-an, dan hayunaji sempat memperkuat discus. rifki juga bermain dengan makara formasi reunian, dan sebelumnya di pendulum.

satu band lainnya, imanissimo, untuk yang belum tahu, sudah beberapa kali meramaikan kegiatan musik rock progresif; pada 2004, sempat pula merilis album yang dipuji luas berjudul z’s diary. sudah beberapa lama diketahui mereka mengerjakan materi untuk album ketiga, beberapa sempat “dibocorkan” oleh frontman-nya, iman ismar (komposer, bas, vokal). sangat bisa dipahami, karenanya, bila ada di antara hadirin yang datang karena penasaran.

malam itu, di panggung berhiaskan backdrop layar besar untuk menayangkan klip-klip gambar maupun suasana dan ekspresi di panggung, montecristo membuka pergelaran dengan a romance of serendipity. buat saya, setelah beberapa kali menyaksikan mereka di panggung, ini kejutan; di luar dugaan, sebab saya tak mengira mereka akan memulai penampilan dengan lagu… romansa. tapi, dengan intro yang terasa segar dan merupakan sedikit modifikasi dari versi rekaman studionya, awal mula ini tetap terasa menggugah. (saya ingat, dari menonton dvd, bagaimana peter gabriel dengan elok membuka salah satu konsernya di italia dengan hanya bermain piano elektrik dan menyanyikan versi sederhana dari here comes the flood.)

ada masalah keseimbangan volume antarinstrumen yang mengganggu awal penampilan eric martoyo (vokal) dan kawan-kawan –fadhil (keyboard), rustam effendy (gitar), alvin anggakusuma (gitar), haposan pangaribuan (bas), dan keda panjaitan (drum). gitar terdengar lebih kencang dan seperti di depan. tapi ihwal seperti ini memang biasa terjadi di awal pertunjukan di mana pun. bisa dimaklumi.

dan untungnya eric, seperti biasa, prigel berkomunikasi. dia mengantarkan dengan baik latar belakang lagu-lagu dalam repertoar mereka. setelah lagu pembuka, menyusul celebration of birth. “ini dialog filosofis antara ayah dan anak,” kata eric. dia bercerita mengenai kekhawatirannya akan meninggal lebih dulu sebelum anaknya –yang lahir saat dia sudah berusia 41 tahun –sempat dewasa. dia berharap bisa membekali anaknya dengan kemampuan nalar sekaligus emosi. di satu bagian lirik lagunya, eric menyanyikan: “seeking knowledge from the scholars/ searching wisdom from gautama/ the magical words of khalil gibran/ and the spirit of the rising sun….”

setelah kemudian berturut-turut menyajikan clean dan ancestral land, montecristo menutup jatah waktu mereka dengan crash –lagu tentang keserakahan yang sia-sia dan berlatar belakang ambruknya bursa yang lalu membuat karam bank-bank investasi raksasa seperti lehman brothers, merrill lynch, dan aig.

imanissimo, yang naik ke panggung sesudah montecristo, bukan saja bisa mempertahankan suasana hati dan antusiasme penonton. iman, agung (keyboard), jordan (gitar), dan putra (drum) pun kian menggelembungkan kegembiraan yang meluap di dalam gedung. mereka bermain dinamis, dengan energi yang menakjubkan. setiap not, apalagi yang terdengar ganjil, terasa seperti datang dari imajinasi dan kekuatan yang tak terbayangkan.

dengan genjer-genjer ala imanissimo, mereka mengawali penampilan. “ini lagu yang kita semua pasti sudah kenal,” kata agung, yang mengenakan kostum ala karakter pembantu dalam lawakan panggung srimulat dan sejak awal tak henti-hentinya membanyol.

dia tak sepenuhnya benar, sebab tak banyak yang pernah mendengar genjer-genjer, yang, karena identik dengan propaganda partai komunis indonesia dan peristiwa g30s, mustahil diperdengarkan di zaman orde baru. tapi imanissimo sudah beberapa kali membawakannya di panggung. dan cara imanissimo “merenovasi” lagu itu sungguh memikat. pesonanya, malam itu, lebih terasa lagi berkat yuyun, yang selama ini dikenal sebagai vokalis discus. tampil sebagai tamu, yuyun melantunkan desahan, erangan, lenguhan… ya, seperti clare torry dalam the great gig in the sky.

melalui perpindahan yang sangat mulus, iman dan kawan-kawan menyambung genjer-genjer dengan happiness and sadness. ini komposisi baru yang ditulis jordan, yang bisa dilongok versi raw mixed-nya di youtube. untuk mereka yang suka lagu-lagu dengan elemen psychedelic, nomor ini dijamin merupakan ekskursi yang benar-benar memanjakan telinga. permainan jordan benar-benar efektif (demikian pula di nomor-nomor lainnya). dan duet iman dan putra sungguh kokoh menjaga ritme. agung, di samping sukses dengan banyolan-banyolannya, cekatan juga dengan bumbu-bumbu soundscape-nya.

begitulah pula yang bisa disimak saat dua komposisi lainnya, send me an angel dan z’s dream (kembali menampilkan yuyun), dimainkan. senang rasanya bisa menikmati z’s dream, dari album z’s diary, dimainkan live. (eh, sudah lama juga saya tak memasukkan imanissimo di playlist harian.)

sesudah intermezzo ala talk show yang dipandu wartawan dari zaman majalah aktuil dan gadis, bens leo, mereka lalu mengakhiri repertoar dengan echo in the distance. iman menyandarkan bas bermotif loreng macannya yang kondang itu dan menggantinya dengan alat gesek mirip tehyan, instrumen yang lazim dalam musik tradisional betawi. “ini nenek moyang tehyan,” kata iman. dan perenungan tentang segala kekacauan hidup di negeri ini, dengan vokal iman, pun mengalun.

setengah pergelaran berlangsung nyaris sempurna. barangkali karena itulah kadri merendah, ketika mulai menyapa audiens. “mungkin kami yang paling ngepop,” katanya. “progresif kok pop?”

dibandingkan dengan montecristo dan, apalagi, imanissimo, kadri jimmo the prinzes of rhythm (kjp) memang lebih easy listening. mereka memainkan musik pop, tapi dengan liukan aransemen di sana-sini; jauh dari musik pop industri yang mendominasi layar kaca. barangkali, jika mau disebut, paduan antara toto dan asia di awal debutnya. kadri punya perbandingan sendiri: “kami lebih dekat dengan musik gank pegangsaan.”

persis. gank pegangsaan adalah kelompok musik yang aktif pada akhir 1980-an, walau benih eksponennya sudah aktif menjelang akhir 1960-an. dari markas mereka, jalan pegangsaan, jakarta, berbagai musisi datang dan pergi; merekalah yang kemudian mewarnai musik indonesia sejak pertengahan 1970-an. musik yang mempengaruhi mereka terentang luas, dari pop, blues, hingga rock progresif. dari eksponen pengangsaan lahir antara lain album guruh gipsy, badai pasti berlalu, dan lomba cipta lagu remaja.

dan itulah yang meluncur berturut-turut setelah kadri, jimmo (vokal), fadhil (keyboard), rifki (gitar), ken (bas), hayunaji (drum), dan popo (keyboard), didukung debby nasution (keyboard) sebagai tamu, menyajikan duka sang bahaduri. lagu pembuka yang pernah dinyanyikan chrisye ini karya yockie suryoprayogo (liriknya ditulis junaedi salat), yang malam itu juga hadir. “ini lagu terbaik karya yockie,” kata debby, yang mengaku sengaja tak mengubah not-not piano yang dulu dimainkan yockie.

sesudah duka…, sorry to say, gantung, srikandi, maaf cinta noura, ocean half, dan indonesia memang hebat yang renyah membahana di panggung. pada srikandi, yang diciptakan bersama mantan menteri keuangan sri mulyani dan disiapkan sebagai single terbaru kjp, yuyun kembali tampil.

ketika elfonda “once” mekel, mantan vokalis dewa, naik ke panggung dan menyanyikan pelangi (dari album badai pasti berlalu) dan aku mau, mungkin ada yang mengira kjp sudah mengakhiri jatah waktunya. tapi once sesungguhnya selingan saja, meski memikat sebagian penonton, yang di antaranya terlihat ikut menyanyi. rupanya ada bagian istimewa yang disiapkan, bagian yang memang sangat pas dengan tema malam itu –rock progresif. di sinilah, di bagian menjelang ujung pergelaran, kjp membawakan repertoar berupa interpretasi mereka atas lagu-lagu dari album badai pasti berlalu.

dan mereka menyajikannya dengan cara yang menarik. debby, yang kembali ikut bermain keyboard bersama krisna prameswara, membuka tiap lagu dengan line piano versi rekaman aslinya yang dimainkan yockie. bintang tamu lainnya pada malam itu, siti chairani proehoeman, soprano yang lama bermukim di mancanegara, menyumbangkan suaranya. selain terasa lebih heavy, dengan harmoni vokal yang berlapis-lapis, lagu-lagu yang dipilih –di antaranya badai pasti berlalu dan khayalku –menjadi seperti memendarkan aura yang sama sekali baru.

aplaus penonton sulit dibendung di bagian “tribute” itu. saya tak akan heran bila beberapa orang yang sudah meninggalkan ruangan menyesal andai tahu apa yang mereka lewatkan.

tetapi kadri dan kawan-kawan menyimpan amunisi terbaiknya di bagian akhir: mereka mempersembahkan negeriku cintaku, lagu karya debby nasution dan eros djarot yang merupakan sindiran terhadap perilaku korup di negeri ini. dengan intro yang megah dan panjang, khas epik ala symphonic prog, lagu yang pernah direkam keenan nasution dalam album di batas angan-angan pada 1978 ini menutup pergelaran bukan hanya dengan dentuman. saya kira penonton pun menjadi seperti diingatkan betapa para pencoleng kekayaan negeri masih saja bercokol dan karenanya perang melawan mereka mesti terus digelorakan. liriknya antara lain menyeru: hei kaum muda masa kini/ kita berantaslah korupsi/ jangan membiarkan mereka/ menganiayai hati kita.

di jalan, dalam perjalanan pulang, lagu penutup itu terasa masih membahana di telinga. tapi benak saya sebenarnya berpikir lain: rasanya sukses konser di tim itu mestinya bisa jadi pertimbangan untuk melanjutkannya dengan pergelaran lain di tempat yang bisa menampung lebih banyak audiens.

feels free
indro hardjodikoro
2010

kapan terakhir kali kita mendengarkan fusion yang ringkas tapi menggairahkan seperti pernah begitu intens digeluti oleh casiopea atau uzeb, misalnya? rasanya sudah berabad-abad yang lewat.

album solo pertama indro hardjodikoro ini, apa pun latar belakangnya, sangat pas untuk mengisi kekosongan itu. sebagian besar dari sepuluh komposisi di dalamnya sungguh mengingatkan kita pada masa 1980-an, ketika versi yang lebih ringan dari fusion (atau jazz rock) sedang berjaya: elemen-elemen r&b, funk, dan –tentu saja –pop sangat terasa dalam adonan jazz-nya.

menyebut dengan kata “ringan” bukan berarti menggolongkan album ini ke kategori fusion yang oleh kritikus piero scaruffi, dengan sindiran tajam, disebut sebagai “musik…lembek, datar, romantis” yang dibuat oleh “musisi pas-pasan”. sama sekali bukan. di sini ada nomor balada, memang. tapi sebagai sebuah paket, album ini beratmosfer riang, playful, dan, yang terpenting, sama sekali tidak gampangan. nomor-nomor baladanya pun, yakni my angels, menyapa pagiku, dan senja, terasa sekali sangat elegan dan berkelas –dengan kontribusi gitar dari tohpati dan oele pattiselanno, dua gitaris jazz dengan reputasi yang tak terbantahkan.

untuk mewujudkan album dengan materi dan eksekusi seperti itu, indro tampaknya tahu persis harus menghimpun musisi pendukung seperti apa. sebagian dari pilihannya, harus diakui, mengandung risiko: mereka adalah pendatang-pendatang baru (lal intje makkah pada keyboards dan demas narawangsa pada drum, yang keduanya juga merupakan personel dari indro hardjodikoro trio). tapi hasilnya, sebagaimana bisa disimak di album ini, sama sekali jauh dari mengecewakan.

jika disimak seluruh nomor yang melibatkan mereka, bukan saja mereka sanggup meniti kelokan rumit unison dan entakan sinkopasi yang kerap muncul. lebih dari itu, mereka juga bisa menyusupkan roh bebunyian dan pukulan yang menghidupkan tema setiap nomor. perhatikan lal intje pada, misalnya, i like surprises, yang menonjolkan bas sekaligus sebagai instrumen untuk lead melody. atau demas pada nomor drum & bass, duel dua instrumen rhythm section yang sangat memikat.

ini album yang sesungguhnya sudah lama ditunggu-tunggu datang dari indro. kita tahu bahwa indro, salah seorang pemetik bas terbaik di negeri ini, sudah melang melintang di berbagai proyek –sebagai session musician maupun sebagai pendukung band (misalnya dia pernah memperkuat kelompok jazz progresif simak dialog). tapi, sampai sebelum album ini keluar, banyak dari penggemarnya yang hanya bisa menebak-nebak apakah indro akan menyusul tohpati, karibnya yang sudah jauh di depan dalam urusan solo.

maka, sungguh menggembirakan jika pada akhirnya indro menjawab harapan itu. dan sangat melegakan pula mengetahui betapa jawabannya merupakan satu karya yang sepertinya keluar dari situasi yang sangat bebas dan masa pemeraman yang lama serta hati-hati.

[appeared on tempo interaktif, may 1, 2010]

slash
slash
hayd records, 2009

inilah dia slash, muncul lagi dengan sebaris artis top maupun yang tak begitu terdengar di telinga orang kebanyakan. formula yang tidak lagi baru? memang. tapi, buat yang percaya bahwa pikiran itu seperti parasut (yang hanya akan berfungsi dalam keadaan terbuka), beri album solo pertama mantan gitaris guns n’ roses –band paling berbahaya sedunia (dulu) –ini kesempatan: dengarkan dengan seksama.

slash tentu berbeda dari santana. ini perlu dikemukakan jika ada yang menyodorkan fakta bahwa jalur album dengan segudang bintang tamu pernah ditempuh oleh gitaris yang mulai populer sejak ikut meramaian festival woodstock pada 1969 itu.

santana waktu itu, di tahun 1999, memerlukan resep yang jitu untuk menggairahkan kembali kariernya yang sudah loyo pada 1990-an (dia bahkan sudah tanpa kontrak sama sekali). dengan bantuan clive davis, produser yang pernah bekerja sama dengannya, dia menggandeng antara lain rob thomas (matchbox twenty), eric clapton, lauryn hill, wyclef jean, cee-lo, dan dave matthews. dan dirilislah supernatural, yang sukses besar –laku keras dan menggaet sembilan grammy awards.

lain halnya dengan slash. guns n’ roses memang sudah menjadi masa lalunya. tapi kariernya tidak sedang terjun bebas. setelah sempat merilis proyek slash’s snakepit (dengan dua album), dia ikut mendirikan velvet revolver, band yang kini entah-bagaimana-nasibnya setelah scott weiland, vokalisnya, memutuskan hengkang. ringkas kata: slash masih punya waktu dan energi untuk melanjutkan suksesnya.

album solo ini, bagaimanapun, merupakan formula untuk itu. kesannya memang bisa semata demi popularitas, sebab, terutama bagi penggemar die hard guns n’ roses, bisa jadi ini bukan tandingan bagi apa yang sudah dicapai slash bersama axl rose. tapi bukankah bisa juga kita memandangnya semata sebagai satu cara bagi slash untuk mengaudisi vokalis untuk proyek selanjutnya –semacam itulah. bukankah sebagai ide velvet revolver pernah hampir dilupakan karena tak juga mendapatkan vokalis yang cocok?

atau, bisa juga begini: inilah cara slash untuk mengelevasikan rock ke tataran arus utama –seperti penampilannya di ajang american idol, misalnya.

slash jelas tak bisa dipandang semata sebagai seorang mantan guns n’ roses. dia lebih dari itu, dan album ini adalah buktinya. di sini tampak bahwa dia tahu persis apa yang diinginkannya, apa yang dibutuhkannya untuk mencapai sesuatu sasaran. kolaborasinya dalam penulisan lagu dengan si a, si b, atau si c, atau siapa pun yang terlibat, menghasilkan rangkaian nada dalam komposisi yang memikat, bersinar, gempal, dan irresistible –barangkali kecuali pada satu-dua lagu (misalnya gotten, yang menampilkan adam levine dari maroon 5). di album ini, semua itu terasa bahkan sejak intro lagu pembuka, ghost, yang menampilkan ian astbury (vokal) dan izzy stradlin (rhythm guitar).

myles kennedy, frontman alter bridge yang pernah didesas-desuskan akan dipilih untuk menggantikan robert plant dalam reuni lanjutan led zeppellin, menyumbangkan vokalnya di dua lagu, back from cali dan starlight. semuanya berjajar setataran dengan nomor-nomor yang menampilkan jago-jago tua ozzy osbourne, iggy pop, lemmy kilmister, dan alice cooper. atau bintang baru seperti andrew stockdale (dari kelompok retro rock dari australia, wolfmother).

begitulah pula yang bisa dicapai oleh fergie. ini sebuah kejutan yang menyenangkan, terutama bagi mereka yang sulit membayangkan bahwa vokalis grup hip-hop black eyed peas ini bakal sanggup menyanyi di alam yang, ya, rock. dalam beautiful dangerous, dia bukan saja dia membuktikan bahwa dia punya potensi besar di wilayah ini, dia pun menjadikan lagu ini termasuk di antara nomor-nomor yang menonjol.

jika album ini hanya awal dari apa yang hendak diwujudkan lebih permanen oleh slash, harus dibilang ini permulaan yang sangat menjanjikan.

[appeared on tempo interaktif, april 24, 2001]

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.