Feeds:
Posts
Comments

seperti yang sudah-sudah pula, ini bukan daftar album terbaik, melainkan yang buat saya materinya sangat enjoyable, perlahan-lahan maupun segera setelah didengarkan. album-album ini, kebetulan sudah saya beli/dengarkan, hanya sebagian kecil saja dari semua rilisan tahun ini. harap maklum, kapasitas telinga dan sumber daya terbatas. daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan terbaik.

 
steven wilson
the raven that refused to sing (and other stories)

cukup lama porcupine tree tiarap. untunglah, di samping proyek-proyek kolaborasi dengan musikus lain, steven wilson memberi penggemarnya album-album solo yang kian mengukuhkan reputasinya sebagai musikus mumpuni. album solo ketiganya ini menegaskan betapa luas “bacaan” musiknya dan bagaimana secara artistik dia berhasil mengkapitalisasikan semua itu menjadi karya yang pantas berbaris bersama album-album monumental di ranah prog. napas album ini tetap psychedelic rock, dengan tema-tema muram dan depresif.

 
the custodian
necessary wasted time

album debut pendatang baru dari inggris ini memanjakan kuping penggemar prog yang kebetulan menyukai musik-musik dengan unsur instrumen akustik–barangkali juga kaum penikmat jethro tull. mereka memadukan bebunyian gitar akustik dengan synthesizer, dalam struktur lagu-lagu yang melodik, dengan bumbu aksen berupa duel-duel instrumental yang menggairahkan.

 
haken
the mountain

karya ketiga band dari london, inggris, ini menyuguhkan musik prog dengan elemen-elemen metal, jazz, folk, dan bahkan avant-garde. dari yang paling menonjol, mungkin orang bisa mendapat kesan album ini adalah percobaan mengawinkan prog dan metal dengan gaya (paduan vokal) gentle giant. coba nomor berjudul cockroach king.

 
sound of contact
dimensionaut

sebagai karya perdana–dari band yang berbasis di inggris dan didirikan oleh simon collins, putra drummer phil collins, dan david kerzner–album ini terhitung surprising. warna biru laut/langit dan gambar obyek berbentuk tanda infinity/tak berhingga pada sampulnya merupakan indikasi langsung tentang musiknya: sebuah kumpulan lagu, dengan komposisi dan aransemen yang cenderung lembut-damai, bercerita tentang perjalanan lintas dimensi dan galaksi.

 
arabs in aspic
pictures in a dream

musik di album ini bakal cocok buat mereka yang menggemari elemen retro 70-an atau, lebih spesifik, genre space rock/heavy psychedelic rock. dalam karya band dari norwegia ini banyak momen yang menyajikan bebunyian elektrik yang garang, yang sarat riff gitar yang memikat dan melodi synthesizer dan organ yang melayang-layang.

 

—–
album-album berikut ini sebagian besar tak perlu lagi diterang-terangkan. tak ada yang mengejutkan; mereka setia pada formula musik masing-masing–mapan di zona nyamannya. tapi didengarkan dengan seksama tetap saja keterlaluan jika kita sekadar terkesan, karena mestinya lebih dari itu. yang tak termasuk kelompok ini, seperti nomad (bombino), boleh dibilang menarik karena terdengar baru dan menjanjikan.

big big train – english electric pt. 2
black sabbath – 13
bombino – nomad
david bowie – the next day
deep purple – now what?!
dream theater – dream theater
the flower kings – desolation rose
gov’t mule – shout!
riverside – shrine of new generation slaves
the tangent – le sacre du travail
tedeschi trucks band – made up mind
the winery dogs – the winery dogs
—–

seperti yang sudah-sudah, ini bukan daftar album terbaik, meski bisa saja implikasinya begitu. album-album ini–yang kebetulan sudah saya beli/dengarkan, sebagian kecil saja dari semua rilisan tahun ini–termasuk yang paling membekas dalam ingatan, yang meninggalkan impresi kuat. catatan: daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan terbaik.

 

adrian adioetomo
karat & arang

enam tahun lalu, lewat album yang merupakan produk rumahan berjudul delta indonesia, adrian menunjukkan bagaimana delta blues bisa ditarik ke setting indonesia pada 1930-an, di masa kolonial belanda. setia pada tumpuan yang sama, musik blues dalam bentuk awalnya, dia bereksperimen lebih jauh: mengakomodasi idiom-idiom musik tradisional indonesia. formula barunya ini mengena juga. dengan konstruksi yang diniatkan sebagai perlawanan terhadap stereotipe blues itu, dia menyanyikan banyak hal–tentang dirinya, renungan-renungannya, juga peristiwa-peristiwa sosial dan politik di sekelilingnya.

 
budjana
joged kahyangan

mendengarkan album ini seperti membiarkan diri kita mengembara di alam relaksasi. semua komposi yang ada, lagi-lagi peleburan secara subtil antara barat dan tradisional (bali), tak mengajak kita bergegas. mungkin yang terbayang di kepala kita adalah bersantai di salah satu pojok yang jauh dari keriuhan di bali. tapi dalam tempo yang rileks itu perlahan-lahan terbangun klimaks yang selalu melegakan–nyaris merupakan pengalaman spiritual.

 
frau
happy coda

walau terkesan menapaktilasi apa yang sudah dilakukannya tiga tahun lalu lewat starlit carousel, di album keduanya ini frau (nama aslinya leilani hermiasih suyenaga) tetap saja memikat. andalannya: keterampilan bermain piano, kemampuan vokal bergaya kabaret yang memukau, dan aransemen lagu-lagu yang seperti menonjolkan drama. dibandingkan dengan yang sebelumnya, album ini malah terkesan naik kelas.

 
i know you well miss clara
chapter one

album ini rasanya akan cocok buat mereka yang sudah mulai malas mendengarkan jazz. formula musik grup asal yogya yang baru berumur kurang dari tiga tahun ini merupakan peleburan wilayah-wilayah jazz yang pernah dijelajahi, antara lain, oleh miles davis, the mahavishnu orchestra, frank zappa, dan soft machine dengan unsur-unsur musik lain yang pernah menjadi menu harian masing-masing anggotanya. ada identitas rock, progresif, psychedelic, bahkan avant-garde. harus diakui mereka berhasil mengangkat mistar pengukur pencapaian di tempat yang lebih tinggi.

 
imanissimo
happiness and sadness

melalui album ini, imanissimo menegaskan z’s diary sebagai album debut adalah satu titik yang sudah lewat; mereka memilih jalan yang sama sekali baru untuk mencapai titik baru. satu langkah yang berisiko, memang. tapi, dengan tetap mengutamakan soundscape sebagai elemen penting, dalam komposisi dan aransemen lagu-lagunya, mereka sebenarnya tak menyimpang terlalu jauh. buat yang sudah mengenal imanissimo mungkin akan mengira ini band lain. tapi tak perlu waktu lama untuk akhirnya mengakuinya sebagai imanissimo dengan misi baru.

 
simakdialog
the 6th story

musik simakdialog, sebuah peleburan antara elemen-elemen jazz barat dan musik tradisional (khususnya sunda), memeragakan, betapapun subtilnya, barangkali, kait-mengait dan saling kunci di antara unsur-unsur yang membentuknya, terutama melodi dan irama. pada ikatan erat dua hal itulah instrumen-instrumen yang digunakan, terutama instrumen tradisional seperti kendang, mengacu. melalui album ini, simakdialog menegaskan lebih lanjut formula musik yang sudah dimatangkannya sejak patahan, rekaman pertunjukan simakdialog di goethe haus, jakarta, pada 2005.

 

jazz miss clara

sesekali nama bisa mengecoh. seperti nama band dari yogyakarta ini–i know you well miss clara.

anda bisa saja mengira mereka adalah kelompok musik pop manis, mungkin sedikit rock, atau sekurang-kurangnya musik yang mudah akrab di telinga tapi sulit dikategorikan seperti yang dipilih oleh banyak band indie. tapi, sesungguhnya, band yang terdiri atas reza ryan (gitar), adi wijaya (piano), enriko gultom (bas), dan alfiah akbar (drum) ini jauh melampaui semua itu: mereka memainkan jazz, dan bukan sembarang jazz.

seakan hendak menegaskan kebenaran idiom “jangan menilai buku dari sampulnya” itu, mereka memilih wilayah jazz yang sempat dijelajah antara lain oleh miles davis, the mahavishnu orchestra, frank zappa, dan soft machine. nama-nama ini adalah para peletak fondasi, atau setidaknya yang ikut membangun, jazz dengan identitas rock, progresif, psychedelic, bahkan avant garde. reza dan kawan-kawan melebur pengaruh-pengaruh itu, membumbuinya dengan unsur-unsur lain yang mereka dengar dan pelajari, untuk menghasilkan formula musik yang nyaris tiada duanya. jika harus disebut, reza cs meramu dan menyajikan sebuah jazz yang bebas, atau progresif–begitulah jika “progresif” adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hasrat kreatif untuk terus menerobos batas-batas suatu genre.

memang tak mudah dibayangkan. lebih sulit lagi jika kita belum pernah berkenalan dengan karya-karya para pioner itu. maka, hanya ada satu cara untuk “mengalami” semua deskripsi yang mungkin dibuat untuk musik i know you well miss clara: cobalah simak album perdana mereka yang berjudul chapter one.

oleh label yang merilisnya pertama kali, moonjune records dari new york, album dengan tujuh lagu ini dipromosikan sebagai karya yang “muram dan mencekam; misterius, menegangkan, dan mengejutkan”. dari lagu pembuka berjudul open the door, see the ground, sepanjang 10-an menit, kepada kita seketika dihamparkan lanskap jazz yang bukan saja kaya variasi akor, melainkan juga seperti penuh tikungan-tikungan perubahan atmosfer, sarat mozaik nada, dan ramai dengan bombardemen peragaan teknis berkelas.

dimulai dengan dentingan piano yang mengalun liris dan cenderung kontemplatif (atau misterius, tergantung kesan siapa), dengan aksen bas yang menggiring asosiasi kita pada pukulan-pukulan gong, open the door, see the ground lalu berayun dengan karakter yang terkesan senapas dengan weather report. tak lama, sebab musik lekas berubah, menjadi lebih trengginas: reza lalu mengoyak kelembutan, “menggila” dengan permainan gitarnya yang beraura sebagaimana dipancarkan john mcLaughlin dalam proyek-proyek the mahavishnu orchestra, tapi kesannya seperti mengangkat kita ke awang-gemawang.

sepanjang durasi lagu, kita akan merasakan bagaimana momen lembut-sunyi saling bertukar, pada saat-saat yang terukur, dengan momen kukuh-riuh. secara struktur, lagu ini bagaikan bangunan cerpen, tapi dengan narasi cerita yang “ajaib”: tak sepenuhnya linear, dengan plot yang terkesan longgar tapi setiap bagian tetap sulit dihilangkan, dan terutama mengandung kejutan-kejutan tanpa henti. yang mungkin bisa membuat senang penggemar lagu-lagu berdurasi panjang adalah bagaimana, dalam aransemennya, ruang yang luas tersedia untuk berimprovisasi.

dalam hal itu peran reza dan adi sangat menonjol, terasa juga di lagu-lagu lainnya. perhatikan, misalnya, bagaimana mereka berdialog begitu subtilnya dalam conversation. atau melakukan semacam pertukaran gagasan yang berefek menghipnotis dalam reverie #2. pada pop sick love carousel, reza bahkan jitu “mencuri” karakter legato allan holdsworth; hal ini muncul lagi pada a dancing girl from planet marsavishnu named after the love.

di setiap lagu itu, mereka membetot apa pun kemungkinan dan imajinasi yang ada, lalu bersenang-senang penuh percaya diri dengan instrumen masing-masing. tentu saja, mereka bisa melakukannya dengan batas-batas ruang yang dijaga demikian baik oleh enriko dan alfiah, duet rhythm section yang kukuh. mereka memang bukan, katakanlah, pasangan ron carter dan tony williams. meski demikian, mereka bekerja sama cerdasnya untuk menghasilkan kerangka irama yang berdaging dan bernyawa.

ada dua lagu lain yang patut disebut khusus: dangerous kitchen dan, sekali lagi, a dancing girl from planet marsavishnu named after the love. di dua lagu ini dukungan nicholas combe dengan permainan saksofonnya yang seksi berperan mengangkat performans band ke tingkat yang lebih tinggi.

sulit untuk tak dibilang album ini merupakan debut yang sangat memukau. andaikan ada kekurangan pun, kita sebenarnya bisa mengatribusikannya pada kenyataan bahwa reza cs–semuanya belajar di sekolah yang sama, institut seni indonesia yogyakarta–belum lama bermain bersama. i know you well miss clara baru aktif pada 2010. tapi yang sulit ditepis adalah, bagi anda yang sudah mulai malas mendengarkan jazz, album ini termasuk di antara karya-karya mutakhir yang bisa membuat anda bergairah kembali menyalakan pemutar cakram audio di rumah dan tekun menyimak jazz sebagaimana seharusnya.

*appeared in koran tempo, november 10, 2013

menonton film konser musik tak pernah bisa semerasuk ini. atau, kalaupun ada yang sudah lebih dulu menggarap film semacam dengan canggih, apa yang disajikan sutradara nimród antal ini, metallica: through the never, adalah cara dia membumbungkan tingkat permainan.

di satu bagian, dengan mata kita seolah-olah menempel di setiap kamera yang dioperasikan di 24 sudut panggung, kita menyaksikan dari dekat secara tiga dimensi adegan ini: sejumlah kru, dengan bantuan derek, menyusun satu demi satu irisan bagian sebuah patung raksasa; begitu figur patung itu berdiri utuh, yang tak lain adalah sang dewi keadilan dalam keadaan “diperkosa”, intro …and justice for all menyeruak seksama dari pengeras suara.

di layar, james hetfield–rambut pirangnya dibiarkan pendek, tato bertebaran di leher dan lengannya–lalu terlihat menyanyi dengan intonasi tegas dan dan aura agresif, sambil memberondongkan riff “maut” dari gitarnya. “halls of justice painted green/ money talking….”

ketika lagu yang mengritik ketidakadilan sosial itu usai, dan patung sang dewi perlahan-lahan runtuh, bagian-bagiannya berserakan di panggung, tak ada hal lain yang bisa kita rasakan kecuali bahwa film sudah memasuki bagian-bagian dengan intensitas yang meninggi, mendekati klimaks. sama intensnya dengan performa hetfield dan kawan-kawan–lars ulrich, kirk hammett, dan robert trujilo; ya, mereka tergabung dalam metallica, band thrash metal paling sukses dalam sejarah musik rock. di setengah bagian film, antal meningkatkan suasana hubar-habir, menumpuk-numpukkan aneka kegaduhan di panggung–ledakan, semburan api, tiang-tiang yang roboh–dan menyengitkan sekuens anarkistis di luar panggung.

adegan-adegan yang disebut terakhir itu melibatkan trip, pemuda yang digambarkan sebagai semacam kurir, yang ditugasi mengambil sebuah tas di satu truk yang rusak. dari saat dia tiba di gedung tempat konser berlangsunglah kamera memulai film ini.

sejak awal apa yang dialami trip, termasuk perjalanannya yang ternyata semacam wisata ke neraka, sengaja dibuat berkelindan dengan apa yang berlangsung di panggung, saat hetfield dan kawan-kawan membombardemen audiens dengan lagu-lagu seperti creeping death, for whom the bell tolls, master of puppets, dan nothing else matters. itulah yang menjadikan film berdurasi 90-an menit ini bukan sekadar rekaman konser. setiap kali kamera berpindah dari dalam gedung pertunjukan ke jalanan, ke tempat trip harus menjumpai bermacam-macam kejadian aneh serta ganjil dan bahkan berusaha menyelamatkan diri dari kematian, pada lagu dengan tema situasi itulah hetfield dan kawan-kawan sedang bermain.

film ini bisa disebut sebagai klip video berformat raksasa dengan durasi yang bersifat epik. seperti kebanyakan klip video, plot cerita mengenai trip yang mengandung banyak ketidakjelasan tak seharusnya mengganggu nalar. justru itulah tampaknya yang diniatkan sejak dari gagasan: metallica adalah band yang menyanyikan sisi-sisi gelap kehidupan. kita bisa memahami semuanya hanya jika kita mengalaminya, dengan satu dan lain cara.

kalaupun hal itu masih meleset dari impresi, selepas menonton film ini, terutama versi yang diputar di teater imax, rasanya kita tetap bakal bisa yakin satu hal: sedekat dan semenarik apa pun posisi kita menyaksikan konser musik, tak ada yang bisa melampaui pengalaman ketika kita bisa mendekati para musisi persis di tempatnya di panggung, dan seakan-akan mengendus napas dan menghirup keringat mereka.

*appeared in tempo magazine, october 7, 2013.

menjadi biasa-biasa saja adalah hal terakhir dalam daftar keinginan imanissimo. aktif sejak 2001 dan sempat melahirkan album z’s diary yang dipuji sebagai karya lokal yang merayakan elemen psychedelic dalam format epik, band dari jakarta ini memilih selalu menerabas kemapanan, menentang risiko, sebagai jalan hidupnya.

banyak band yang berpendirian serupa, tentu saja; dan sikap seperti itu sesungguhnya merupakan keniscayaan dalam berkreasi, agar selalu lebih baik dan menyajikan kebaruan. tapi, dibandingkan dengan yang lain, imanissimo meyakininya mirip sufi dan menjalankannya dengan semangat spartan.

“saya dan teman-teman memang selalu bereksperimen, mencari hal baru. bisa dengan cara apa saja,” kata iman ismar, pemain bas, komposer, dan pendiri imanissimo, di jakarta, selasa dua pekan lalu.

sejak mengeluarkan z’s diary pada 2004, imanissimo dikenal sebagai kelompok progressive rock di tanah air yang mengingatkan orang pada pink floyd, ozric tentacles, atau porcupine tree, dengan musik spacey yang berpadu selaras dengan elemen-elemen heavy metal serta etnis. yang menjadi pengikat adalah permainan bebunyian atau soundscape yang melatari dan menyusupi bangunan musik utamanya. kini, sembilan tahun setelah itu, imanissimo masih menjejakkan kaki di sana. tapi apa yang sudah dicapai dengan z’s diary tak lagi menjadi panduan.

“bisa dibilang kali ini kami memulai hal yang sama sekali baru,” kata iman.

mula-mula yang memungkinkan hal itu adalah formasi yang sudah berganti sejak 2006. “ini formasi yang paling awet,” ujar iman. dengan formasi ini, menurut dia, imanissimo bisa lebih teratur menulis lagu, dan ide-idenya menjadi sama beragamnya dengan selera musik para personelnya. selain iman, band ini menghimpun pula johannes jordan (gitar), raden agung hermawan fitrianto (keyboard), dan putra prayoga (drum). semuanya sehari-hari berprofesi sebagai guru musik.

hal lain yang memastikan kebaruan itu adalah album gres berjudul happiness and sadness. dirilis resmi baru pada 13 Oktober, album yang sudah bisa diperoleh versi digitalnya via itunes store ini menonjolkan dua hal: musik yang lebih bervariasi ketimbang album pendahulunya dan keberanian iman serta kawan-kawan untuk mencoba-coba hal yang bisa jadi luput dibayangkan oleh mereka yang sudah mengenal imanissimo.

silakan simak step into nothingness, lagu kelima–dari seluruhnya sembilan–di album terbaru itu. aransemennya, yang bertumpu pada beat ala house music, dan bangunan yang khas musik elektronik dan tekno pasti terdengar seperti “salah kamar”. tapi, dalam konteks kreasi, formula yang bermula dari keisengan putra–membikin irama disko di bagian akhir lagu–ini tetap bisa dipahami, dan malah memperkaya albumnya.

“sebenarnya ini bukan hal baru. jeff beck sudah melakukannya di akhir 1990-an dan awal 2000-an,” kata iman, menyebut gitaris dari inggris itu sebagai contoh. berbeda dari beck yang khusus merekam tiga album, imanissimo hanya menyisipkan satu lagu itu saja, dengan infus soundscape yang menjadikannya tetap setarikan napas dengan konsep albumnya.

minat pada “lukisan” bebunyian itulah yang menyatukan iman dan agung–keduanya sama-sama alumnus jurusan musik institut kesenian jakarta. mereka sebenarnya perpaduan yang ganjil. “di IKJ, saya belajar gitar klasik, dan baru di imanissimo ini saya bermain musik prog[ressive rock],” kata agung. tapi, waktu kuliah, mereka berdua belajar dari guru yang sama: otto sidharta. komposer kontemporer lulusan belanda ini dikenal berkat karya-karya musik elektronik dan soundscape-nya.

wajar jika kecocokan itu menjadi bagian dari fondasi yang menopang musik imanissimo kali ini. di happiness and sadness, hal ini sudah seketika terasa di lagu pembuka, yang judulnya dipilih sebagai titel album.

ditulis oleh jordan, lagu instrumental berdurasi 5.36 menit itu seperti bab pembuka sebuah buku cerita, bagian yang lazim menjanjikan petualangan, misteri, dan kegembiraan–unsur-unsur yang diharapkan bisa menaklukkan audiens. diawali bunyi paduan suara, kemudian disusul intro musik yang ingar dan diselingi sepotong jeritan keyboard, komposisi lagu ini memuat apa saja yang bakal dijumpai, didengar, di sepanjang album: tekstur bunyi, perubahan tempo, birama ganjil, juga aneka langgam musik, termasuk idiom musik etnis.

soal bebunyian, jordan bahkan menyisipkan efek gitar yang, dalam kata-katanya, “kedengarannya busuk” di bagian kedua dari suite berjudul in prayer, satu dari dua komposisi panjang yang boleh dibilang merupakan sentral dari abumnya. bunyi itu sebenarnya lazim dipakai dalam rekaman-rekaman di akhir 1960-an dan awal 1970-an.

menurut iman, album itu mengeksplorasi tema di sekitar bahagia dan duka, hal-hal yang tak terelakkan dalam kehidupan. berbeda dengan z’s diary yang bercerita, happiness and sadness secara teknis hanyalah kumpulan lagu. tapi, seperti umumnya kelompok musik yang berfokus menghasilkan album, bukan single, imanissimo merancang kumpulan lagu-lagunya ini sebagai satu kesatuan, yang pengalaman puncak dalam menikmatinya hanya bisa dicapai jika disimak secara utuh. mirip jigsaw puzzle, barangkali: kita bisa menganggap setiap keping sebagai gambar terpisah yang berdiri sendiri, tapi ia akan lebih bermakna jika menjadi kesatuan.

dengan prinsip itu, iman dan kawan-kawan toh merasa perlu juga mendistribusikan happiness and sadness via itunes store dan outlet digital lainnya. ini diakui bisa memperluas jangkauan “peredaran”–walau di toko-toko maya orang bisa membeli ketengan per lagu, hal yang justru bertentangan dengan tujuan album. tapi, sebenarnya, “ini lebih untuk gengsi saja,” kata agung, yang bertugas menangani urusan penjualan album baru itu. “keren ‘kan album imanissimo ada di itunes?”

dari sudut pandang lain, bisa juga langkah itu dipahami sebagai bagian dari keberanian untuk selalu mencoba hal baru.

*appeared ini koran tempo, september 29, 2013

kemasan karat & arang, album kedua gitaris adrian adioetomo, tergolong kompak–model slipcase seperti kebanyakan album yang, dengan alasan apa pun, dihindarkan dari selongsong jenis jewel case yang begitu-begitu saja. tapi isinya boleh dibilang “gendut”: ada dua keping cakram di dalamnya, masing-masing ditandai sebagai bagian 1 dan bagian 2. total, kedua cakram memuat 22 lagu (termasuk lagu-lagu bonus). orang biasa menyebut album semacam ini sebagai double album. kesan yang segera timbul pada umumnya adalah ini karya serius, kalau bukan ambisius.

jangan ciut hati. bahkan jika judul lagu-lagunya mengindikasikan saratnya kandungan unsur perumpamaan, alegori, atau topik yang tak biasa-biasa saja, album yang dirilis bulan lalu ini tetap bisa dicerna. sifatnya, barangkali, semacam grower: ia butuh waktu yang cukup sebelum akhirnya bisa merasuk ke dalam diri pendengarnya dan membangkitkan pengalaman yang khas, jika bukan baru.

coba dengarkan, misalnya, hantu dalam mesin. lagu keenam di cakram 1 ini sama sekali tak bercerita tentang hantu ala film horor lokal. ini metafora tentang bagaimana rutinitas sehari-hari telah memaksa orang seperti tak punya pilihan lain, jika tak ingin ketinggalan, kecuali mengikuti saja langgam yang sudah ada. “berhenti, bahkan sebentar juga, bisa berakibat tak akan ada apa pun yang bisa dihasilkan orang,” kata adrian di sebuah kedai kopi di jakarta pusat pada kamis petang tiga pekan lalu. “rutinitas itu sudah seperti mesin.”

soal “mesin” itu mungkin akan serta-merta mengingatkan kita pada welcome to machine yang dinyanyikan pink floyd atau ghost in the machine, album the police yang diilhami buku psikologi filsafat karya arthur koestler. kedua karya ini sama-sama bersifat introspektif, juga moody. di dalamnya sarat solilokui tentang hakikat hidup manusia dan hubungannya dengan aneka institusi yang gagal berfungsi di sekitarnya; secara spesifik, pink floyd berfokus pada kritik tentang industri musik yang cuma menjadi mesin uang ketimbang forum ekspresi seni.

dengan caranya, adrian boleh dibilang menambahkan pada daftar itu sebuah refleksi yang sama relevannya. melalui liriknya, dalam irama rocksteady yang aransemen musiknya hanya terdiri atas gitar resonator/gitar akustik/lap slided electric guitar, bas elektrik, dan gong, musikus kelahiran balikpapan pada 1973 ini antara lain melantunkan: hanya tinggal kecepatan/ yang dapat menyelamatkan/ hanya tinggal yang terbentang/ satu-satunya jalan….

introspeksi memang tema utama pada bagian 1, sisi karat. adrian menjelajahi beragam topik, semuanya berkaitan dengan apa yang ada dalam batinnya, juga yang dia pikirkan. dalam mengerti, dengan adonan musik yang rapi memadukan tiupan sampelong, gitar akustik, dan ansembel cowbell, secara tak langsung dia menyoal keyakinan agama yang mengklaim paling benar dan memuja pemaksaan/kekerasan. “masa iya seperti itu. [lagu] ini tentang bagaimana saya meyakini agama,” katanya.

di bagian 2, sisi arang, adrian menghimpun hasil usaha “menelusuri psikologi-sosial di arah luar” yang dilihatnya. dia menyanyi tentang keserakahan, korupsi, komersialisasi, relasi. bisa dikatakan ini semacam komentar sosial terhadap berbagai fenomena dan peristiwa di luar diri seseorang, tapi lagi-lagi tidak dalam format narasi.

dibandingkan dengan presentasinya dalam delta indonesia, album debutnya enam tahun lalu, karat & arang bagaikan nampan berisi sajian masakan beresep serupa tapi dengan modifikasi signifikan di sana-sini. adrian masih setia dengan blues, khususnya delta blues, musik yang ditekuninya sejak masa sekolah di australia pada paruh pertama 1990-an–malah dari situlah dia bertumpu. bedanya, kali ini dia mencoba bereksplorasi melampaui stereotipe dan hal-hal yang telah menjadi klise dari musik blues. “saya mau melawan stereotipe sound blues,” katanya.

bagian dari stereotipe itu adalah instrumen: selalu dan hanya ada gitar, dengan karakter bunyi yang sudah tertentu. di album keduanya ini adrian membangun konstruksi musik beranjak dari keyakinannya bahwa blues adalah perasaan mendasar milik hampir seluruh manusia, siapa pun mereka, di mana pun mereka, apa pun keadaannya. dengan itulah dia bereksperimen melebur instrumen barat, dan bukan hanya gitar, dengan instrumen tradisional–sampelong, saluang, rebab, djembe, kendang. dia percaya blues bisa diwujudkan tanpa nada blues, melainkan juga nada atonal.

adrian masih memainkan gitar resonatornya, instrumen yang memang identik dengan blues tradisional–yang lahir pada akhir abad ke-19 di kawasan delta mississippi, amerika serikat. meski begitu, menyimak lagu-lagu dalam album karat & arang, kesan asing, bukan indonesia, sama sekali sulit diidentifikasi dan dirasakan. hal serupa sebetulnya juga berlaku untuk delta indonesia, yang menempatkan delta blues dalam setting indonesia di masa kolonial belanda, pada 1930-an. tapi ada yang lebih maju di album baru ini: adrian membebaskan diri dari pakem-pakem apa pun.

ada banyak sekali lagu yang menjadi representasi gagasan itu, hasil kolaborasi adrian sebagai penulis lagu dengan syafwin bajumi sebagai produser, diperkuat musikus independen seperti bonita adi, iman fattah, kartika jahja, dan damon koeswoyo. beberapa yang bisa disebut mesti diutamakan untuk disimak adalah sabda baru, lidah api menari, mengerti, tuan tanah, semanis penuh cumbu, gadis gerilya, ritual, dan fulan dan ayam jantan. banyak? hei, ini double album, bung.

boleh dibilang sabda baru merupakan isyarat tentang apa yang bakal didapat selanjutnya dari ekskursi sepanjang durasi dua cakram, total 105 menit. lagu yang masuk setelah versi ringkas rongsokan–satu dari tiga lagu bonus di sisi karat–berlalu ini seperti menguarkan atmosfer lagu folk dan menonjolkan entakan kaki dan tepuk tangan ramai-ramai di antara bunyi gitar akustik dan piano. tapi, untuk mereka yang suka tantangan, gadis gerilya, dengan tekstur bebunyiannya yang berlapis-lapis, barangkali akan lebih menggiurkan.

enam tahun memang waktu yang lama, jika hanya dilihat sebagai jarak antara album pertama dan album kedua. tapi, kata adrian, ada banyak gangguan yang menghambat pengerjaan. jika gangguan-gangguan itu diabaikan, apa yang bisa kita simak dari karat & arang ini–sebuah karya blues yang bukan saja “mengindonesia”, juga mengena di telinga, apalagi jika didengarkan melalui headphone–jelas membutuhkan pengerahan ikhtiar yang tak bisa sebentar.

appeared in koran tempo, july 28, 2013

now what?!
deep purple
earmusic
2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

appeared in koran tempo minggu, may 19, 2013]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,162 other followers