Feeds:
Posts
Comments

now what?!
deep purple
earmusic
2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

appeared on koran tempo minggu, may 19, 2013]

langgam musik rpwl tak berubah sejak mereka perlahan-lahan sanggup menempa kekhasannya sendiri meski bermula dari band tribute pink floyd. akar musiknya ya tetap psychedelic/spacey floydian-like. tapi beyond man and time (2012) ini rasanya yang terbaik dari album-album yang pernah mereka rekam.

tentang ciri khas musik rpwl, dalam wawancara dengan prog sphere, pemain keyboard dan vokalis yogi lang melukiskannya begini: “…musik yang memberi anda momen menggairahkan untuk memasuki situasi pemikiran baru.”

ringkasnya: rpwl menciptakan musik yang…menggugah–dan mungkin juga mencerahkan.

tetapi, setelah lebih dari sedasawarsa, baru kali ini mereka menjadikan musiknya itu sebagai wahana untuk bercerita, tentang seseorang yang menjumpai aneka karakter yang menjadi perlambang bermacam-macam jalan hidup. betul adanya, ini concept album–sesuatu yang lazim di alam progressive rock.

topik itu terkesan berat, mungkin. tapi, berkat kemampuan band mengeksplorasi dan membangun paduan melodi yang mudah masuk ke telinga, secara keseluruhan tak ada momen yang alot dicerna. lagu-lagu yang berdurasi relatif panjang–total playing time album ini mencapai 70-an menit–terasa mengalir tanpa halangan, seperti jalan bebas hambatan yang baru dilapis aspal lagi.

2011′s favorite

keliru besar menyimpulkan 2011 sebagai tahun yang membosankan untuk musik. kecuali “radar” memang diatur hanya untuk memantau wilayah mainstream, masih banyak karya bagus yang layak disimak. hanya mereka yang malas saja yang tak menemukan apa-apa.

seperti sebelumnya, karena satu dan lain hal, tak semua rilisan tahun ini bisa saya dapatkan. dari yang masuk ke “meja redaksi”, memilih 10 album favorit juga jadi urusan sulit, karena bagus-bagus. tapi, setelah kembali menyimak secara maraton di hari-hari terakhir tahun ini, beginilah daftar saya. [catatan: kecuali disebutkan, ini tidak berdasarkan nomor urut.]

 

opeth – heritage

banyak penggemar opeth yang kecewa pada album ini (barangkali karena kurang atau malah tak terasa sama sekali death metal-nya, sebab tanpa cookie monster vocal style alias growl). tapi, maaf ya, inilah album yang saya taruh di posisi teratas dari album-album favorit saya tahun ini. sebenarnya, dengan kecenderungan opeth sejak blackwater park, ketika mereka mulai menggandeng steven wilson sebagai produser dan menggeser gaya musik, album ini harus dipandang sebagai salah satu, kalau bukan satu-satunya, arah yang logis. buat mereka yang menyukai vintage sound (i.e. mellotron, rhodes, hammond, etc.) dan sentuhan idiom jazz rock, album ini merupakan sajian yang menggairahkan hingga not terakhir: sarat selingan instrumental dan perubahan nada dasar dan akor yang rumit, serta peralihan birama yang memikat.

 

the tangent – comm

smart, witty. boleh dibilang album ini merupakan pernyataan intelektual andy tillison dan kawan-kawan: mereka mengobservasi ironi dunia komunikasi, tentang bagaimana komunikasi dipahami di masa lalu dan bagaimana prakteknya sekarang. tentu, ada cerita dalam lirik-liriknya. tapi yang tak kalah penting, dan karenanya album ini jadi bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, adalah bagaimana cerita itu melebur utuh dengan musiknya.

 

steve wilson – grace for drowning

pendiri dan penggerak utama porcupine tree ini boleh dibilang tak pernah sengaja membikin musik yang riang. di luar band utamanya itu, proyeknya banyak. semuanya, ya, begitulah: trip ke wilayah-wilayah sedih, muram. begitu pula album solo keduanya ini. mereka yang menyukai progressive rock ala king crimson, juga canterbury scene, dijamin sulit melewatkan album bertemakan kehilangan orang tercinta yang kental bebunyian vintage ini. kelam, muram, tapi juga menohok.

 

agents of mercy – the black forest

buat mereka yang, untuk sementara, kehilangan the flower kings, album ini bisa jadi obat kangen. atmosfer musiknya tak secerah the flower kings, tapi untuk mereka yang sudah akrab dengan roine stolt, terutama gaya permainan gitarnya yang sedikit banyak mengingatkan pada frank zappa, ada porsi yang cukup untuk bisa mengalami orgasme musikal.

 

steve hackett – beyond the shrouded horizon

boleh dibilang hackett adalah eks-personel genesis yang paling produktif. sejak memulai rekaman solo pada 1975, dia sudah menghasilkan lebih dari 20 album. karya mutakhirnya ini menunjukkan betapa dia tak sekadar masih menyimpan gairah meluap untuk terus bermain musik, melainkan juga perhatian pada segi artistik yang terus terjaga. album ini kaya elemen dan idiom aneka musik, barangkali karena hackett menaruh minat dan menyimak beragam musik di dunia ini.

 

warren haynes – man in motion

di sini, gitaris-penyanyi yang memperkuat gov’t mule dan the allman brothers band ini cenderung menahan permainan gitarnya dan lebih berfokus pada bagaimana menggubah lagu dan menyanyikannya. dan menariknya: album ini bukan hanya tentang blues, melainkan juga soul, balada, dan bahkan gospel. sesuatu yang berbeda ketimbang yang sudah dia lakukan, tapi dengan sentuhan terukur dan eksekusi memikat.

 

tedeschi trucks band – revelator

pasangan suami-istri derek trucks dan susan tedeschi-lah yang mula-mula menarik minat saya di proyek yang menghimpun musisi dalam jumlah yang cukup untuk menjadi satu kesebelasan ini. saya menyukai mereka berdua –tedeschi dengan solonya sebagai blues singer-songwriter, dan trucks dengan the derek trucks band-nya yang condong ke jamming band. lebih dari sekadar satu kolaborasi yang (sudah seharusnya) bagus, yang saya dapatkan adalah bonus: album ini adalah hidangan musikal yang soulful dan mengenyangkan.

 

radiohead – the king of limbs

dengan album ini, radiohead menunjukkan bahwa mereka ada dalam posisi yang bisa melakukan apa saja dengan musiknya, dalam wujud yang sama sekali berbeda. jarang, kalaupun tak bisa dibilang nihil, band yang berani mengambil risiko untuk melakukannya. album ini mungkin saja dinilai sebagai upaya semacam itu yang tak sepenuhnya berhasil. tapi andaikata itu pun benar, daya tarik album ini tak menjadi berkurang, sebab band-band lain yang berada di tataran yang sama tak ada yang bernyali untuk melakukannya.

 

adele – 21

dengan debutnya, 19, adele sesungguhnya sudah pantas memperoleh penghargaan tertinggi musik sedunia –andaikata ada. album keduanya ini makin mengukuhkan apa yang sudah dicapainya itu: menegaskan modal kemampuan vokalnya yang seperti datang dari entah daerah mana di pedalaman mississippi atau kawasan lain di selatan amerika serikat, dengan wahana lagu-lagu yang lebih matang dan aransemen yang lebih kaya.

 

tori amos – night of hunters

ide-idenya selalu segar. kali ini dia memetik aneka tema dari karya-karya klasik di masa lalu, memperkayanya dengan gagasan-gagasannya sendiri hingga menjadi lagu-lagu utuh yang disesuaikan dengan konsep albumnya –tentang seorang perempuan yang melakukan time travel untuk “menemukan” dirinya. bonus bagi penggemar amos sejak awal: di album ini dia kembali mengandalkan piano, di samping instrumen-instrumen akustik yang lazim dalam musik klasik.

 

 

—–

 

:: yang juga asyik (urut abjad):

aka – hard beat

arena – the seventh degree of separation

bjork – biophilia

blackfield – welcome to my dna

beth hart & joe bonamassa – don’t explain

chris cornell – songbook

discipline – to shatter all accord

dream theater – a dramatic turn of events

sean filkins – war and peace & other short stories

peter gabriel – new blood

neal morse – testimony 2

slivovitz – bani ahead

symphony x – iconoclast

andy tillison diskdrive – murk

wolverine – communication lost

 

 

::artis indonesia:

tohpati bertiga – riot <<the best

luky annash – 180 derajat

gugun blues shelter – satu untuk berbagi

raksasa – raksasa

dialog dini hari – beranda taman hati

dewa budjana – dawai in paradise

angsa & serigala – angsa & serigala

morfem – indonesia

llw – love, live, wisdom

 

barangkali benar bila di negeri ini ada yang mengatakan berlebihan mengharap konser musik rock progresif bisa sold out. wishful thinking –tak bakal, bahkan di venue berkapasitas kecil sekalipun, demikian kata-kata yang biasa kita dengar.

pesimisme seperti itu bukan tak beralasan, sebenarnya. pengalaman memang menunjukkannya, malah hampir setiap kali ada event. tapi konser iii symphony di teater kecil taman ismail marzuki, jakarta, jumat lalu, justru berlawanan dengan yang sudah-sudah. teater berkapasitas sekitar 250 kursi (betul, 250 saja) itu penuh. tiket telah habis sejak beberapa waktu sebelumnya.

saya beruntung sudah memesan tiket jauh-jauh hari. dan, rupanya, keberuntungan saya berlanjut hingga konser yang diselenggarakan ninotz enterprize itu berlangsung. acara dimulai dua setengah jam setelah saya tiba di tim –agak terlalu malam, tapi, hei, ini ‘kan hari jumat. konser, yang menampilkan montecristo, imanissimo, dan kadri jimmo the prinzes of rhythm, sungguh melampaui ekspektasi.

tiga band itu, bagaimanapun, memang selayaknya mengundang minat dan rasa penasaran penggemar atau setidaknya peminat rock progresif (atau musik yang, ya, tak lurus-lurus saja, begitu). dan tentu harapannya besar. montecristo memang pendatang baru, juga kadri jimmo the prinzes of rhythm yang baru sekitar tiga tahun. tapi di dua band ini ada orang-orang yang sudah lama bergelut dalam rock progresif: fadhil indra (keyboard), kadri (vokal), hayunaji (drum), dan rifki (gitar). nama fadhil ada antara lain di discus dan makara, kadri pernah berduet dengan harry mukti di makara pada 1980-an, dan hayunaji sempat memperkuat discus. rifki juga bermain dengan makara formasi reunian, dan sebelumnya di pendulum.

satu band lainnya, imanissimo, untuk yang belum tahu, sudah beberapa kali meramaikan kegiatan musik rock progresif; pada 2004, sempat pula merilis album yang dipuji luas berjudul z’s diary. sudah beberapa lama diketahui mereka mengerjakan materi untuk album ketiga, beberapa sempat “dibocorkan” oleh frontman-nya, iman ismar (komposer, bas, vokal). sangat bisa dipahami, karenanya, bila ada di antara hadirin yang datang karena penasaran.

malam itu, di panggung berhiaskan backdrop layar besar untuk menayangkan klip-klip gambar maupun suasana dan ekspresi di panggung, montecristo membuka pergelaran dengan a romance of serendipity. buat saya, setelah beberapa kali menyaksikan mereka di panggung, ini kejutan; di luar dugaan, sebab saya tak mengira mereka akan memulai penampilan dengan lagu… romansa. tapi, dengan intro yang terasa segar dan merupakan sedikit modifikasi dari versi rekaman studionya, awal mula ini tetap terasa menggugah. (saya ingat, dari menonton dvd, bagaimana peter gabriel dengan elok membuka salah satu konsernya di italia dengan hanya bermain piano elektrik dan menyanyikan versi sederhana dari here comes the flood.)

ada masalah keseimbangan volume antarinstrumen yang mengganggu awal penampilan eric martoyo (vokal) dan kawan-kawan –fadhil (keyboard), rustam effendy (gitar), alvin anggakusuma (gitar), haposan pangaribuan (bas), dan keda panjaitan (drum). gitar terdengar lebih kencang dan seperti di depan. tapi ihwal seperti ini memang biasa terjadi di awal pertunjukan di mana pun. bisa dimaklumi.

dan untungnya eric, seperti biasa, prigel berkomunikasi. dia mengantarkan dengan baik latar belakang lagu-lagu dalam repertoar mereka. setelah lagu pembuka, menyusul celebration of birth. “ini dialog filosofis antara ayah dan anak,” kata eric. dia bercerita mengenai kekhawatirannya akan meninggal lebih dulu sebelum anaknya –yang lahir saat dia sudah berusia 41 tahun –sempat dewasa. dia berharap bisa membekali anaknya dengan kemampuan nalar sekaligus emosi. di satu bagian lirik lagunya, eric menyanyikan: “seeking knowledge from the scholars/ searching wisdom from gautama/ the magical words of khalil gibran/ and the spirit of the rising sun….”

setelah kemudian berturut-turut menyajikan clean dan ancestral land, montecristo menutup jatah waktu mereka dengan crash –lagu tentang keserakahan yang sia-sia dan berlatar belakang ambruknya bursa yang lalu membuat karam bank-bank investasi raksasa seperti lehman brothers, merrill lynch, dan aig.

imanissimo, yang naik ke panggung sesudah montecristo, bukan saja bisa mempertahankan suasana hati dan antusiasme penonton. iman, agung (keyboard), jordan (gitar), dan putra (drum) pun kian menggelembungkan kegembiraan yang meluap di dalam gedung. mereka bermain dinamis, dengan energi yang menakjubkan. setiap not, apalagi yang terdengar ganjil, terasa seperti datang dari imajinasi dan kekuatan yang tak terbayangkan.

dengan genjer-genjer ala imanissimo, mereka mengawali penampilan. “ini lagu yang kita semua pasti sudah kenal,” kata agung, yang mengenakan kostum ala karakter pembantu dalam lawakan panggung srimulat dan sejak awal tak henti-hentinya membanyol.

dia tak sepenuhnya benar, sebab tak banyak yang pernah mendengar genjer-genjer, yang, karena identik dengan propaganda partai komunis indonesia dan peristiwa g30s, mustahil diperdengarkan di zaman orde baru. tapi imanissimo sudah beberapa kali membawakannya di panggung. dan cara imanissimo “merenovasi” lagu itu sungguh memikat. pesonanya, malam itu, lebih terasa lagi berkat yuyun, yang selama ini dikenal sebagai vokalis discus. tampil sebagai tamu, yuyun melantunkan desahan, erangan, lenguhan… ya, seperti clare torry dalam the great gig in the sky.

melalui perpindahan yang sangat mulus, iman dan kawan-kawan menyambung genjer-genjer dengan happiness and sadness. ini komposisi baru yang ditulis jordan, yang bisa dilongok versi raw mixed-nya di youtube. untuk mereka yang suka lagu-lagu dengan elemen psychedelic, nomor ini dijamin merupakan ekskursi yang benar-benar memanjakan telinga. permainan jordan benar-benar efektif (demikian pula di nomor-nomor lainnya). dan duet iman dan putra sungguh kokoh menjaga ritme. agung, di samping sukses dengan banyolan-banyolannya, cekatan juga dengan bumbu-bumbu soundscape-nya.

begitulah pula yang bisa disimak saat dua komposisi lainnya, send me an angel dan z’s dream (kembali menampilkan yuyun), dimainkan. senang rasanya bisa menikmati z’s dream, dari album z’s diary, dimainkan live. (eh, sudah lama juga saya tak memasukkan imanissimo di playlist harian.)

sesudah intermezzo ala talk show yang dipandu wartawan dari zaman majalah aktuil dan gadis, bens leo, mereka lalu mengakhiri repertoar dengan echo in the distance. iman menyandarkan bas bermotif loreng macannya yang kondang itu dan menggantinya dengan alat gesek mirip tehyan, instrumen yang lazim dalam musik tradisional betawi. “ini nenek moyang tehyan,” kata iman. dan perenungan tentang segala kekacauan hidup di negeri ini, dengan vokal iman, pun mengalun.

setengah pergelaran berlangsung nyaris sempurna. barangkali karena itulah kadri merendah, ketika mulai menyapa audiens. “mungkin kami yang paling ngepop,” katanya. “progresif kok pop?”

dibandingkan dengan montecristo dan, apalagi, imanissimo, kadri jimmo the prinzes of rhythm (kjp) memang lebih easy listening. mereka memainkan musik pop, tapi dengan liukan aransemen di sana-sini; jauh dari musik pop industri yang mendominasi layar kaca. barangkali, jika mau disebut, paduan antara toto dan asia di awal debutnya. kadri punya perbandingan sendiri: “kami lebih dekat dengan musik gank pegangsaan.”

persis. gank pegangsaan adalah kelompok musik yang aktif pada akhir 1980-an, walau benih eksponennya sudah aktif menjelang akhir 1960-an. dari markas mereka, jalan pegangsaan, jakarta, berbagai musisi datang dan pergi; merekalah yang kemudian mewarnai musik indonesia sejak pertengahan 1970-an. musik yang mempengaruhi mereka terentang luas, dari pop, blues, hingga rock progresif. dari eksponen pengangsaan lahir antara lain album guruh gipsy, badai pasti berlalu, dan lomba cipta lagu remaja.

dan itulah yang meluncur berturut-turut setelah kadri, jimmo (vokal), fadhil (keyboard), rifki (gitar), ken (bas), hayunaji (drum), dan popo (keyboard), didukung debby nasution (keyboard) sebagai tamu, menyajikan duka sang bahaduri. lagu pembuka yang pernah dinyanyikan chrisye ini karya yockie suryoprayogo (liriknya ditulis junaedi salat), yang malam itu juga hadir. “ini lagu terbaik karya yockie,” kata debby, yang mengaku sengaja tak mengubah not-not piano yang dulu dimainkan yockie.

sesudah duka…, sorry to say, gantung, srikandi, maaf cinta noura, ocean half, dan indonesia memang hebat yang renyah membahana di panggung. pada srikandi, yang diciptakan bersama mantan menteri keuangan sri mulyani dan disiapkan sebagai single terbaru kjp, yuyun kembali tampil.

ketika elfonda “once” mekel, mantan vokalis dewa, naik ke panggung dan menyanyikan pelangi (dari album badai pasti berlalu) dan aku mau, mungkin ada yang mengira kjp sudah mengakhiri jatah waktunya. tapi once sesungguhnya selingan saja, meski memikat sebagian penonton, yang di antaranya terlihat ikut menyanyi. rupanya ada bagian istimewa yang disiapkan, bagian yang memang sangat pas dengan tema malam itu –rock progresif. di sinilah, di bagian menjelang ujung pergelaran, kjp membawakan repertoar berupa interpretasi mereka atas lagu-lagu dari album badai pasti berlalu.

dan mereka menyajikannya dengan cara yang menarik. debby, yang kembali ikut bermain keyboard bersama krisna prameswara, membuka tiap lagu dengan line piano versi rekaman aslinya yang dimainkan yockie. bintang tamu lainnya pada malam itu, siti chairani proehoeman, soprano yang lama bermukim di mancanegara, menyumbangkan suaranya. selain terasa lebih heavy, dengan harmoni vokal yang berlapis-lapis, lagu-lagu yang dipilih –di antaranya badai pasti berlalu dan khayalku –menjadi seperti memendarkan aura yang sama sekali baru.

aplaus penonton sulit dibendung di bagian “tribute” itu. saya tak akan heran bila beberapa orang yang sudah meninggalkan ruangan menyesal andai tahu apa yang mereka lewatkan.

tetapi kadri dan kawan-kawan menyimpan amunisi terbaiknya di bagian akhir: mereka mempersembahkan negeriku cintaku, lagu karya debby nasution dan eros djarot yang merupakan sindiran terhadap perilaku korup di negeri ini. dengan intro yang megah dan panjang, khas epik ala symphonic prog, lagu yang pernah direkam keenan nasution dalam album di batas angan-angan pada 1978 ini menutup pergelaran bukan hanya dengan dentuman. saya kira penonton pun menjadi seperti diingatkan betapa para pencoleng kekayaan negeri masih saja bercokol dan karenanya perang melawan mereka mesti terus digelorakan. liriknya antara lain menyeru: hei kaum muda masa kini/ kita berantaslah korupsi/ jangan membiarkan mereka/ menganiayai hati kita.

di jalan, dalam perjalanan pulang, lagu penutup itu terasa masih membahana di telinga. tapi benak saya sebenarnya berpikir lain: rasanya sukses konser di tim itu mestinya bisa jadi pertimbangan untuk melanjutkannya dengan pergelaran lain di tempat yang bisa menampung lebih banyak audiens.

feels free
indro hardjodikoro
2010

kapan terakhir kali kita mendengarkan fusion yang ringkas tapi menggairahkan seperti pernah begitu intens digeluti oleh casiopea atau uzeb, misalnya? rasanya sudah berabad-abad yang lewat.

album solo pertama indro hardjodikoro ini, apa pun latar belakangnya, sangat pas untuk mengisi kekosongan itu. sebagian besar dari sepuluh komposisi di dalamnya sungguh mengingatkan kita pada masa 1980-an, ketika versi yang lebih ringan dari fusion (atau jazz rock) sedang berjaya: elemen-elemen r&b, funk, dan –tentu saja –pop sangat terasa dalam adonan jazz-nya.

menyebut dengan kata “ringan” bukan berarti menggolongkan album ini ke kategori fusion yang oleh kritikus piero scaruffi, dengan sindiran tajam, disebut sebagai “musik…lembek, datar, romantis” yang dibuat oleh “musisi pas-pasan”. sama sekali bukan. di sini ada nomor balada, memang. tapi sebagai sebuah paket, album ini beratmosfer riang, playful, dan, yang terpenting, sama sekali tidak gampangan. nomor-nomor baladanya pun, yakni my angels, menyapa pagiku, dan senja, terasa sekali sangat elegan dan berkelas –dengan kontribusi gitar dari tohpati dan oele pattiselanno, dua gitaris jazz dengan reputasi yang tak terbantahkan.

untuk mewujudkan album dengan materi dan eksekusi seperti itu, indro tampaknya tahu persis harus menghimpun musisi pendukung seperti apa. sebagian dari pilihannya, harus diakui, mengandung risiko: mereka adalah pendatang-pendatang baru (lal intje makkah pada keyboards dan demas narawangsa pada drum, yang keduanya juga merupakan personel dari indro hardjodikoro trio). tapi hasilnya, sebagaimana bisa disimak di album ini, sama sekali jauh dari mengecewakan.

jika disimak seluruh nomor yang melibatkan mereka, bukan saja mereka sanggup meniti kelokan rumit unison dan entakan sinkopasi yang kerap muncul. lebih dari itu, mereka juga bisa menyusupkan roh bebunyian dan pukulan yang menghidupkan tema setiap nomor. perhatikan lal intje pada, misalnya, i like surprises, yang menonjolkan bas sekaligus sebagai instrumen untuk lead melody. atau demas pada nomor drum & bass, duel dua instrumen rhythm section yang sangat memikat.

ini album yang sesungguhnya sudah lama ditunggu-tunggu datang dari indro. kita tahu bahwa indro, salah seorang pemetik bas terbaik di negeri ini, sudah melang melintang di berbagai proyek –sebagai session musician maupun sebagai pendukung band (misalnya dia pernah memperkuat kelompok jazz progresif simak dialog). tapi, sampai sebelum album ini keluar, banyak dari penggemarnya yang hanya bisa menebak-nebak apakah indro akan menyusul tohpati, karibnya yang sudah jauh di depan dalam urusan solo.

maka, sungguh menggembirakan jika pada akhirnya indro menjawab harapan itu. dan sangat melegakan pula mengetahui betapa jawabannya merupakan satu karya yang sepertinya keluar dari situasi yang sangat bebas dan masa pemeraman yang lama serta hati-hati.

[appeared on tempo interaktif, may 1, 2010]

slash
slash
hayd records, 2009

inilah dia slash, muncul lagi dengan sebaris artis top maupun yang tak begitu terdengar di telinga orang kebanyakan. formula yang tidak lagi baru? memang. tapi, buat yang percaya bahwa pikiran itu seperti parasut (yang hanya akan berfungsi dalam keadaan terbuka), beri album solo pertama mantan gitaris guns n’ roses –band paling berbahaya sedunia (dulu) –ini kesempatan: dengarkan dengan seksama.

slash tentu berbeda dari santana. ini perlu dikemukakan jika ada yang menyodorkan fakta bahwa jalur album dengan segudang bintang tamu pernah ditempuh oleh gitaris yang mulai populer sejak ikut meramaian festival woodstock pada 1969 itu.

santana waktu itu, di tahun 1999, memerlukan resep yang jitu untuk menggairahkan kembali kariernya yang sudah loyo pada 1990-an (dia bahkan sudah tanpa kontrak sama sekali). dengan bantuan clive davis, produser yang pernah bekerja sama dengannya, dia menggandeng antara lain rob thomas (matchbox twenty), eric clapton, lauryn hill, wyclef jean, cee-lo, dan dave matthews. dan dirilislah supernatural, yang sukses besar –laku keras dan menggaet sembilan grammy awards.

lain halnya dengan slash. guns n’ roses memang sudah menjadi masa lalunya. tapi kariernya tidak sedang terjun bebas. setelah sempat merilis proyek slash’s snakepit (dengan dua album), dia ikut mendirikan velvet revolver, band yang kini entah-bagaimana-nasibnya setelah scott weiland, vokalisnya, memutuskan hengkang. ringkas kata: slash masih punya waktu dan energi untuk melanjutkan suksesnya.

album solo ini, bagaimanapun, merupakan formula untuk itu. kesannya memang bisa semata demi popularitas, sebab, terutama bagi penggemar die hard guns n’ roses, bisa jadi ini bukan tandingan bagi apa yang sudah dicapai slash bersama axl rose. tapi bukankah bisa juga kita memandangnya semata sebagai satu cara bagi slash untuk mengaudisi vokalis untuk proyek selanjutnya –semacam itulah. bukankah sebagai ide velvet revolver pernah hampir dilupakan karena tak juga mendapatkan vokalis yang cocok?

atau, bisa juga begini: inilah cara slash untuk mengelevasikan rock ke tataran arus utama –seperti penampilannya di ajang american idol, misalnya.

slash jelas tak bisa dipandang semata sebagai seorang mantan guns n’ roses. dia lebih dari itu, dan album ini adalah buktinya. di sini tampak bahwa dia tahu persis apa yang diinginkannya, apa yang dibutuhkannya untuk mencapai sesuatu sasaran. kolaborasinya dalam penulisan lagu dengan si a, si b, atau si c, atau siapa pun yang terlibat, menghasilkan rangkaian nada dalam komposisi yang memikat, bersinar, gempal, dan irresistible –barangkali kecuali pada satu-dua lagu (misalnya gotten, yang menampilkan adam levine dari maroon 5). di album ini, semua itu terasa bahkan sejak intro lagu pembuka, ghost, yang menampilkan ian astbury (vokal) dan izzy stradlin (rhythm guitar).

myles kennedy, frontman alter bridge yang pernah didesas-desuskan akan dipilih untuk menggantikan robert plant dalam reuni lanjutan led zeppellin, menyumbangkan vokalnya di dua lagu, back from cali dan starlight. semuanya berjajar setataran dengan nomor-nomor yang menampilkan jago-jago tua ozzy osbourne, iggy pop, lemmy kilmister, dan alice cooper. atau bintang baru seperti andrew stockdale (dari kelompok retro rock dari australia, wolfmother).

begitulah pula yang bisa dicapai oleh fergie. ini sebuah kejutan yang menyenangkan, terutama bagi mereka yang sulit membayangkan bahwa vokalis grup hip-hop black eyed peas ini bakal sanggup menyanyi di alam yang, ya, rock. dalam beautiful dangerous, dia bukan saja dia membuktikan bahwa dia punya potensi besar di wilayah ini, dia pun menjadikan lagu ini termasuk di antara nomor-nomor yang menonjol.

jika album ini hanya awal dari apa yang hendak diwujudkan lebih permanen oleh slash, harus dibilang ini permulaan yang sangat menjanjikan.

[appeared on tempo interaktif, april 24, 2001]

scratch my back
peter gabriel
real world/virgin, 2010

berambut kelabu, jenggot (yang juga kelabu) di wajahnya, dan sosok yang memancarkan kehangatan dan kecerdasan, tampak seperti ksatria jedi, peter brian gabriel termasuk musisi yang tak pernah peduli apakah dia masih relevan atau bertambah tua. tapi coba perhatikan dengan seksama begitu karyanya muncul –yang sebenarnya makin jarang. tak bakal ada keraguan bahwa dia, dalam lanskap musik pop (dengan pengertian yang luas), telah melampaui kegemerlapan; fokusnya adalah substansi.

hal itu pulalah yang bisa dirasakan dari album terbarunya, scratch my back. dirilis pada pertengahan februari lalu, inilah album “re-make” atau cover lagu-lagu lama yang penggarapannya jauh dari kesan sekadar bersenang-senang di studio, atau semata mengisi waktu sampai kelak ada cukup materi orisinal untuk album berikutnya (kalau memang ada). hanya sedikit album semacam ini, dari begitu banyak album serupa.

walau hal itu tak mengejutkan untuk standar gabriel, semula memang sempat timbul keraguan di kalangan penggemarnya. ketika proyek penggarapannya resmi dipublikasikan, ada yang mendapatkan kesan bahwa album ini tak lebih dari gagasan sebuah tim manajemen; ada anggapan ini sebuah cara saja untuk memperkenalkan gabriel kepada generasi baru pendengar musik. dengan kata lain, ini cara untuk tetap mengukuhkan relevansi mantan vokalis grup progresif rock genesis itu.

namun wawancara gabriel dengan the quietus, sebuah website musik dan kultur pop, menjelaskan segalanya. dan apa yang dia kerjakan, bagaimana lagu-lagunya dipilih dan apa alasannya, tergambar dengan gamblang asal-muasalnya. dia sama sekali tak berniat bergabung dengan para musisi yang hanya membuat panjang daftar album cover yang, ya, begitu-begitu saja.

“saya mencoba membuat rekaman yang dewasa,” kata gabriel, kini 60 tahun, kepada the new york times. “(album) ini memperlakukan orang seakan-akan mereka sanggup mengatasi musik dan kata-kata yang sulit. ada keriangan dan kekanak-kanakan pada sejumlah karya lama saya yang tak hadir di rekaman ini.”

dalam catatan di sampul album, gabriel mengaku sudah lama ingin merekam sejumlah lagu favoritnya dan bertindak sepenuhnya hanya sebagai penafsir, bukan pencipta lagu –pekerjaan yang mendorongnya terjun ke dalam dunia musik dan mendirikan genesis pada 1967. gagasan di kepalanya adalah begini: dia berkomunikasi dengan pencipta lagu-lagu yang akan dia nyanyikan, dengan saling bertukar lagu. “anda merekam satu punyaku dan saya akan membawakan punya anda, dari situlah judulnya.” di antara yang dia pilih adalah karya-karya david bowie, paul simon, lou reed, arcade fire, dan radiohead.

namun, karena skedul yang sulit diselaraskan, gagasan yang semestinya menghasilkan dua macam rekaman itu ditangguhkan sebagian. jadi, yang bisa segera dirampungkan adalah gabriel merekam lagu-lagu yang dia pilih.

di situ, gabriel beruntung bertemu john metcalfe. dengan arranger yang telah beberapa kali bekerja dengan real world, label rekaman milik gabriel, inilah keinginan sejak awal untuk melupakan drum dan gitar bisa diwujudkan. gabriel juga menyingkirkan elemen-elemen funksoul, danworld music, yang sebenarnya sangat kuat hadir di album-albumnya yang dulu. tekadnya bulat: menyajikan setiap lagu hanya sebagai melodi dan lirik.

“saya meminta john untuk membuat aransemennya tetap sederhana, langsung tapi selalu emosional, agar lagu bisa benar-benar didengarkan dan dirasakan,” kata gabriel.

berbeda dengan proses rekaman pada umumnya, gabriel memulai justru dengan merekam vokal lebih dulu, sebagai demo –aransemen dan “pengambilan” instrumen menyusul belakangan. dia menyanyi dalam tempo perlahan, terkesan muram, cenderung berbisik. suaranya terdengar putus asa dan telanjang, naik turun bersama melodi bagaikan pelampung keselamatan. not-not rendah jadi bertambah jelas.

hasilnya bahkan seperti mengelevasikan lagu-lagu yang dipilih ke tingkat yang lebih tinggi. atau, setidaknya, ke dimensi yang sama sekali berbeda. tentang lagunya yang dipilih, the book of love, stephin merritt berkata, “mula-mula saya berpikir, ‘dia sepenuhnya telah memperlakukan lagu itu secara berbeda. tapi setelah beberapa kali mendengar saya merasa itu sungguh manis. versi saya untuk lagu itu berfokus pada humornya, dan punya dia berfokus pada rasa iba. tentu saja, jika saya bisa menyanyi seperti dia, saya tak perlu haru menjadi humoris.”

kesan seperti itu bisa dirasakan bahkan sejak lagu pertama, heroes. dan sesungguhnya aransemen untuk lagu milik david bowie, musisi yang sezaman dengan gabriel, inilah yang akhirnya menjadi tumpuan ke mana album ini akan dibawa. lagu ini tentang kepahlawanan di tengah opresi dan keputusasaan. “kami bicara tentang komposer seperti arvo part dan steve reich sebagai inspirasi, tapi ketika john datang lagi dengan draf pertama aransemennya, saya takluk dan berpikir itu salah satu aransemen string terbaik untuk lagu rock yang pernah saya dengar,” kata gabriel.

menurut dia, lagu itu dipilih sebagai pembuka karena “tanpa kendali gitar dan drum…ia menghimpun tensi yang luar biasa besar yang lalu pecah”.

dan, sebenarnya, begitulah tekanan dari album ini secara keseluruhan: seluruh lagu, terlepas dari tone dan makna aslinya, diubah menjadi melodramatis dan bahkan muram; metcalfe membubuhkan orkestra kecil dan piano. mereka yang mengikuti gabriel tentu akan teringat, paling tidak, dengan up, album sebelumnya yang dirilis pada 2002 –sepuluh tahun setelah album pendahulunya, us. tapi scratch my back, yang muncul delapan tahun setelah up, berbeda pada cara gabriel mengeksekusi vokalnya. di sini, itu tadi, dia lebih banyak berbisik, bersenandung pelan, mengayun bersama tempo yang terkadang sangat perlahan. coba dengar dia menyanyikan “you know me, i llike to dream a lot/ of what there is and what there’s not” pada the power of the heart(milik lou reed). atau pada the boy in the bubble (karya paul simon).

menyimak selusin lagu yang ada, dibandingan dengan album-albumcover kebanyakan, gabriel lebih dari sekadar jujur. dia pun sanggup memancarkan cahaya baru dari lagu-lagu yang dia pilih.

[appeared in koran tempo, march 14, 2010]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.