Feeds:
Posts
Comments

together through life
bob dylan
columbia, 2009

BobDylan_TogetherThroughLifebob dylan boleh saja dibilang sudah tua, sebab begitulah kenyataannya –tahun ini dia masuk ke usia 68. tapi simak album terbarunya ini dan rasakan kejutannya yang kesekian kali: dia terdengar jauh lebih muda.

harus diakui, dibandingkan dengan bahkan album sebelumnya (modern times, 2006), lirik yang dia tulis memang terasa belum matang, jika sulit dibilang dangkal. bukan standar dylan-lah, yang sangat berpengaruh dalam lanskap rock dan telah menjadikannya sebagai pemenang hadiah pulitzer pada 2008. performans bandnya pun tak semengkilap, misalnya, formasi impian ketika dia menggarap highway 61 revisited pada 1965 (barangkali karena rekaman album baru ini dilakukan di antara jadwal tur yang padat).

namun kekurangan-kekurangan itu sepenuhnya bisa dikompensasi oleh materi 10 lagu yang ada dan vibrasi yang dipancarkan oleh cara dylan menyanyikan semua lagu itu. dia tentu saja masih tergolong penyanyi yang barangkali suaranya tak dirindukan benar: ada unsur sengau, serak; caranya bernyanyi yang seperti malas-malasan; dan tema lagu-lagunya pun lebih sering terdengar menyengat. walau demikian, dengan menggabungkan semua elemen itu, di sini, dylan telah menciptakan jembatan yang pas untuk mengantarkan efek yang diinginkannya kepada pendengar.

efek itu adalah kesan muram, geram, tapi juga sekaligus gairah yang meluap. dengarlah dia menyanyikan larik (kata-katanya memang bisa didapatkan di lagu-lagu “pasaran”) “i love you, pretty baby/you’re the only love i’ve ever known/just as long as you stay with me/the whole world is my throne“. toh, dalam pola shuffle dengan irama seperti rumba nan mengayun, lagu pembuka berjudul beyond here lies nothin’ itu menghadirkan vokal dylan yang terdengar bagai melayangkan keperihan mendalam. di antara tiupan terompet, dia seperti mau bilang bahwa cinta dan kebersamaan merupakan dua hal yang perlu dalam kefanaan hidup.

bagaimana dylan (sebagai produser; dia menggunakan nama samaran jack frost) memilih instrumen adalah kuncinya. kesan sederhana dan kuno sangat terasa: pukulan brush stick pada snare drum, gitar distortif yang menyebarkan melodi solo bagai sengatan lebah di sana-sini, akordeon yang muncul bagai riak di permukaan air yang tenang. ada pula banjo, misalnya pada forgetful heart, yang di dalamnya dylan seperti pasrah: “all night long/i lay awake and listen to the sound of pain/the door has closed forevermore/if indeed there ever was a door.”

di track lain ada pula if you ever go to houston, nomor ala r&b bertempo pelan yang terdengar ramah di telinga, dengan akordeon yang begitu menonjol. atau i feel a change comin’ on, nomor bernapas country yang menyindir gelora perubahan di amerika serikat. dan barangkali juga it’s all good, sebuah ekspresi perasaan lega karena bisa bertahan hidup di tengah-tengah penderitaan dunia.

album ke-33 dalam diskografi musisi bernama asli robert allen zimmerman ini sebenarnya bermula dari lagu life is hard. inilah lagu yang ditulis bersama robert hunter (pernah menjadi penulis lirik grateful dead) untuk film berjudul my own love song karya sutradara prancis, olivier dahan. tapi dylan seperti menemukan energi tambahan untuk terus menulis di antara waktunya yang padat dengan jadwal tur. itulah sebabnya keberadaan album ini boleh dibilang merupakan kejutan; keterangan pers resminya saja baru ada kurang dari dua bulan sebelum tanggal rilisnya.

wajar bila suasana lagu awal itu, yang seperti membawa pendengarnya ke dunia entah di mana di masa silam, menjadi fondasi album ini. dylan, yang lagu-lagunya pada 1960-an menjadi tema gerakan hak sipil dan antiperang, tetap jauh dari ambisius. lagipula, bukankah dia sudah bukan lagi musisi di tataran arus utama (mainstream)? walau begitu, di sini dia masih sanggup menata lagu dan musik yang jangkauan artistiknya, juga gayanya, mau tak mau membuat kita mengangkat topi: bahwa dylan belum kehilangan amunisi untuk membuat kita takjub, dengan caranya yang justru tak mempedulikan kesan yang bakal timbul.

[appeared in tempo, june 22, 2009]

buat pendengarnya, musik hampir selalu merupakan solusi batin: ia bisa menjadi rekreasi, pelipur lara, dan apa pun yang membuat lega dan menyenangkan. musik yang hiruk-pikuk dan menggelegar sekalipun bisa menjadi katarsis –saluran untuk melepaskan diri dari kegelisahan dan ketegangan emosi. pendeknya, meminjam kata-kata berthold auerbach, penyair dan pengarang jerman, musik sanggup “mengusap debu kehidupan sehari-hari di dalam jiwa”.

tetapi, lebih dari itu, musik sebenarnya juga berpotensi menjadi semacam wahana yang sanggup mengelevasikan pendengarnya ke wilayah relaksasi dan inspirasi, bahkan pengalaman spiritual. keyakinan terhadap hal inilah yang menjadi fondasi bagi kategori musik yang kemudian disebut sebagai new age music.

kategori itu sama sekali tak bersifat ketat. mereka yang biasa mendengarkan dan mengikuti perkembangannya pasti tahu bahwa musik yang bisa masuk di dalamnya mungkin saja berasal dari berbagai aliran; bekakangan kategori itu bahkan bercabang-cabang meliputi pula paduan suara “spiritual” atau berbahasa kuno seperti sanskrit, latin, dan yahudi. tapi elemen yang mengikat semua aliran itu hanya ada satu: perasaan yang ditimbulkannya terhadap pendengarnya.

jika dibedah anatomi musiknya, perasaan itu timbul berkat harmoni yang pada lazimnya bersifat modal (bukan progresi akor seperti pada umumnya lagu), konsonan (bukan dissonan yang cenderung menimbulkan stres), dan bas yang cenderung berulang-ulang. selain itu, juga ada repetisi melodi yang bisa menimbulkan perasaan terhipnotis. durasi lagu bisa mencapai lebih dari 20 menit.

musik new age sebenarnya bermula dari akhir 1960-an, masa-masa ketika hasrat untuk bereksperimen begitu riuh di kalangan musisi. kita tahu, dari periode itulah lahir album-album yang, karena sifat terobosannya, kemudian menjadi all-time greatest –di antaranya sgt. pepper’s lonely hearts club band (the beatles), the piper at the gates of dawn (pink floyd), axis: bold as love (the jimi hendrix experience), in the court of the crimson king (king crimson). sebagian musisi bahkan mencoba membuat musik untuk mengasah kesadaran.

di antara mereka yang pada masa itu bereksperimen dengan bunyi dan tekstur, yang hasilnya memancarkan atmosfer rileks, adalah edgar froese dan klaus schulze. kedua musisi jerman ini pernah sama-sama bergabung dalam tangerine dream, band yang didirikan oleh froese pada 1967 dan kemudian kerap diasosiakan dengan musik new age. mereka terampil memanfaatkan synthesizer seraya memadukannya dengan instrumen akustik dan elektrik. disebut musik kosmis, karya mereka menjadi benih lahirnya musik ambient dan new age.

sejumlah nama lain mengikuti jejak mereka, tapi yang segera sulit dilupakan adalah mike oldfield. pada 1973, tahun yang dianggap sebagai periode paling dahsyat dalam sejarah musik rock saking banyaknya album bagus yang dirilis, oldfield hanyalah musisi yang kebetulan sempat berkolaborasi dengan musisi yang lain yang sudah punya nama (misalnya kevin ayers, mantan basis dan vokalis soft machine, serta kakaknya, sally oldfield). tapi dia punya demo yang setelah ditolak di sana-sini, dengan alasan tak bakal bisa dijual, diterima oleh richard branson, jutawan yang baru saja mendirikan virgin records.

demo berupa instrumental dalam dua bagian (movement) yang masing-masing berdurasi 25 menit dan 23 menit itu memang tak lazim di masanya. instrumental, dengan alat-alat musik yang tergolong jarang digunakan dalam formasi band modern, dan –tentu saja –tanpa lirik. untuk yang terakhir ini, ketika diminta membubuhkan lirik, oldfield berkata, “kalian mau lirik? kuberi kalian lirik!” dia menenggak sebotol wiski dan meminta engineer yang bertugas untuk membawanya ke studio, lalu dia berteriak sekencang-kencangnya selama sepuluh menit.

direkam pada akhir 1972 dan dirilis sebagai album pada mei 1973 dengan judul tubular bells, oldfield dengan karyanya itu secara tak langsung mengukuhkan fondasi kategori yang kemudian disebut new age (seraya pada saat yang sama dia menahbiskan keberadaan virgin records). dia memadukan aneka instrumen (yang semuanya dia mainkan sendiri) untuk membangun beragam irama, tone, kunci nada, dan harmoni, yang semuanya saling melebur mulus dan menghasilkan musik yang berlimpah-limpah nan menakjubkan –dan tentu melegakan.

pada awal 1980-an, istilah “musik new age” mulai diperkenalkan secara luas kepada publik oleh stasiun radio. toko musik dan perusahaan rekaman lalu ikut terjun ke dalam arus: mereka mencomotnya sebagai label untuk berbagai jenis musik instrumental yang non-mainstream (tapi istilah lain juga dipakai, misalnya contemporary instrumental).

kecenderungan dalam strategi pemasaran dan distribusi itu memang bisa mengecoh. tapi, bagaimanapun, ia sulit juga dielakkan. sebab, ya, itu tadi: wilayah cakupan asal-muasal dan cabang-cabang musik new age yang begitu luas. kini kita bisa saja mengelompokkan album-album enya, vangelis, kitaro, atau yanni, misalnya, ke dalam kategori new age, bergabung dengan deuter, stephen halpern, atau aeoliah. tak terlalu salah, mengingat mereka –yang sama sekali tak pernah mendeklarasikan diri sebagai musisi new age –punya karya yang sulit untuk dibantah watak new age-nya. coba simak full moon story karya kitaro, shepherd moons milik enya, atau in celebration of life-nya yanni.

bagi mereka yang tak terlalu peduli dengan penerapan syarat yang ketat untuk bisa masuk kategori itu, pastilah yang penting adalah apa yang ditimbulkan terhadap perasaannya. lebih dari sekadar rekreasi, atau hiburan, musik itu mestilah menimbulkan atmosfer damai: dari situ bisa terbit inspirasi, relaksasi, meditasi, dan bahkan pengalaman spiritual.

[appeared in u-mag, may 2009]

roll on
j.j. cale
rounder records, 2009

JJCale_RollOnsatu lagu ciptaannya, cocaine, justru populer berkat eric clapton, musisi blues dari inggris yang merekamnya untuk album slowhand pada 1977. j.j. cale, harus diakui, memang tak segemerlap clapton. dia malah cenderung penuh teka-teki. walau begitu, dia sesungguhnya merupakan figur yang tak kalah besarnya. musisi kelahiran oklahoma city, oklahoma, amerika serikat, ini dipandang sebagai simbol pengibar semangat indie yang pengaruhnya terasa hingga kini.

di albumnya yang ke-16 ini dia masih teguh berpegang pada semangat itu. tak ada keriuhan yang mengiringi peluncurannya, februari lalu–sekalipun sejumlah musisi ternama ikut tampil di studio. dan tentu saja tak ada angka raksasa yang bisa dicapai atau dilewati oleh jumlah penjualannya. tapi album ini tetap saja sulit diabaikan, apalagi dianggap sebagai karya yang tenaganya setua usianya yang sudah 70 tahun.

lagu-lagu di dalamnya mengandung semua pesona cale: ayunan irama shuffle, vokal yang terdengar seperti sedang merapalkan mantra, progresi akor sederhana, dan permainan gitarnya yang bagai timbul tenggelam. atmosfer yang muncul, yang membuat pendengarnya berada dalam suasana “duduk bersandar-dan-rileks”, cenderung malas-malasan, terasa menggetarkan.

di usianya, wajar bila di sini cale, misalnya, berefleksi seperti dalam who knew yang beraksen tiupan saksofon di belakang piano dan gitar, serta former me yang mengandung larik “i used to know a fellow, he was lighter on his feet/ just as quick as a sparrow/ that was the former me“. tapi, di luar itu, dia masih terampil menata kata, misalnya dalam cherry street. atau tekun dalam membubuhkan tambahan vokal di atas bebunyian banjo dan gitar pada strange days. juga bersamba ria pada fonda-lina. semuanya seperti setelan busana baru yang memang diukur dan dijahit khusus buat pemakainya.

satu hal yang sulit luput: mau lagu yang mana pun, yang ada sebenarnya adalah isyarat betapa cale menggarapnya dengan selera, kepedulian, dan perhatian yang luar biasa.

[appeared in tempo, may 4, 2009]

berdiri di panggung, florian ross berkomat-kamit, seperti mengatakan sesuatu. tapi tak ada suara. ya, dia sebenarnya hanya memperagakan situasi yang sedang dihadapinya: mikrofon di tangan yang ternyata belum aktif saat menyapa penonton.

dari awal penampilannya di goethe institute, jakarta, jumat dua pekan lalu itu penonton bisa segera mendapat kesan bahwa ross, pianis dan komposer jazz asal jerman, adalah seorang yang komunikatif, humoris. atau, sekurang-kurangnya dia adalah pribadi yang riang dan lepas, mengabaikan formalitas. memang begitulah adanya: dia menunjukkannya dalam gerak-gerik, cara berkomunikasi, dan juga –tentu saja –komposisi-komposisinya sepanjang hampir dua jam.

bersama dietmar fuhr (kontrabas) dan jonas burgwinkel (drum), dia membuka konser format trionya dalam rangkaian program serambi jazz itu dengan lucky for a quarter. komposisi dari album big fish & small ponds (2007) ini terasa menyegarkan sejak awal. intronya merupakan kolase bebunyian dawai piano yang “disapu” dengan jemari, petikan bebas kontrabas, dan pukulan yang cenderung dekoratif pada drum. dan ketika bagian utama tersaji penonton seperti terelevasi ke wilayah yang memancarkan kelembutan, keanggunan, dan sekaligus inteligensia.

konstruksi komposisi itu bagaikan desain yang mengutamakan ketelitian rencana: segalanya mesti dibuat sempurna sejak awal; modifikasi dan improvisasi bisa nanti tergantung situasi.

prinsip itu makin kentara pada komposisi kedua, heads up –dari album yang sama. ross begitu efektif memainkan pianonya. begitu pula bas dan drum, kuat menjadi fondasi sekaligus ornamen. atau pada bus. “saya menulisnya saat sedang berada di bus bersama anggota band saya, di meksiko, dalam perjalanan ke tujuan yang jauh,” kata ross.

yang menonjol, di hampir setiap komposisi yang dimainkan: burgwinkel memperlakukan drumnya bukan saja sebagai bagian dari rhythm section, melainkan juga instrumen yang bisa menghasilkan aksen bebunyian yang lebih luas jangkauannya. dia membutuhkan bukan hanya stick dan brush untuk itu. tangan pun menjadi alat pemukul. dan dia bermain hampir tanpa melihat instrumennya. raut mukanya berubah-ubah, tergantung tone yang mesti dihasilkan. sangat ekspresif.

florian ross, kelahiran 1972, selama ini dikenal sebagai musisi jazz yang tak mau terjebak di dalam situasi harus memilih antara kubu yang menjaga jarak dengan jalur mainstream dan mereka yang ingin melanjutkan tradisi jazz amerika serikat seotentik mungkin. kubu yang pertama memang lazim di eropa. merekalah yang menjadikan jazz eropa memiliki karakter yang tak ada dalam jazz amerika. (seperti film produksi eropa dibandingkan produksi hollywood, begitulah.)

sejak pertama kali merilis album pada 1998, ross sudah tampil dalam bermacam-macam format, dari trio hingga kuintet, juga orkestrasi hingga ensembel tiup. selama itu dia menunjukkan bahwa justru dengan menerjemahkan aspek-aspek tradisional ke dalam idiom kekinian, atau dengan kata lain mengabaikan sekat-sekat perkubuan, sebuah faset jazz yang menantang, inventif, dan senantiasa menjangkau horizon baru bisa juga dihasilkan. seraya melakukan itu, dia pun sukses merukunkan bentuk musikal yang tampak berseberangan: yang mengutamakan improvisasi dan yang mementingkan komposisi.

secara umum, dia cenderung condong ke wilayah bebunyian yang kontemplatif dan timbre yang berkesan hangat. warna-warna biru, oranye, dan terakota, seperti sering dipakai untuk menganalogikan musik ross, memang memadai.

hal itu bukan saja terasa efektif pada karya-karya orisinalnya, tapi juga komposisi standar. misalnya pada giant steps, sebuah monumen jazz karya john coltrane, komposer amerika yang memelopori gerakan free jazz pada 1950-an hingga 1960-an. versi ross dan kawan-kawan boleh dibilang sangat pas menjadi bagian dari karakter keseluruhan musik mereka. atau pada bye bye blackbird, karya komposer ray henderson dan penulis lirik mort dixon. pendek kata, dua-duanya memamerkan perpaduan instrumentasi nan dinamis dan menawan. sangat melenakan.

“kami akan menutup malam ini dengan… sampai jumpa,” kata ross, setelah kembali lagi ke panggung untuk memainkan komposisi tambahan (encore). penonton tertawa. “yang satu ini judulnya the moon has descended.”

dengan lagu itu, untuk terakhir kalinya, florian ross trio menunjukkan bahwa jazz sesungguhnya dan seharusnya memang bebas.

[appeared in tempo, april 27, 2009]

Older Posts »